Ahad, 28 November 2021 / 22 Rabiul Akhir 1443 H

Nasional

Politisi Konservatif Australia Ingin Larang Burqa

Bagikan:

Hidayatullah.com—Kubu oposisi tingkat federal Australia mendukung pernyataan seorang menteri dari negara bagian Australia Barat yang menyebut burqa tidak cocok dengan kebudayaan di negeri kanguru ini dan karena itu tidak boleh dipakai.

Menteri Urusan Wanita Robyn McSweeney memicu debat kusir ketika ia secara tegas menentang burqa dan mencapnya sebagai musuh untuk gaya hidup orang Australia.
Kepada The Australian  McSweeney mengatakan, pengguna burqa adalah wanita yang sedang tertindas.

“Saya hanya akan mau bagi mereka sekali mempunyai kebebasan untuk memperlihatkan muka mereka.”

Seolah mengerti tentang Islam, Sekretaris parlemen dari oposisi untuk status wanita, Michaelia Cash, mendukung McSweeeny dengan menyebutkan bahwa burqa tidak ada hubungannya dengan agama karena Islam hanya mengajarkan kesederhanaan dan bukan untuk menutupi seluruh wajah karena hal itu dapat menutupi identitas wanita dan mengucilkannya dari masyarakat.

Namun keduanya tidak menganjurkan UU larangan burqa, hanya meminta warga Australia untuk membahasnya tentang apakah burqa layak dipakai atau tidak.

Namun senator kubu Liberal Cory Bernardi mengatakan, burqa sebagai pakaian yang mengancam keamanan. Ia termasuk yang setuju pelarangan burqa di Prancis,  di mana perempuan yang menggunakannya  akan didenda E150 ($ 205).

Bernardi, adalah salah satu politisi yang pernah mengusulkan RUU pelarangan burqa dan pernah mengatakan burqa (cadar) dapat memicu kejahatan.

Komentar Bernardi tahun 2010 itu menuai kecaman dari Perdana Menteri Kevin Rudd serta pemimpin oposisi Tony Abbott. Keduanya menilai aturan tersebut bukanlah kebijakan yang harus diambil oleh Australia saat ini.

Sementara itu, seorang muslimah di Sydney Ummu Jamaal, yang telah menggunakan burqa selama 18 tahun, mengatakan ia ingin bertemu dengan para politisi penenta ng burqa agar mereka bisa kan mengubah persepsinya.

Dia mengatakan tidak dipaksa dalam menggunakan burqa. Termasuk paksaan dari suami. Ia menggunakannya semata-mata ingin dekat dengan Allah. “Kami memakainya karena kami ingin lebih dekat dengan Tuhan,” katanya.

Seorang Menteri Australia Kate Ellis mengatakan pemerintah tidak mempertimbangkan larangan burqa meski mengakui ada perbedaan pandangan tentangnya.

Dia mengatakan pandangannya bahwa pemerintah harus mendukung pilihan seseorang dalam berpakaian dan mendorong pemahaman keanekaragaman.

Sampai hari ini, berbagai tanggapan pro dan kontra bermunculan dari para pejabat pemerintah tingkat negara bagian. Sebagian ada yang mendukung, dan sebagian ada yang menolak.*

Rep: Ibnu Sumari
Editor: Panji Islam

Bagikan:

Berita Terkait

Muhammadiyah Akan Gelar Muktamar ke-48 Secara Blended

Muhammadiyah Akan Gelar Muktamar ke-48 Secara Blended

Dirjen Bimas Islam Minta Menteri Agama Beri Perhatian Mualaf

Dirjen Bimas Islam Minta Menteri Agama Beri Perhatian Mualaf

Susunan Pengurus PBNU Diprotes Formatur

Susunan Pengurus PBNU Diprotes Formatur

Zionis Dinilai Pantas Diadili ke Mahkamah Internasional

Zionis Dinilai Pantas Diadili ke Mahkamah Internasional

Matahari akan Melintas di atas Ka’bah Ahad dan Senin, Saatnya Cek Arah Kiblat

Matahari akan Melintas di atas Ka’bah Ahad dan Senin, Saatnya Cek Arah Kiblat

Baca Juga

Berita Lainnya