Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Konflik YAPI dan ASWAJA Dinilai Telah Berlangsung Lama

Bagikan:

Hidayatullah.com–Konflik antara Aswaja dengan Pesantren Yayasan Pesantren Islam (Yapi), Pasuruan sudah berlangsung lama. Pernyataan ini disampaikan Sektretaris Aswaja, Munir Shohih. Menurut , konflik itu berawal dari perberbedaan paham di mana Aswaja menganut sunnah waj jama’ah, sedangkan Yapi beraliran Syi’ah. Perbedaan teologis itulah, kata Munir yang hingga kini memicu konflik horizontal yang tak kunjung reda.

Awalnya kata Munir, pendiri Yapi, ustadz Husein Habsyi mengaku berpaham Ahlussunah wal Jama’ah. Para ulama di Bangil pun menerima keberadaanya. Bahkan, katanya, Husein Habsyi pernah diberi kesempatan mengisi kajian di masjid. Entah kenapa, jelasnya, tiba-tiba, Husein Habsyi berubah jadi Syi’ah.

“Husein Habsyi kemudian mengirim santri-santrinya sekolah ke Iran. Semenjak itu jadi Syi’ah,” terangnya kepada hidayatullah.com.

Sekitar tahun 1985, karena kemarahan para ulama di Bangil telah terakumulasi, kemudian melakukan pengeluaran Husein Habsy dari masjid. Dan, puncaknya, kata Munir, tahun 2007, diadakan demo damai besar-besaran menegaskan bahwa Yapi adalah aliran Syi’ah dari Iran.

Sejak itu, gesekan antara Aswaja dengan Yapi pun terus terjadi. Apalagi, kata Munir, Yapi kerap melakukan dakwah paham Syi’ah ke masyarakat sekitar bahkan hingga ke kampung-kampung.

”Mereka meyebarkan buku dan VCD tentang Syi’ah,” paparnya.

Diakui Munir, dalam buku-buku yang disebarkan itu berisi tentang penyesatan terhadap ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Di antaranya, katanya, disebutkan shalat Jumat menurut mazhab ahlulu bait itu tidak wajib. Dikatakan juga, Nabi tidak berani menyampaikan ayat tentang kepemimpinan Ali setelah Nabi, kutip Munir. 

Salin itu, Yapi juga dinilai menghalalkan nikat mut’ah. “Itu semua bertentangan dengan Aswaja. Dan, sama saja melecehkan Islam,” jelasnya. 

Sementara, Ketua Yayasan Yapi, Muhsin Assegaf mengatakan, konflik itu terjadi bukan antara Sunni-Syi’ah, melainkan ada kelompok-kelompok yang melakukannya. Sebab, katanya, beberapa ormas lainnya tidak mempermasalahkan keberadaan Yapi. 

“Bukan problem sunni. Buktinya NU dan Muhammadiyah tidak masalah,” katanya kepada wartawan.

Assegaf juga mengakui jika insiden yang terjadi di pesantrennya itu merupakan rentetan kejadian lama akibat ada kelompok radikal yang menjadi penyebab. Tak jelas, siapa yang dimaksudkan ini. 

Tapi Nurcholis Musytari, mantan Wakil Ketua Syuriah NU Bangil ini, mengakui konflik itu juga dipicu karena aktivitas dakwah Yapi. 

“Kalau mereka nggak ganggu (menyebarkan paham Syi’ah), situasi kondusif akan tetap terjaga. Tapi, jika tidak, kita akan gerak. Masa harus diam saja,” ujar bekas Wkil MUI Bangil ini kepada hidayatullah.com di kediamannya.  *

Rep: Syaiful Anshor
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Usut Tuntas Kasus Kejahatan Seksual Anak di Media Sosial

Usut Tuntas Kasus Kejahatan Seksual Anak di Media Sosial

Ketum MUI: Isu “Islam Anti Kebhinnekaan” itu Menyesatkan

Ketum MUI: Isu “Islam Anti Kebhinnekaan” itu Menyesatkan

Status Ahok Belum Diputuskan, Pemuda Muhammadiyah Berharap Polisi Profesional

Status Ahok Belum Diputuskan, Pemuda Muhammadiyah Berharap Polisi Profesional

Gulai Tanpa Santan, Hidangan Lebaran di Mukomuko

Gulai Tanpa Santan, Hidangan Lebaran di Mukomuko

Ketua LDPBNU: UAS Kiai Moderat, Toleran, Pro Pancasila

Ketua LDPBNU: UAS Kiai Moderat, Toleran, Pro Pancasila

Baca Juga

Berita Lainnya