Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Berlanjut, Petinggi Adat Dayak Kecam Thamrin Tomagola

Thamrin Amal Tomagola
Bagikan:

Hidayatullah.com — Kecaman kepada sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), Prof Dr  Thamrin Amal Tomagola masih terus mengalir. Kali ini datang dari Wakil Ketua Adat Dayak Brusu Tana Tidung Provinsi Kalimantan Timur Markus Yuteng. Ia mengatakan pernyataan Thamrin Amal Tamaloga telah menyinggung perasaan etnis Dayak.

“Apa yang dilakukan Ariel itu tidak sesuai dengan norma dan adat kesusilaan. Perilaku seperti itu dalam adat kami, justru kami berantas,” kata Markus Yuteng dihubungi hidayatullah.com, Selasa (11/01).

Markus menegaskan, pihaknya sangat menyayangkan sikap dan pernyataan Thamrin dan meminta agar Thamrin meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Dayak melalui media massa.

Sebagai seorang akademisi, lanjut Markus, Thamrin tidak selayaknya mengeluarkan pernyataan di depan umum yang menyebut bersenggama tanpa diikat perkawinan adalah biasa dan itu dilakukukan sejumlah masyarakat Dayak.

“Pernyataan ini sangat melecehkan kami. Beliau harus meminta maaf secara terbuka. Etnis Dayak tidak saja ada di Kalimantan tapi ada di mana mana,” tegas Markus.

Sebagaimana diketahui, Thamrin dikecam banyak elemen masyarakat Dayak terkait pernyataannya dalam sidang artis Ariel Paterpan di Bandung (30/12) yang menyatakan bahwa video porno dengan pemeran mirip Ariel tidak meresahkan sebagian masyarakat Indonesia.

Thamrin menyebutkan bahwa dari hasil penelitiannya di Dayak, bersenggama tanpa diikat oleh perkawinan oleh sejumlah masyarakat sana sudah dianggap biasa. Malah, hal itu dianggap sebagai pembelajaran seks. Nah, maksud hati membela, eh, malah dapat petaka.

Sebelumnya, wanita Dayak Kalimantan Tengah merasa tersinggung dan dilecehkan oleh guru besar sosiologi dari Universitas Indonesia (UI) ini. Demikian disampaikan tokoh wanita Dayak yang juga anggota DPR Kalteng Tuty Dau di Palangkaraya, Ahad lalu.

Pernyataan Thamrin itu lah yang memicu keberatan dari masyarakat Dayak di Kalimantan maupun daerah lain.

“Apa yang dikatakan Prof Thamrin sangat melecehkan sekali perasaan kami selaku wanita Dayak di Kalteng. Dalam adat Dayak perilaku tidak senonoh itu sendiri tidak dibenarkan dan akan dikenakan Jipen atau denda adat,” kata Tuty Dau.

Tuty Dau mempertanyakan darimana Thamrin mendapat hasil penelitian tersebut.
 
“Di mana ada orang Dayak yang seperti itu? Kami sangat berharap Thamrin menjelaskan secara benar di hadapan masyarakat Dayak di Kalteng,” pungkas Tuty Dau. [ain/hidayatullah.com]

Rep: Ainuddin Chalik
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Jerman Ribut, Ada Alarm Tsunami Kok Korban Masih Berjatuhan

Jerman Ribut, Ada Alarm Tsunami Kok Korban Masih Berjatuhan

KPAI: Kurikulum Darurat Pandemi Sangat Dibutuhkan

KPAI: Kurikulum Darurat Pandemi Sangat Dibutuhkan

Soal Penghilangan Gelar Khalifatullah, Pengamat:  Ada Pengaruh Pluralisme

Soal Penghilangan Gelar Khalifatullah, Pengamat: Ada Pengaruh Pluralisme

IPM Nilai Pemerintah Tak Serius Hadapi MEA 2015

IPM Nilai Pemerintah Tak Serius Hadapi MEA 2015

Pemerintah Indonesia Didesak Lakukan Diplomasi Tekanan Politik atas Myanmar

Pemerintah Indonesia Didesak Lakukan Diplomasi Tekanan Politik atas Myanmar

Baca Juga

Berita Lainnya