Senin, 18 Oktober 2021 / 11 Rabiul Awwal 1443 H

Nasional

Paganagari Apresiasi Pemusnahan Kafe Maksiat

Kafe mesum yang dibakar
Bagikan:

Hidayatullah.com-Lembaga Paga Nagari provinsi Sumatera Barat,  mengapresiasi  peristiwa terbakarnya beberapa kafe di pinggiran Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Ahad dini hari, yang diduga kuat menjadi sarang kemaksiatan, seperti diberitakan laman hidayatullah.com.

Ketua Paga Nagari Sumbar, Ibnu Aqil D. Ghani  dalam keterangan persnya, Senin siang (10/1) di Padang,  menegaskan,  aksi massa tersebut merupakan wujud tanggungjawab anak-kemanakan dan anak nagari di selingkar Danau Singgkarak untuk  mamaga (melindungi) Nagari (kampung) mereka dari segala bentuk kemaksiatan. Karenanya, ia menolak disebut melakukan aksi kekerasan.

“Jangan sertamerta aktivis LSM menjustifikasinya sebagai aksi kekerasan dan main hakim sendiri. Tolong lihat dulu latarnya, penyulutnya,” ujar Drs. Ibnu Aqil menjawab hidayatullah.com.

Bahkan Ibu Aqil berpendapat,  yang harus menerima sanksi tidak hanya tempat, lokasinya saja. “Pemilik kafe dan pelaku kemaksiatan juga harus diberi sangsi  yang berat,” pintanya.

Menurut Ketua Paganagari,  hukum adat di Minangkabau, pelaku dan penyedia kemaksiatan seharusnya ‘dibuang sepanjang adat’, tak boleh tinggal  di tanah adat, dan tak boleh pula menerima pusako adat.

Aqil menegaskan, anak nagari di ranah Minang (Sumbar) wajib membersihkan nagarinya dari segala kemaksiatan yang akan mengundang azab Allah Azza wa Jalla.  Menurutnya, bumi ranah Minang, kata Aqil, baru saja diluluhlantakkan bencana gempa dahsyat.

Sadar  atau tidak, bencana itu bukanlah siklus dan fenomena alam belaka. Masyarakat Minang  yang memegang teguh komitmen adat basandi sara’, sara’ basandi kitabullah (al-Qur’an), pastilah  menghayati pesan al-Qur’an pula, bahwa betapa banyak negeri yang ditimpakan bencana, bahkan negeri itu dibalikkan Allah SWT, disebabkan penduduknya ingkar dan membiarkan kemunkaran.

Keberdaan geokrafis Sumatera Barat yang persis terletak  di atas “cincin api” jalur gempa ini, kata Aqil, tidak cukup hanya dihadapi dengan kewaspadaan yang tinggi saja. Ia harus disejalankan pula dengan upaya  bersungguh-sungguh meninggikan keimanan dan ketaqwaan.

“Zikir bersama dari tingkat provinsi hingga pelosok desa, jangan hanya karena ketakutan sesaat, pasca gempa saja. Sementara kemaksiatan, pelacuran, esek-esek, korupsi, manupilasi,  jalan terus.  [dnj/hidayatullah.com]     

Rep: D. Nurja
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Yaman Menuju Situasi Sebelum 1990 (2)

Yaman Menuju Situasi Sebelum 1990 (2)

PP Muhammadiyah: Eks Isis yang Masih WNI Harus Difasilitasi

PP Muhammadiyah: Eks Isis yang Masih WNI Harus Difasilitasi

KWPSI Diharap jadi Benteng Syari’at Islam di Aceh

KWPSI Diharap jadi Benteng Syari’at Islam di Aceh

MUI Sukabumi Bongkar Delapan Makam Keramat Palsu

MUI Sukabumi Bongkar Delapan Makam Keramat Palsu

Bupati Pamekasan: Pulau Madura Siap Terapkan Ekonomi Syariah

Bupati Pamekasan: Pulau Madura Siap Terapkan Ekonomi Syariah

Baca Juga

Berita Lainnya