Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

MMS Diimbau Pahami Perasaan Umat Beragama

Bagikan:

Hidayatullah.com–Sebuah LSM bernama Moderate Muslim Society (MMS) menuding, Jawa Barat menempati urutan tertinggi sebagai wilayah tertinggi dalam aksi intoleransi. Masyarakat di Jawa Barat juga dinilai LSM ini memiliki kesadaran bernegara yang rendah.

Laporan Moderate Muslim Society (MMS) itu dirilis dalam Laporan Toleransi dan Intoleransi tahun 2010 di Aula Paramadina Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (21/12) siang.

Ketua MMS Zuhairi Misrawi mengklaim dalam laporannya bahwa aksi intoleransi tahun 2010 meningkat 4 kali lipat dari tahun 2009 yang berjumlah 11 kasus menjadi 49 kasus. Kasus intoleransi yang terjadi di Jawa Barat sebagian besar terjadi di Bekasi, Bogor, Garut, dan Kuningan.

“Di Bekasi, semua korban kasus intoleransi adalah kalangan Kristiani, berupa penghalangan kegiatan ibadah, penyegelan rumah ibadah, dan penyerangan terhadap jemaat HKBP. Sementara di Bogor, dari 10 kasus, 7 kasus juga menimpa kalangan Kristiani terkait masalah gereja. Di Garut dan Kuningan semua korban adalah kelompok Ahmadiyah,” kata Zuhairi, yakin.

Zuhairi kembali menimpali temuannya itu, masyarakat di Jawa Barat dinilai memiliki kesadaran bernegara yang rendah. Ia mengatakan, kunci dari masalah ini adalah pemerintah harus berlaku tegas terhadap para pelaku kekerasan.

“Ketika ketidaktegasan pemerintah terus berjalan, akan ada kecurigaan di tengah masyarakat bahwa kelompok ekstrem ini sengaja dipelihara oleh pemerintah,” terang Zuhairi.

Harus Peka
Ketua Forum Ulama Umat Islam (FUUI) Bandung, Athian Ali M Da’i, mengatakan, ia bisa memahami latar belakang temuan MMS tersebut. Kata Athian, seharusnya pihak yang mencetuskan temuan itu bisa memahami perasaan orang beragama, yang keyakinannya diobok-obok.

“Pengertian toleransi bagi mereka adalah bebas sebebas-bebasnya,” kata Athian dalam perbincangan dengan Hidayatullah.com, Selasa (21/12) sore.

Sehingga, kata Athian, bagaimana pun tingginya sikap toleransi umat Islam kepada pemeluk agama lain, pasti akan selalu tetap tidak dianggap toleran. Padahal, dalam masalah aliran sesat, misalnya, lanjut dia, umat Islam sangat penuh toleransi.

“Asalkan mereka tidak mengaitkan aliran sesat mereka dengan ajaran Islam, silakan,” katanya.

Hal itu sama pula dalam masalah kristenisasi. Menurut Athian, umat Muslim sangat menghargai hak-hak penganut agama lain untuk melakukan ibadah dan juga mendirikan rumah ibadah.

Namun yang acap kali terjadi, umat Nasrani sering kali memaksakan mendirikan gereja di tengah-tengah komunitas umat Islam yang mayoritas. Sehingga Athian menilai temuan LSM MMS itu tidak adil dan sumir.

Pada faktanya, di mana pun wilayah umat Islam menjadi minoritas, mereka pun kesusahan untuk bisa mendirikan masjid. Sehingga Athian mempertanyakan siapa sebenarnya yang intoleran.

“Kepada kalangan liberal, coba pahamilah perasaan orang yang beragama,” tandasnya. [ain/www.hidayatullah.com]

Rep: Ainuddin Chalik
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Dapat Kaos “Tuhan Membusuk”, Peserta OSCAAR UINSA Diminta Pindah Kuliah

Dapat Kaos “Tuhan Membusuk”, Peserta OSCAAR UINSA Diminta Pindah Kuliah

Indonesia Tunda Sementara Ratifikasi Konvensi Anti-Teror ASEAN

Indonesia Tunda Sementara Ratifikasi Konvensi Anti-Teror ASEAN

Peringatan Kemerdekaan Jangan Hanya  Rutinitas

Peringatan Kemerdekaan Jangan Hanya Rutinitas

MUI Ternate Desak KPU & Bawaslu Tidak Utak-atik Suara Rakyat

MUI Ternate Desak KPU & Bawaslu Tidak Utak-atik Suara Rakyat

Peneliti: Orientalis Barat tak Ingin Islam Mengakar di Indonesia

Peneliti: Orientalis Barat tak Ingin Islam Mengakar di Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya