Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Menag Akan Segera Bubarkan Ahmadiyah?

Bagikan:

Hidayatullah.com—Rencana Menteri Agama  (Menag) Suryadharma Ali yang akan membubarkan  aliran Ahmadiyah, kembali disampaikan. Pernyataan ini ia sampaikan saat melepas keberangkatan calon jamaah haji asal Medan, Senin malam.

“Awalnya saya berprinsip dua alternatif, membiarkan atau membubarkan. Kedua-duanya pasti beresiko. Namun setelah melalui anjuran MUI, PBNU dan Muhammadiyah, kelompok Ahmadiyah harus dibubarkan di Indonesia,” kata  Menteri Agama, tadi malam saat melepas jamaah Kloter 1 asal Labuhan Batu, Medan.

Hanya lebih kurang 1,5 jam melepas jamaah, Menag akhirnya  bergegas balik ke Jakarta untuk menghadiri wisuda anaknya.

Menurut Menag, dirinya bukan benci keberagaman beragama, namun keberadaan Ahmadiyah tidak dapat dipertahankan lagi, bahkan menimbulkan risiko lebih besar pada masa-masa akan datang.

Kata Menag, kelompok Ahmadiyah diakuinya menganut ajaran Islam, namun  paham yang mereka anut bertentangan dengan agama Islam, sehingga merusak akidah.

 “Kalau itu terus dibiarkan akan menambah dosa di kalangan umat Islam dan menambah konflik kalangan umat yang penduduknya berjumlah lebih 90 persen beragama Islam. Makanya harus dibubarkan,” ujarnya.

Menag menegaskan, orang boleh berkata macam-macam, namun kenyataannya  Ahmadiyah itu tidak benar, banyak menyebarkan ajaran sesat dan menyesatkan umat.

Kebebasan Beragama

Pernyataan Menag ini memang bukan yang pertama. Sebelumnya,  Suryadharma Ali menegaskan, jemaah Ahmadiyah harus membubarkan diri. Suryadharma beralasan, Ahmadiyah telah bertentangan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri.

“Harusnya  Ahmadiyah segera dibubarkan. Kalau tidak dibubarkan masalahnya  akan terus berkembang,” katanya  usai mengikuti  rapat gabungan di Gedung DPR, Senayan, Senin 30 Agustus 2010.

Selain itu, menurut Suryadharma Ali, dalam SKB dengan jelas dinyatakan, ajaran Ahmadiyah tak boleh disebarluaskan karena menyimpang dari Islam. Menurutnya, aliran Ahmadiyah menyebut,  al-Quran bukan kitab terakhir.

“Juga karena prinsip nabi Muhammad bukan Nabi terakhir, sangat bertentangan dengan agama Islam. Kalau itu yang dimaksud kebebasan beragama kebablasan namanya,” katanya.

Jika prinsip Ahmadiyah ini disebut kebebasan beragama, Suryadharma mempertanyakan, bagaimana dengan hak asasi umat lain yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad merupakan Nabi terakhir.

“Siapa yang melindungi hak asasi mereka. Karena dalam kebebasan itu harus ada prinsip menghormati kebebasan orang lain. Hak ini yang harus dilindungi ketika ada sekelompok orang yang mengatakan Nabi Muhammad bukan nabi terakhir,” ujarnya. Mudah-mudahan gagasan Menag ini dapat segera dilaksanakan. [was/ti/hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Warga Trans Nabire Meneteskan Air Mata Terima Bantuan dari SAR Hidayatullah, IPSS serta Lintas Komunitas Mimika

Warga Trans Nabire Meneteskan Air Mata Terima Bantuan dari SAR Hidayatullah, IPSS serta Lintas Komunitas Mimika

Soal Tragedi Mina, Ada Usaha Memojokkan Saudi Tak Becus Urusan Haji

Soal Tragedi Mina, Ada Usaha Memojokkan Saudi Tak Becus Urusan Haji

Alwi Alatas: Buku Bagian Penting Peradaban Umat

Alwi Alatas: Buku Bagian Penting Peradaban Umat

Rektor IPB: Dekadensi Moral Tanda Kehancuran Masyarakat

Rektor IPB: Dekadensi Moral Tanda Kehancuran Masyarakat

JAT: Penutupan PP Akhfiya  dan Pengeroyokan Ustad Mirip Isu Santet 1998

JAT: Penutupan PP Akhfiya dan Pengeroyokan Ustad Mirip Isu Santet 1998

Baca Juga

Berita Lainnya