Jum'at, 28 Januari 2022 / 24 Jumadil Akhir 1443 H

Nasional

1 Oktober Hari Duka Nasional, Bukan Hari Kesaktian Pancasila

Bagikan:

Hidayatullah.com– Masyarakat Indonesia diminta tak terpedaya dengan sejarah, termasuk sejarah istilah Gerakan 30 September karena peristiwa sebenarnya  terjadi pada 1 Oktober 1965.

Pernyataan ini disampaikan pemerhati sejarah dan anggota Gerakan Nasional Patriot Indonesia,  Kol (Purn) H. Firos Fauzan  kepada hidayatullah.com, Kamis (30/9) di sela-sela konferensi pers MUI di Jakarta.

Menurutnya, penyebutan peristiwa coup PKI sebagai G-30-S merupakan “jebakan” dan penggelapan sejarah yang sebenarnya, karena dari beberapa pengakuan saksi sejarah peristiwa tersebut terjadi pada 1 Oktober 1965.

“Istilah G-30-S itu permainan dialektika Komunis untuk memanipulasi kebenaran sejarah, Pak Nasution di bukunya mengatakan peristiwa tersebut jam 4.00 wib dini hari 1 Oktober 1965, begitu juga Bung Karno menamai dengan Gestok,” ungkap Firos.

Menurut Firos Fauzan, dengan menggunakan istilah G-30-S masyarakat hanya akan mengingat peristiwa  penculikan jenderal dan gerakan militer di Jakarta, sehingga tidak menganggap peristiwa itu sebagai Kudeta yang dilakukan oleh PKI, sebagaimana  Partai Palu Arit tersebut melakukan coup dengan menculik para jenderal dan aksi di daerah-daerah dengan Dewan Revolusi-nya.

Ia juga mengatakan, 1 Oktober seharusnya diperingati sebagai “Hari Duka Nasional”, bukan sebagai “Hari Kesaktian Pancasila”, karena pada 1 Oktober 1965 massa aksi masih melakukan penuntutan pembubaran terhadap PKI.

“1 Oktober itu pengkhianatan Pancasila, bukan kesaktian Pancasila. Apa kita mau ikut-ikutan China yang merayakan 1 Oktober sebagai Hari Kemenangan? hati-hati, ini permainan dialektika manipulasi sejarah,” paparnya.

“Kan kita tahu tanggal 1 Oktober ’65 PKI belum bubar, bahkan sampai 1 Januari 1966 Tritura masih menuntut pembubaran PKI. Pada saat itu Pancasila tidak mampu membubarkan PKI,” tambahnya.

Menurutnya kembali, Komunis sangat senang bermain dialektika sejarah, sehingga menempatkan tema peristiwa berbeda dengan konteks peristiwa sebenarnya yang akan menyebabkan kekaburan sejarah.

“Mereka (Komunis, red) memang senang main thesa-antithesa. Kalau temanya tidak sesuai dengan peristiwa sejarah sebenarnya, nanti bisa timbul keraguan bagi generasi selanjutnya yang tidak tahu sejarah sebenarnya. Itu yang diharapkan mereka,” tegas Firos yang juga merupakan pengamat Komunisme ini.

Lebih jauh, ia mengatakan,  jika bangsa Indonesia menyebut 1 Oktober sebagai “Hari Kesaktian Pancasila” dengan menaikkan bendera satu tiang penuh, itu sama saja Indonesia telah berkiblat ke RRC yang merayakan 1 Oktober sebagai “Hari Kemenangan Revolusi Rakyat.”

“Ini memang ada kesengajaan sistematis, “ ujarnya menutup pembicaraan. [bil/hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

MUI: Tinta Cetak Juga Perlu Difatwa Halal dan Suci

MUI: Tinta Cetak Juga Perlu Difatwa Halal dan Suci

Tolak Normalisasi, MUI: Indonesia Harus Tetap Konsisten Melawan Penjajahan ‘Israel’

Tolak Normalisasi, MUI: Indonesia Harus Tetap Konsisten Melawan Penjajahan ‘Israel’

Koalisi Masyarakat Sipil Dorong Kasus Penyerangan Novel Ditangani Tim Independen

Koalisi Masyarakat Sipil Dorong Kasus Penyerangan Novel Ditangani Tim Independen

Ramadhan, ACT Kembali Kirim Tim Relawan ke Rohingya

Ramadhan, ACT Kembali Kirim Tim Relawan ke Rohingya

Penembakan 6 Laskar HRS, Komnas HAM Minta Keterangan Tambahan kepada Polisi Hari Ini

Penembakan 6 Laskar HRS, Komnas HAM Minta Keterangan Tambahan kepada Polisi Hari Ini

Baca Juga

Berita Lainnya