Jum'at, 21 Januari 2022 / 17 Jumadil Akhir 1443 H

Nasional

Teknologi Nuklir Indonesia Cukup Maju di Asia

Bagikan:

 Hidayatullah.com–Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menilai penerapan teknologi nuklir di bidang kesehatan di Indonesia tergolong cukup maju di Asia. Hal ini dikarenakan banyaknya tenaga  ahli yang ada   serta peralatan yang dimiliki tergolong cukup mutakhir.
 “Peralatan nuklir yang dimiliki Indonesia tidak kalah dengan Korea serta beberapa negara lainnya,” kata Reyad Kamel, Programme Management Officer International Atomic Energy Agency (IAEA), di sela-sela Workshop Asia Pacific Good Manufactur.
 Indonesia juga dianggap telah cukup lama dan berpengalaman dalam memanfaatkan aflikasi teknologi nuklir di bidang kesehatan. Dalam pengamatan IAEA dalam pemanfaatan teknologi nuklir tersebut belum ditemui keluhan berarti dari masyarakat.
 Sementara itu Kepala Badan Tenaga  Nuklir Nasional (BATAN), Hudi Hastowo, mengatakan kemampuan para ahli nuklir Indonesia sudah diakui secara internasional. Contohnya, selama ini negara Jepang selalu mengimpor radioisotop produk PT Batan Teknologi untuk kebutuhan beberapa rumah sakitnya.

Aflikasi  radioisotop untuk bidang kesehatan di Indonesia sebenarnya sudah cukup lama dilakukan. Hanya saja banyak masyarakat yang belum mengetahui penerapan teknologi nuklir untuk bidang kesehatan itu.

“Contohnya, jika orang yang terkena kanker biasanya disinar dengan menggunakan bahan radiosiotop. Jadi sebenarnya masyarakat kita sudah akrab dengan hasil teknologi nuklir hanya saja mereka belum memahminya,” tambah Hudi yang didampingi Kepala Badan POM Koestantina.

Namun untuk kedepan aflikasi Iptek nuklir dibidang kesehatan akan diawasi lebih ketat dengan melibatkan Badan POM. Sebab penggunaan radioisotop tidak lagi terbatas untuk penggunaan diluar tubuh tetapi ada juga yang dimasukan kedalam tubuh.

“Makanya ke depan kamipun akan mengikuti ketentuan CPOB yang diawasi Badan POM dalam menghasilkan produk kesehatan.”

Kepala Badan POM, Koestantina, mengakui selama ini pihaknya belum menerima keluhan dari masyarakat soal adanya dampak negative dari aflikasi radio farmaka. Hal ini terjadi karena pemanfaatan radio isotop yang dihasilkan Batan telah diawasi sangat ketat oleh Bapeten.

Workshop  Asia Pasific GOOD Manufactur kali ini diikuti 22 negara antara lain Korea, China, Libia, Siria, Philipina, Singapura, dan bebarapa Negara lainnya. Tujuan pertemuan antara lain untuk menyeragamkan standar acuan penggunaan radioisotop untuk bidang kesehatan.[pos/hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Palestina Akan Gelar Pemilu, Indonesia Diminta Hadir Mendorong Rekonsiliasi Hamas-Fatah

Palestina Akan Gelar Pemilu, Indonesia Diminta Hadir Mendorong Rekonsiliasi Hamas-Fatah

Subsidi Listrik PLN

YLKI Usulkan Tarif Listrik Diturunkan, Ringankan Dampak Covid-19

afirmasi guru honorer

Mendikbud Komitmen Terus Dorong Program Merdeka Belajar di Tahun 2021

Sambut Ramadhan, GPR Gelar Tabligh Akbar di LP Khusus Anak

Sambut Ramadhan, GPR Gelar Tabligh Akbar di LP Khusus Anak

Mengembalikan LGBT ke Fitrah dengan Penguatan Nilai Moral-Agama

Mengembalikan LGBT ke Fitrah dengan Penguatan Nilai Moral-Agama

Baca Juga

Berita Lainnya