Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Pemilihan Ketua Umum Tanfidziah PBNU Dipercepat

Bagikan:

Hidayatullah.com–Pelaksanaan pemilihan Ketua Umum Tanfidziah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-32 NU di Makassar dipercepat sehari dari jadwal semula.

Panitia Bidang Media dan Dokumentasi Muktamar Muhammad Rusli, di Makassar, Kamis, mengatakan, awalnya pemilihan akan berlangsung pada Sabtu (27/3). Namun, panitia akhirnya memutuskan melaksanakannya pada Jumat (26/3) karena beberapa agenda sudah selesai dilaksanakan.

Kendati jadwal pemilihan Ketua Umum Tanfidiziah PBNU dipercepat, Rusli belum bisa memastikan jadwal pemilihan Rais Aam Dewan Syuriah PBNU juga akan dimajukan. Jadwal pemilihan rais aam sendiri baru akan diputuskan pada Kamis malam.

Sementara itu, Ketua Panitia Muktamar Hafidz Usman mengatakan, penutupan muktamar ada kemungkinan juga dipercepat. Seharusnya kegiatan tersebut berlangsung Minggu (28/3), namun akhirnya diputuskan pada Sabtu (27/3). “Ini dilakukan karena kebanyakan peserta sudah memesan tiket pulang pada Minggu pagi,” ujarnya.

Akibat percepatan itu, kata dia, sejumlah agenda muktamar terpaksa dipadatkan. Misalnya, setelah pemilihan Ketua Umum PBNU dan Rais Aam PBNU, acara langsung dilanjutkan dengan penutupan muktamar.

Menanggapi adanya tudingan intervensi dari luar terhadap pemilihan pucuk pimpinan PBNU, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyatakan, hal itu harus dibuktikan.

Sebelumnya, anggota F-PKB DPR Lily Chodijah Wahid, Ketua PBNU Masdar Farid Masudi, dan kalangan muda NU menduga kuat adanya intervensi kekuasaan dalam Muktamar NU.

Menurut Hasyim Muzadi, dalam pengamatannya selama berlangsung muktamar, tidak ada sesuatu yang aneh yang menunjukkan adanya intervensi.

“Bagi saya, jalannya Muktamar NU ini masih normal-normal saja. Kalau ada pejabat negara dan tamu-tamu negara yang datang ke muktamar, ya, monggo saja, tapi jangan langsung dicurigai ada intervensi,” katanya.

Sementara itu, sejumlah calon Ketua Umum PBNU tampak mulai mencari dukungan dari peserta muktamar (muktamirin). Salahuddin Wahid, misalnya, bertemu dengan sejumlah pimpinan NU daerah dan menyatakan siap memimpin NU.

Sementara itu, Slamet Effendy Yusuf merasa optimistis mampu meraih dukungan suara sekitar 70 persen. “Saya optimistis meraih dukungan suara 70 persen dengan kalkulasi dukungan dari sejumlah daerah, khususnya Sulawesi sudah memberikan sinyal dukungan,” katanya.

Menurut dia, kompetensinya untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU tidak terlepas dari sejumlah pengalaman. Di antaranya berkecimpung di ormas Islam NU dan pernah menjadi legislator DPR hingga 2009.

Ahmad Bagdja juga optimistis akan terpilih menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar Ke-32 NU di Makassar. “Saya yakin dapat dukungan besar. Saya rasakan dukungan kepada saya makin besar, meski saya muncul sebagai kandidat paling belakang,” kata Bagdja.

Tokoh yang sudah menyatakan siap maju mencalonkan diri adalah Said Aqil Siradj, Salahuddin Wahid, Masdar F Masudi, Ali Maschan Moesa, Slamet Effendy Yusuf, dan Ulil Abshar Abdalla.

Sementara itu, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), KH Ma’ruf Amin, menyatakan bersedia menjadi rais aam atau pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama (NU). “Jika memang diberi amanat, saya siap,” kata Ma’ruf.

Bahkan, jika terpilih sebagai Rais Aam NU dan diharuskan mengundurkan diri dari Wantimpres, salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menyatakan siap melakukannya.

Ketika ditanya tentang tudingan adanya intervensi kekuasaan terhadap muktamar, terutama menyangkut suksesi kepemimpinan NU, Ma’ruf menyatakan kemungkinan itu bisa saja ada. Yang jelas, menurut Ma’ruf, hubungan NU dengan pemerintah harus tetap dijaga, tentunya bukan dalam arti hegemoni-kooptasi.

Rois Syuriah

Sementara itu, jika muktamar sebelumnya dinamika terjadi saat pemilihan Ketua Umum PBNU, kini justru perebutan Rois Syuriyah NU menjadi kunci pertarungan perebutan kursi Ketua Umum PBNU.

Setidaknya hingga hari ketiga Muktamar ke 32 NU di Makassar telah empat nama yang siap maju menjadi Rois Aam yaitu KH Sahal Mahfud, KH Hasyim Muzadi, KH Maemun Zubair, dan KH Ma’ruf Amin. Padahal, jauh sebelum muktamar digelar, hanya terdapat dua nama yang muncul ke publik yaitu KH Sahal Mahfud dan KH Hasyim Muzadi. [antara/hid/www.hidayatullah.com] 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Karhutla, PKS Serukan Shalat Istisqa & Mobilisasi Bantuan Nasional

Karhutla, PKS Serukan Shalat Istisqa & Mobilisasi Bantuan Nasional

Syafiq: MUI Sedang Mengkaji Keterkaitan Gafatar Dengan Moshaddeq

Syafiq: MUI Sedang Mengkaji Keterkaitan Gafatar Dengan Moshaddeq

LGBT Dinilai Tak Bisa Berlindung di balik Privasi

LGBT Dinilai Tak Bisa Berlindung di balik Privasi

Jenazah Pelajar Indonesia Meninggal Tenggelam di Mesir Dipulangkan Jumat ini

Jenazah Pelajar Indonesia Meninggal Tenggelam di Mesir Dipulangkan Jumat ini

Masjid At-Tanwir, Masjid Ramah Lingkungan yang Baru Saja Diresmikan Muhammadiyah

Masjid At-Tanwir, Masjid Ramah Lingkungan yang Baru Saja Diresmikan Muhammadiyah

Baca Juga

Berita Lainnya