Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

LM3: Aneh Jika Ada Umat Islam Menolak Fatwa Haram Merokok

Bagikan:

Hidayatullah.com–Arus dukungan terhadap fatwa haram merokok yang dikeluarkan Majelis Tarjih Muhammadiyah terus mengalir. Kali ini dari Ketua Bidang Penyuluhan dan Pendidikan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), Fuad Baradja.

Menurut Fuad Baraja, fatwa haram merokok bisa menyelamatkan umat manusia.

“Fatwa haram merokok yang dikeluarkan Muhammadiyah sangat bagus. Bentuk lompatan ke depan yang luar biasa,” terangnya.

Kepada hidayatullah.com ketika ditemui di Surabaya, dia mengatakan, fatwa haram merokok setidaknya bisa menyadarkan masyarakat akan bahaya rokok. Sebab, dengan fatwa setidaknya bisa menyelamatkan umat. Untuk itu dia menyayangkan adanya pihak yang merespon negatif, bahkan cenderung menentang fatwa tersebut. Apalagi, yang melakukan itu umat Islam.

“Jika ada dari umat Islam sendiri yang tidak terima fatwa tersebut justru aneh. Masa menyelamatkan umat Islam kok ditentang,” tegasnya.

Lebih jelas dia mengatakan, setidaknya ada dua kemungkinan alasan bagi yang tidak setuju fatwa haram merokok.

“Bisa karena tidak paham atau karena memiliki keuntungan dari rokok tersebut,” ujarnya.

Dia mengatakan, Indonesia termasuk negara aneh dalam masalah rokok. Betapa tidak, dari sekitar 168 negara yang menolak rokok, justru Indonesia sebagai negara miskin yang menerima. Tidak hanya itu, pemerintah seolah membodohi rakyat.

“Di satu sisi iklan rokok massif, namun edukasi dan informasi bahaya merokok sangat jarang, bahkan bisa dikatakan tidak ada,” ujarnya.

Hal itu sangat bertolak belakang di negara maju. Di Australia, setiap bungkus rokok ada gambar mengerikan akibat rokok. Tak hanya itu, agar tidak terjangkau masyarakat, harganya dinaikkan hingga mencapai Rp 100 ribu.

“Indonesia menjadi serbuan industri rokok karena belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control atau FCTC,” katanya.

“Jadi, jangan bangga jika banyak investor rokok ke Indonesia. Sebab, tidak ada lagi yang mau, kecuali Indonesia,” tegasnya.

Dia juga mengimbau agar petani tembakau tidak khawatir dengan fatwa tersebut. “Para petani tembakau seharusnya mengganti dengan jenis tanaman lain yang lebih menguntungkan,” ujarnya.

Apalagi selama ini harga tembakau ditentukan oleh pihak industri rokok. Itu pun grade kualitasnya ditentukan pihak mereka. [ans/www.hidayatullah.com]

Foto:Courtney Perry/Dallas Morning News/Corbis

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

DPR Akhirnya Setujui RUU Wakaf

DPR Akhirnya Setujui RUU Wakaf

Politik Uang Diprediksi Tetap Marak, Ini Saran Pengamat

Politik Uang Diprediksi Tetap Marak, Ini Saran Pengamat

Karena Covid-19, Pemprov Jateng Dorong Zakat Dibayarkan di Awal Ramadhan

Karena Covid-19, Pemprov Jateng Dorong Zakat Dibayarkan di Awal Ramadhan

Adhyaksa: Dana Pramuka Era SBY Rp 45 M, Era Jokowi Cuma Rp 10 M Ditunda Lagi

Adhyaksa: Dana Pramuka Era SBY Rp 45 M, Era Jokowi Cuma Rp 10 M Ditunda Lagi

PP Salimah Tolak RUU P-KS: Muatan Liberalismenya Lebih Kental

PP Salimah Tolak RUU P-KS: Muatan Liberalismenya Lebih Kental

Baca Juga

Berita Lainnya