Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Dzikir Juga Thibbun Nabawi

Bagikan:

Hidayatullah.com — Perhatian dan minat besar yang ditunjukkan masyarakat berapa dekade terakhir ini terhadap Thibun Nabawi disinyalir akan menjadi mainstream (arus utama) pengobatan yang utama, mendampingi metode pengobatan medis yang selama digandrungi.

Hal itu diungkapkan Ketua Himpunan Ilmu Pengobatan Syariah Indonesia, dr. Moh Ali Thoha Assegaf, saat menjadi pembicara dalam acara Talkshow “Mujarabnya Thibbun Nabawi: Kupas Tuntas Pengobatan Nabi” yang diselenggarakan oleh Majalah Suara Hidayatullah di panggung utama Arena Islamic Book Fair (IBF), Jakarta, Jumat (12/03) lalu.

Dikatakan Thoha, metode pengobatan yang mendasarkan pada anjuran Nabi Muhammad SAW ini terbukti bisa menjadi solusi atau jawaban terhadap berbagai masalah penyakit dan kesehatan.

“Thibun Nabawi adalah pengobatan untuk semua masyarakat. Metode yang digunakan berdasarkan anjuran dan contoh-contoh yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. Saya optimis Thibun Nabawi menjadi mainstream pengobatan modern,” jelas Thoha, pada acara yang dipandu oleh Mahladi (Pemimpin Redaksi Majalah Suara Hidayatullah). Tampil pula Tuan H Ismail bin Ahmad, herbalis profesional dari Malaysia.

Pengobatan atau kedokteran Nabi, menurut dokter Moh Ali Toha Assegaf, meliputi aspek pencegahan, pengobatan, pemulihan, dan peningkatan status kesehatan. Selain itu dilakukan secara holistik yang melingkupi empat aspek, yaitu fisik, jiwa, sosial, dan spiritual.

“Sedang secara pengobatan syariah, meliputi enam aspek, yakni halal, Islami, manfaat, murah, aman, dan holistik,” papar dokter Moh Ali Toha Assegaf.

Sementara itu, pemilik Herba Penawar Alwahida (HPA) Malaysia, Tuan Haji Ismail bin Ahmad, mengungkapkan, letak otentitas pengobatan metode pengobatan Rasulullah SAW ada pada keyakinan hanya kepada Allah SWT sebagai penyembuh utama.

“Bukan obat atau herbalnya yang menyembuhkan, tapi Allah Ta’ala. Ini yang harus diyakini,” kata Tuan Haji.

Saat ini, lanjut Tuan Haji Ismail, banyak kesalahan yang diterapkan para praktisi medis yang hanya menekankan penyembuhan pada obat semata. Padahal hal itu saja tidak cukup.

Yang terpenting dari itu semua adalah keyakinan dan do’a kepada Allah SWT agar senantiasa diberi kesehatan dan kesembuhan dari penyakit.

“Ada yang sakit perut. Tapi hanya dengan berdo’a dan zikir pada Allah, dia sembuh,” katanya.

Tuan Haji Ismail berpesan, agar dapat dijauhkan dari penyakit dan supaya antara kesehatan bathin dan lahir menyatu, maka selalulah membaca dzikir pagi dan petang, memperbaiki kualitas ibadah, ikhlas, dan sentiasa berbuat baik.

“Dzikir dan do’a adalah penyembuh terbaik,” pungkas Tuan Haji Ismail dalam talkshow yang dipadati peserta ini.

Catat Rekor Pengunjung
Ketua Umum Panita Islamic Book Fair  2010 Iwan Setiawan menyatakan, panitia menargetkan jumlah pengunjung IBF 2010 di Istora Senayan Jakarta dari 5-14 Maret 2010, dengan tema ‘Membangun Generasi Islami, Cerdas dan Mandiri’, mencapai 500 ribu orang.

Tanggal 12 Maret lalu, jumlah transaksi di acara Islamic Book Fair telah menembus Rp 130 miliar.

“Jumlah ini sudah melampaui transaksi IBF tahun 2009. Namun kami masih mengejar transaksi total Rp 200 miliar sampai akhir pameran,” tutur Iwan Setiawan.

IBF tahun 2010  ini diikuti 145 peserta, terdiri dari 100 perusahaan, di antaranya penerbit. Sisanya adalah multiusaha. Selain itu, panitia menyediakan 358 stand, menyiapkan 75 mata acara. Diperkirakan pada tanggal 14 Maret, IBF dipadati pengunjung sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Stand Suara Hidayatullah Media di Ruang Kenanga 6 nomor 122.  [ain/www.hidayatullah.com]

Foto: Abus Syakur/Hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

ABI: Praktek Mut’ah di Iran Susah Ditemui

ABI: Praktek Mut’ah di Iran Susah Ditemui

Citizen Journalism Miliki Peran Penting Bantu Gaza dan Palestina

Citizen Journalism Miliki Peran Penting Bantu Gaza dan Palestina

Sudah Saatnya Melakukan Transaksi dengan Dinar-Dirham

Sudah Saatnya Melakukan Transaksi dengan Dinar-Dirham

KPAI: Masih Banyak Ketimpangan dalam Pembelajaran Jarak Jauh

KPAI: Masih Banyak Ketimpangan dalam Pembelajaran Jarak Jauh

MPR Bertentangan Pancasila

Pimpinan MPR Tolak Perpres No 10 Tahun 2021, Bertentangan dengan Pancasila dan Tujuan Bernegara

Baca Juga

Berita Lainnya