Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Nanggok, Sedekah Untuk Tamu

Bagikan:

 

 

Hidayatullah.com–Tradisi bagi-bagi uang saat lebaran untuk anak, keluarga dan tetangga ada di mana-mana. Jika di tempat lain memberi uang mungkin dianggap sebagai hadiah, maka di Kalimantan Barat dianggap sebagai sedekah.

Bagi masyarakat Muslim di pesisir Kalimantan Barat, memberi uang kepada tamu yang hadir pada saat Lebaran, atau disebut “nanggok”, menjadi hal yang lumrah.

Di balik tradisi memberi sedekah tersebut, ada makna religius yang terkandung di dalamnya.

Dr Zainuddin Isman M Phil, doktor bidang antropologi dan sosiologi saat dihubungi, Selasa, mengatakan, tradisi tersebut diperkirakan sudah ada seiring masuknya Islam ke Kalbar.

“Sekitar abad ke 14 atau 15, sudah ada,” kata dia.Menurut Zainuddin Isman, nanggok erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam. Ia menambahkan, ada dua fenomena terkait dengan nanggok.

Pertama, kata dia, secara ritual, ada keyakinan bagi umat Muslim bahwa akan lebih baik menyumbangkan harta atau bersedekah pada bulan puasa.

“Yang kedua, nanggok sudah dilakukan sejak turun temurun. Jadi, memang sudah tradisi,” kata Zainuddin Isman.

Uang yang diberikan tidak besar nilainya, yakni berkisar seribu rupiah sampai dua ribu rupiah.

Selain itu, nanggok hanya ditemukan di kalangan masyarakat pesisir sungai atau pantai di Kalbar.

“Umumnya uang diberikan ke siapapun yang datang ke rumah, tua muda miskin kaya. Pada malam takbiran dan hari pertama Lebaran,” kata dia.

Sementara di pedalaman yang jauh dari sungai besar, tradisi nanggok tidak ditemukan meski ada komunitas Muslim di daerah itu. Pemberian itu dianggap bukan mengemis. 

“Ada keyakinan, semakin banyak memberi, semakin bagus,” kata Zainuddin Isman.

Ia mengatakan, mula-mula hanya orang tertentu yang memberikan uang, namun lambat laun terus menyebar ke berbagai kalangan.

Zainuddin mengatakan, nanggok berbeda dengan angpao atau pemberian uang ke tamu menggunakan amplop warna merah di kalangan masyarakat Tionghoa saat hari raya.

“Kalau angpao hanya pada kalangan keluarga, nanggok skalanya lebih luas,” katanya.

Ia menambahkan, nanggok juga tidak berkaitan dengan tingkat sosial seseorang.

Lebih lanjut ia mengatakan, tradisi serupa dengan nanggok juga terlihat di Kalimantan Selatan. 

“Mungkin ada kaitan dalam penyebaran Islam antarkedua daerah,” kata Zainuddin Isman.[ant/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

ICMI: ‘Tewasnya’ Santoso jangan Menciptakan ‘Teroris’ Baru

ICMI: ‘Tewasnya’ Santoso jangan Menciptakan ‘Teroris’ Baru

Ketua PBNU Sebut Peringatan Asyuro bukan Kegiatan Sesat

Ketua PBNU Sebut Peringatan Asyuro bukan Kegiatan Sesat

Harga Pangan Naik, Jokowi: Saya Ingin ini Dilihat Masalahnya di Mana

Harga Pangan Naik, Jokowi: Saya Ingin ini Dilihat Masalahnya di Mana

Wisatawan Terlantar di Maroko, IITCF: Hati-hati Pilih Travel

Wisatawan Terlantar di Maroko, IITCF: Hati-hati Pilih Travel

Muhaimin Iqbal: Kita Dimiskinkan Oleh Sistem Yahudi

Muhaimin Iqbal: Kita Dimiskinkan Oleh Sistem Yahudi

Baca Juga

Berita Lainnya