Ahad, 11 Juli 2021 / 2 Zulhijjah 1442 H

Nasional

Ponpes di Sumatera Barat “Diawasi” Orang Misterius

Bagikan:

Sabtu, 10 Desember 2005

Hidayatullah.Com–Ciri khas pendidikan di Pondok Pesantren terletak pada kemandirian dalam menentukan kurikulum. Karena itu, setiap  intervensi  dari luar untuk menukar atau mencabut kurikulum tertentu, harus ditolak tegas. Demikian Ketua Forum Silaturahmi  Pondok Pesantren (FSPP) Sumatera Barat Ust. Drs. Ibnu Aqil D. Gani yang juga Pengasuh Ponpes Subulussalam Pariaman kepada hidayatullah.com dari Padang.

Ibnu menyatakan, tidak ada satupun Ponpes yang mengajarkan terorisme, karena itu tidak ada pembenaran untuk mencabut atau mengganti kurikulum jihad di Ponpes. ”Tudingan bahwa Pondok Pesantren menjadi ’Sarang Teroris’, dan karenanya harus diintervensi dan diawasi dengan ketat, adalah fitnah dan rekayasa Barat untuk menghancurkan Ponpes. Target Barat adalah melumpuhkan kebangkitan Islam, dan salah satu motor kebangkitan Islam itu adalah  melalui pendidikan di Pondok Pesantren,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ibnu mengingatkan, terorisme tidak dapat digeneralisir dan diidentikan  dengan Islam atau Pondok Pesantren.

Tapi kalau Amerika dan sekutunya juga melancarkan aksi teror ke Afghan dan Iraq bahkan Yahudi melancarkan teror terhadap bangsa Palestin, tak ada yang menyebutnya ‘teroris’.

Dimata-matai

Ibnu Aqil mengaku sudah membaca pemberitaan peringatan Wakil Presiden RI, Mohammad Yusuf Kalla bahwa  Pesantren harus diawasi dengan ketat dan menuding beberapa Ponpes tertentu di Jawa yang terkait denga terorisme. 

Akibatnya tudingan itu,  kata Ibnu Aqil,  berdampak pada 140 Ponpes di Sumatera Barat yang  mulai  diawasi dengan ketat oleh sejumlah orang tak dikenal.

”Mulai banyak ”sosok misterius”   bergentayangan  ke Pesantren atau sekedar nongkrong di kedai kopi yang berdekatan dengan Pesantren untuk mematai-matai, ”ujarnya.

Intervensi dan  tekanan untuk memata-matai  Ponpes, kata  Ketua Forum Ponpes Sumbar, suatu hal yang sudahtidak asing  lagi dan karenanya  tidak perlu dirisaukan benar. Ponpes di Sumbar sejak zaman kolonial, sudah sering dimata-matai  karena menjadi basis  mujahid mujahid pejuang.

”Bila hari ini Ponpes kembali ditekan dan dicurigai, itu memang kerjaannya  kolonialis dan antek-anteknya yang memang ingin melanjutkan penjajahan,”  tegasnya.

Ihwal adanya kurikulum dan pembelajaran tentang jihad  di Ponpes  yang menjadi biang ketakutan  Barat,  Ibnu Aqil menegaskan,  di Ponpes yang dipimpinnya memang diajarkan soal jihad dalam pelajaran pokok tahfidz al-Qur’an dan  Mutiara Hadist. ”Memang  dari 114 surah dan hadist yang yang  didalami para santri  setiap harinya,  hampir 30 persen membahas tentang jihad dan amar makruf nahimunkar. Tentu, tidak mungkin ayat-ayat  tentang jihad ditinggalkan atau dilampaui. al-Qur’an itu utuh 30 juz, tidak mungkin dipelajari dan didalami sepotong-sepotong,” tegasnya.

Jadi, jika memang ada  tekanan untuk mencabut pelajaran tentang jihad di Ponpes, maka 140 Ponpes yang berhimpun dalam FSPP Sumbar akan  menolaknya dengan tegas. Kita akan menjadi yang pertama menolaknya,” tegas Ibnu. (dodi/cha)

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Anies Sebutkan Inspirasi Kepemimpinan Nabi

Anies Sebutkan Inspirasi Kepemimpinan Nabi

Pemerintah Segera Ungsikan WNI dari Libya

Pemerintah Segera Ungsikan WNI dari Libya

Kemenkominfo: Penanganan YouTube Mudah Dibanding Vimeo

Kemenkominfo: Penanganan YouTube Mudah Dibanding Vimeo

evakuasi bsmi banjir

Tanggul Citarum Jebol, BSMI Evakuasi 300 Lebih Warga Rentan di Bekasi

Visi Hidayatullah Dinilai Selaras dengan Pembangunan Indonesia

Visi Hidayatullah Dinilai Selaras dengan Pembangunan Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya