Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Empat Kejanggalan Bom Bali II

Bagikan:

Selasa, 4 Oktober 2005

Hidayatullah.com– Meski pemerintah Australia mengaku tak begitu menanggapi laporan bahwa ada warga Bali memperingatkan para turis untuk menghindari lokasi-lokasi menarik yang sering dikunjungi oleh warga asing menjelang ledakan bom di Bali Sabtu (1/10) malam. Tak urung pihak otoritas Australia, Senin (3/10) kemarin nampaknya agak terganggu dengan munculnya isu-isu di tenga masyarakat menyangkut analisa bom Bali II.

Sebagaimana diberitakan, dua warga Australia yang tengah berlibur di Bali mengatakan mereka diberitahukan untuk menjauhi dari pusat kawasan Kuta, yang menjadi lokasi peledakan bom Bali I di tahun 2002 lalu dan satu dari dua lokasi yang menjadi sasaran serangn bom Sabtu malam lalu.

Kepada radio nasional, seorang pria asal Perth bernama Darren Humble mengatakan seorang penjaga keamanan bar memberitahukan seorang tamu hotel dimana dia tinggal mengenai kemungkinan serangan teror.

Sementara itu, seorang eksekutif pengiklanan, Mick Colliss, mengatakan kepada stasiun radio di

Sydney bahwa seorang temannya yang memiliki jaringan dengan organisasi kriminal di Bali memperingatkan dia untuk segera keluar dari Kuta.

Komisioner Polisi Federal Australia, Mick Keelty, mengatakan pengakuan-pengakuan tersebut akan diselidiki, namun begitu dia mengatakan sangat sulit untuk bereaksi terhadap rumor-rumor tersebut.

"Rumor dan fakta cukup berbeda dan ini adalah situasi yang sulit yang kita hadapi sekarang ini," jelasnya kepada televisi Channel Nine.

Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer mengatakan dia tidak tahu jika rumor-rumor tersebut dapat ditanggapi secara serius.

"Saya hanya dapat mengatakan kepada kamu apa yang orang ketahui dan yang pasti ada rumor setiap hari setiap minggu. Satu hal adalah kamu tidak tahu bagaimana menanggapinya secara serius," ujar Downer kepada radio ABC.


Empat kejanggalan

Sementara itu, hari-hari ini, meski sebagaian masyarakat Indonesia mengecam peledakan itu, sebagaian juga masih diliputi dengan tanda tanya besar menyangkut empat kejanggalan dalam bom Bali di Jimbaran dan Kuta, 1 Oktober kemarin.

Dalam sebuah acara ‘To days dialogue’ Metro TV pukul 11.30 yang dipandu reporter Najwa Shihab yang menampilkan pakar intelejen Juanda, Kepala Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Soenarko D Ardanto dan warga masyarakat, menggariskan ada beberapa kejanggalan yang patut dipertanyakan dalam peledakan tersebut.

Dalam dialog itu, dipertanyakan empat kejanggalan kejadian Bom Bali II yang oleh Australia sudah buru-buru dituduhkan diotaki Jamaah Islamiyah (JI) itu.

Beberapa kejanggalan yang sempat didialogkan dalam diskusi itu adalah; Pertama, hasil rekaman video amatir yang menunjukkan pelaku bom Bali.

Sebagaimana diketahui, di masyarakat dan media massa, kini beredar video amatir koleksi keluarga yang menunjuukan dengan sangat detil pelaku pengebom.

Dalam diskusi itu, sempat dipertanyakan, keanehan dalam shooting video yang tadinya diakui adalah video koleksi keluarga. Pasalnya, jika itu video keluarga, sangat nampak detil si pelaku yang saat ini diakui Polri sebagai tersangka. Di mana dalam shootingan video itu nampak tindakan si pelaku dari duduk, berjalan hingga bom diledakkan.

Kejanggalan kedua, peserta dialog juga mempertanyakjan mengapa hasil video itu yang telah diberikan pada pihak keamanan Indonesia itu justru datang dari Australia.

Kejanggalan ketiga, beberapa hari sebelum terjadi ledakan, para pecalang (keamanan adat Bali) telah mengingatkan para turis akan ada ledakan.  Kejanggalan keempat, beberapa hari sebelum kejadian beberapa masyarakat juga memperingatkan turis untuk tak memasuki daerah itu.

Pengamat intelejen Juanda sempat mempertanyakan dan bahkan mengaku kecewa mengapa aparat keamanan buru-buru menyebut pelakukan adalah Dr. Azhari dan Moh Nurdin M Top.

“Tidak benar polisi terburu-buru menuduh Dr. Azhari dan Mohammad Nurdin M Top,” ujar Juanda. Sebab menurutnya, tidak bisa ditarik kesimpulan bahwa ada kesamaan antara bom Bali I dengan bom Bali II.

Apalagi, menurutnya, ada kepentingan tinggi pihak Australia kepada Indonesia dalam hal ini. Kabarnya, beberapa menit setelah peristiwa pengeboman beberapa aparat intelijen Australia sudah langsung sampai di lokasi. Benarkah? (ap/metroTV/cha)

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Ahmad Sadzali

Bagikan:

Berita Terkait

Harga Pangan Naik, Jokowi: Saya Ingin ini Dilihat Masalahnya di Mana

Harga Pangan Naik, Jokowi: Saya Ingin ini Dilihat Masalahnya di Mana

Sempat Terisolasi Tiga Hari, Warga Muslim Pengastulan Sudah Mulai Beraktivitas

Sempat Terisolasi Tiga Hari, Warga Muslim Pengastulan Sudah Mulai Beraktivitas

Politisi Abdillah Toha Serang Fatwa Syiah MUI Jatim

Politisi Abdillah Toha Serang Fatwa Syiah MUI Jatim

Tak Hanya Dengan Pria, Dengan Tukang Sayurpun, Perlu Jaga Pandangan

Tak Hanya Dengan Pria, Dengan Tukang Sayurpun, Perlu Jaga Pandangan

DPP PAN Belum Tentukan Sikap Soal Ahmadiyah

DPP PAN Belum Tentukan Sikap Soal Ahmadiyah

Baca Juga

Berita Lainnya