Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

“Pemberdayaan Apa?”

Bagikan:

Rubrik: Kuntum-kuntum Melati

Rabu, 7 September 2005

oleh Santi Soekanto *)

Jilbab biru tuanya lebar menjuntai. Bu Nunung menyeka dahinya, hidungnya, yang basah oleh keringat diterpa terik matahari Pantai Lho’nga, 10 kilometer dari Banda Aceh. Suaranya serak sehabis berteriak-teriak mengajar di TK darurat, yang didirikan Pesantren Hidayatullah untuk anak-anak pengungsi korban tsunami Desember lalu. Sekolah bubar bukan berarti waktu istirahat; ia hanya duduk sejenak, lalu sibuk lagi mengurus anak-anak pengungsi yang keleleran di antara tenda-tenda.

Sejak Subuh, Bu Nunung sibuk bekerja di dapur, dibantu beberapa santri putri; padahal tadi malam ia baru tidur saat sudah sangat larut. Itu karena ia harus menemui tamu-tamu yang datang hampir tak berhenti. Tambahan lagi, si Bungsu rewel karena dikerubuti nyamuk yang nekat menerobos asap anti-nyamuk di dalam rumah kayu sederhana yang ditinggalinya.

Kami mengobrol tentang suka-duka mendatangi daerah-daerah asing untuk mendirikan pesantren baru. Tentang hamil tua dan harus melahirkan tanpa didampingi suami yang sibuk dengan kerja dakwah. Tentang perdarahan dan kehilangan si Kecil lahir tanpa nyawa di rumah sakit, setelah bertahun-tahun dinanti kehadirannya. Bu Nunung berbicara dengan nada biasa; tidak melodramatis, tidak emosional. Yang terpancar adalah kesabaran dan penerimaan.

Saya lalu teringat kepada pondok-pondok kayu dan rumah-rumah sederhana para ustadz dan pejuang dakwah sejumlah harakah yang pernah saya kunjungi, mulai dari Jakarta, Solo hingga Balikpapan. Saya teringat akan para penyelenggara rumah-rumah sederhana itu yang banyak berkorban agar para suami tenang berdakwah. Saya ingat seorang ibu yang payah duduk atau berdiri karena kandungannya yang ke sekian kali semakin berat, yang wajahnya teduh disinari keikhlasan. Waktu saya tanya, mengapa repot-repot berkorban begitu besar, ia balik bertanya,  "Pengorbanan apa?"

Kalau saja para suami mereka, para ustadz itu, memilih untuk mengajar Iqra’ anak-anak orang kaya di Jakarta, para istri itu akan bisa hidup lebih enak, begitu gurau saya.

Bu Nunung tersenyum. Lalu dengan nada suara datar, ia mengutip sebuah hadits tentang seorang perempuan di masa Nabiyallah, Asma binti Yazid Radhiallaahu ‘anha, yang mempertanyakan mengapa mudah sekali bagi laki-laki bergerak di public domain, termasuk pergi berperang, berjihad, sementara kaum perempuan tinggal di ranah domestik menyelenggarakan keperluan sang Mujahid dan membesarkan anak-anaknya. "Adakah kemungkinan bagi kami untuk menyamai para lelaki dalam kebaikan, wahai Rasulullah?" tanya Asma.

Rasulullah SAW menjawab, "Pergilah kepada perempuan mana saja dan beritahukan bahwa kebaikan salah seorang di antara kalian (kaum perempuan) dalam memperlakukan suaminya, mencari keridhaan suaminya adalah mengalahkan semua itu…"(HR al-Baihaqi)

Tulisan ini tidak dibuat untuk sekedar memancing kejengkelan pendukung feminisme yang "hare geneeeeeee.." masih memprotes ketidakadilan pembagian kerja seksual.

Tulisan ini juga tidak dibuat untuk mematahkan semangat mereka yang berkampanye memberdayakan perempuan Indonesia dengan cara, diantaranya, menuntut 30 persen kursi di parlemen dan sejumlah pos di kabinet.

Tulisan ini dibuat untuk mengapreasiasi the silent power of the women yang saya temui di banyak tempat, baik dari kalangan Hidayatullah, Tarbiyah, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh dan banyak lagi.

Perjalanan-perjalanan tugas jurnalistik ataupun kemanusiaan ke daerah-daerah bencana atau konflik seperti Poso, Ternate dan Aceh mengajari saya bahwa penggambaran perempuan sebagai korban paling utama konflik dan bencana tidaklah sepenuhnya tepat.

Memang benar ribuan Muslimah terbunuh di Ambon, Ternate, Aceh dan Poso. Memang benar banyak diantara mereka, entah berapa jumlahnya, diperkosa dan disiksa di Aceh.

Beberapa Muslimah hamil di Poso dan Ambon dibongkar rahimnya oleh musuh. Kalau menurut deskripsi lembaga-lembaga kemanusiaan dunia mereka dan anak-anak mereka adalah the most vulnerable groups—kelompok yang paling rentan dan paling terlunta-lunta—dalam suasana serba kekurangan dan penuh ancaman pelecehan di tempat-tempat pengungsian.

Tetapi siapakah yang lebih kuat daripada seorang wanita yang menyaksikan mayat-mayat tercecer di saat terburuk konflik antaragama di Poso, lalu melepaskan anak laki-lakinya yang baru berumur 16 tahun menghadang bahaya dengan mengangkat senjata demi melindungi kampung mereka?

Women are the silent heroes in emergencies and conflicts. Wanita adalah pahlawan tanpa tanda jasa di tengah-tengah bencana dan konflik yang mencabik-cabik masyarakat, demikian Carol Bellamy, mantan direktur eksekutif Badan Dana Dunia untuk Anak (UNICEF), dalam sebuah panel diskusi di Markas Besar PBB di New York Juni tahun lalu.

Berjudul Emergencies Impacting on Women–Women Impacting on Emergencies, panel tersebut menghadirkan para pengambil kebijakan berbagai program kemanusiaan tingkat dunia serta para aktivis kemanusiaan yang bekerja di daerah-daerah konflik seperti Sierra Leone.

Semua pembicara sepakat, perempuan adalah korban utama peperangan dan konflik bersenjata. Namun, pada saat yang sama, merekalah yang paling sigap mengambil alih peran sebagai pendidik, penjaga kesehatan anak-anak dan keluarga, dan membangun kembali kehidupan sosial mereka.

Kalau ingin memastikan anak-anak korban bencana atau konflik bisa tetap makan, maka berikan bantuan kepada kaum ibu, ujar seorang pejabat PBB. "Women are the basic social fabric that holds families together."

Siapakah yang lebih kuat daripada daripada seorang perempuan yang dilarang bersekolah oleh ayah dan abang-abangnya di Medan, memilih berdagang pisang goreng demi membayar sendiri SPP-nya? Lalu, sesudah menjadi wanita yang matang, ia memilih tidak berkarir dan seratus persen mengabdikan tenaganya untuk mendidik anak-anaknya?

Siapakah yang lebih kuat daripada seorang perempuan yang hanya membisikkan "Allah, Allah," yang tidak mau meraung kesakitan atau berkeluh-kesah, saat menyabung nyawa melahirkan bayinya? Apakah ada lelaki yang akan mau merasakan sakit yang setara dengan sakitnya melahirkan tanpa berteriak-teriak? Siapa yang lebih kuat menjalani kehidupan berat dan kekurangan demi menemani suami berdakwah sementara kesempatan-kesempatan untuk meraih berbagai kenyamanan dunia—termasuk kesempatan shopping di mall—terpampang di depan mata?

Salah satu ketidakadilan yang mengancam kehidupan dunia saat ini adalah pemaksaan agenda-agenda negara maju terhadap negara-negara miskin—yang notabene banyak sekali didiami kaum Muslimin.

Mulai dari agenda perlindungan lingkungan—yang sebenarnya lebih merupakan gara-gara yang disebabkan oleh negara-negara industri—sampai agenda yang berjudul demokratisasi dan perlindungan hak asasi manusia. Negara-negara berkembang seperti Indonesia hanya bisa mengamini ketika negara-negara maju di Utara mencanangkan semua rencana mereka.

Salah satu agenda utama negara maju, yang kemudian diadopsi menjadi "agenda dunia", adalah empowerment of women atau pemberdayaan perempuan.

Dengan packaging alias kemasan yang indah, banyak negara berkembang maupun kelompok perempuan yang lalu melaksanakan crusade untuk memberlakukannya.

Dibutuhkan hanya waktu sepuluh tahun bagi tokoh-tokoh feminis radikal di Barat untuk mematahkan perlawanan kelompok-kelompok dan negara-negara Muslim terhadap agenda mereka yang dicanangkan di Konferensi Dunia tentang Wanita di Beijing, September 1995.

Berbagai keberatan terhadap dokumen Platform for Action yang pernah dinyatakan oleh negara-negara Islam—karena dokumen tersebut menyamakan pemberdayaan perempuan dengan kebebasan, misalnya, menjadi homoseksual—ketika itu sempat dicatat dan dimasukkan dalam brackets (tanda kurung). Pebruari-Maret lalu di Markas Besar PBB di New York, dalam konferensi yang dikenal sebagai Beijing Plus Ten, semua keberatan itu sudah dihapuskan.

Namun, apakah empowerment namanya kalau menyuruh seorang perempuan—yang nilai Kimia dan Bahasa Inggrisnya 10 dari sebuah SMA bergengsi di Jakarta, dan kini senang menghabiskan waktu merawat anak-anaknya—untuk keluar dari ranah domestik lalu masuk ke public domain dengan alasan "sayang potensinya"?

Apakah empowerment namanya memompakan rasa bersalah terhadap ibu-ibu yang memilih bekerja di rumah dengan alasan mereka kurang "mengaktualisasi potensi diri”?

To empower is to give power to the powerless, memberdayakan adalah memberikan daya kepada mereka yang tidak berdaya.

Women who by their own freewill choose to remain at home and support their husbands, are already powerful. Perempuan-perempuan yang karena berbagai alasan memilih tetap berada di rumah untuk mendukung kerja suami mereka dan mencari ridha Allah, mereka sudah berdaya.

Perempuan-perempuan yang berada di ranah publik karena berbagai alasan—baik karena ingin mengaktualisasi diri maupun karena, misalnya, takut dianggap kuno—perlu belajar dari mereka.

*). Penulis adalah wartawan dan ibu dari dua anak. Dimuat di www.Hidayatullah.com

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Konflik Lampung Ditengarai Konflik Masa Lalu

Konflik Lampung Ditengarai Konflik Masa Lalu

Palestina Menolak Tegas Konferensi Ekonomi di Bahrain

Palestina Menolak Tegas Konferensi Ekonomi di Bahrain

Menag: Dalam Bertoleransi, Tidak Ada Negara Seperti Indonesia

Menag: Dalam Bertoleransi, Tidak Ada Negara Seperti Indonesia

Peneliti: Penularan HIV-AIDS Didominasi Kalangan Homoseksual

Peneliti: Penularan HIV-AIDS Didominasi Kalangan Homoseksual

Syafaat: Israel Pasti Sudah Baca!

Syafaat: Israel Pasti Sudah Baca!

Baca Juga

Berita Lainnya