Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Din Syamsuddin: “Sekularisasi dan Liberalisasi Ancaman Dakwah Islam”

Bagikan:

Senin, 29 Agustus  2005

Hidayatullah.com—Pernyataan ini disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, Prof Dr H Din Syamsudin di Medan kemarin. Din mengatakan, tantangan yang utama dalam dakwah Islamiyah, yakni semakin merajarelanya sekuralisasi di Indonesia saat ini. Sekularisasi dalam sebuah proses kehidupan dikenal dengan sekularisme.

Sekularisme sebagai paham yang menganggap, hidup hanya sini dan di sini, jadi hanya di dunia, tidak ada kehidupan nanti di akhirat atau hal yang membawa kearah kecintaan kehidupan duniawi, sehingga norma-norma tidak perlu didasarkan pada ajaran agama.

"Hal ini jelas bertentangan dengan aqidah Islam atau ajaran Islam yang sangat menekankan keimanan, khususnya kepada Allah SWT dan beriman kepada hari akhir," tandas Din Syamsudin seperti dikutip harian Waspada pada tabligh akbar sekaligus meresmikan Majelis Tafsir Al Quran (MTA) perwakilan Medan Kota dan cabang Patumbak Deli Serdang di Gelanggang Remaja Jl.Sutomo Medan, Minggu (28/8), kemarin.

Menurut Islam, kata Din yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah, hidup manusia harus terarah dan beriman untuk merebut kebahagiaan tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Orang-orang yang berpaham sekularisme maupun liberalisme (kebebasan) tidak memahami, ada hari akhir. Ini yang kita hadapi sebagai tantangan dakwah yakni paham kebebasan tersebut.

Mereka yang berpaham sekularisasi dan liberalisasi menganggap manusia itu punya kuasa, dari akal pikiran bisa berbuat apa saja. Jadi yang maha kuasa adalah manusia itu sendiri, yang maha kuasa adalah akal pikiran manusia itu sendiri.

"Ini bertolak belakang dengan keyakinan kita umat Islam bahwa yang Maha Kuasa itu adalah Allah SWT," ujarnya.

Dalam organisasi Islam yang berpegang teguh kepada Al Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Pada kesempatan itu, Din mengatakan, saat ini MTA semakin mengembangkan sayapnya hinga mencapai 116 cabang dari 27 perwakilan. MTA bagi dia merupakan salah satu organisasi Islam yang berlandaskan hukum agama yang ditujukan kembali ke Al Quran dan As Sunah.

Perkembangan MTA saat ini sudah merupakan yang terbaik kita lakukan. Din mengaku merasa bangga, karena di kota ini dapat dibentuk cabang MTA yang merupakan organisasi yang terbaik saat ini

Oleh karena itu keberadaan MTA diminta untuk tetap dipertahankan dan semakin ditunjukkan adanya gerakan untuk kembali kepada Al Quran dan As Sunnah. Hal ini menjadi jaminan masa depan bagi umat Islam. Dimana saja berada kalau ingin maju, ingin unggul, ingin meraih keunggulan jangan lupa kepada Al Quran dan As Sunnah.

Oleh karena itu gerakan yang harus kita lakukan adalah gerakan kembali ke Al Quran dan As Sunnah. "Jadi mohon sekali untuk dipertahankan dan lebih baik diamalkan," demikian Din Syamsudin. (waspada)

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Ini Dia Fatwa MUI Jatim tentang Ajaran Syiah

Ini Dia Fatwa MUI Jatim tentang Ajaran Syiah

ASKES: Qishash Pemabuk Pembunuh Ustadz

ASKES: Qishash Pemabuk Pembunuh Ustadz

Pakar Hukum: Larangan Cadar IAIN Bukittinggi Melanggar Konstitusi

Pakar Hukum: Larangan Cadar IAIN Bukittinggi Melanggar Konstitusi

Ada yang Inginkan Indonesia Disharmoni

Ada yang Inginkan Indonesia Disharmoni

Divonis 16 Tahun, Luthfi Hasan Ajukan Banding

Divonis 16 Tahun, Luthfi Hasan Ajukan Banding

Baca Juga

Berita Lainnya