Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Megawati Resmikan Pembangunan Suramadu

Bagikan:

Hidayatullah.com–Setelah sempat terombang-ambing dalam ketidakpastian, pembangunan proyek prestisius tersebut resmi dimulai. Itu ditandai oleh pemancangan tiang pertama oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, kemarin, di Desa Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran, Surabaya. Langkah serupa juga dilakukan Mega di Desa Sekarbungo, Bangkalan, Madura. Mega meminta Depkimpraswil mempercepat proses pembangunan jembatan Suramadu ini dari rencana semula empat tahun menjadi tiga setengah tahun. Jika pembangunan proyek tersebut bisa selesai lebih cepat, ujarnya, masyarakat akan sangat diuntungkan. “Tapi tentu penyelesaian jembatan ini menjadi tanggung jawab pemerintahan baru hasil pemilu mendatang,” katanya. Mega meminta para bupati di Pulau Madura agar mempercepat program nasional sertifikasi tanah, menyusul dimulainya pembangunan jembatan Suramadu ini. Dia mengingatkan, belakangan ini makin banyak saja masyarakat luar Madura yang ‘mengintip’ kepemilikan tanah warga setempat. Justru itu, dia merasa perlu mengingatkan soal pentingnya sertifikasi tanah. “Saya tidak akan merasa gembira jika kelak Madura tinggal pulaunya saja, sementara masyarakatnya tersingkir,” ujar Mega. Semula Mega yang didampingi suaminya Taufik Kiemas, Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, dan Menkimpraswil Soenarno tidak dijadwalkan menyampaikan sambutan. Namun ternyata kemudian dia spontan berpidato di hadapan para undangan. Jembatan Suramadu dirancang membentang sepanjang 5.438 meter dan lebar 30 meter. Pembangunan proyek tersebut menelan biaya senilai Rp 2,9 triliun. Dana tersebut berasal dari APBN, APBD, dan modal PT Jasa Marga. Gagasan tentang pembangunan jembatan Suramadu ini sudah dilontarkan Prof Sedyatmo – penggagas teknologi konstruksi cakar ayam – pada tahun 1960. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan lagi oleh Muhammad Noer pada saat menjabat Gubernur Jatim pada 1970-an. Tapi langkah pasti menuju pembangunan jembatan Suramadu ini ternyata terus terombang-ambing dalam ketidakpastian. Itu terutama terkait dengan masalah pendanaan. Terakhir, menurut rencana, awal pembangunan proyek tersebut dilakukan Maret tahun lalu. Rencana tersebut ternyata urung karena kendala dana belum benar-benar terpecahkan, di samping teknis pembebasan tanah belum tuntas. Menurut Menkimpraswil Soenarno, selain jembatan Suramadu, pemerintah pusat sudah menetapkan pembangunan jembatan Sumatera-Jawa dan Jawa-Bali. Tetapi karena dianggap jauh lebih penting, pembangunan jembatan Suramadu kemudian diprioritaskan. Pembangan jembatan yang telah direncanakan semenjak pemerintahan Habibie ini mengalami tersendat beberapa kali. Sebagaian kalangan, tertutama ulama setempat sempat menolak rencana ini. Mereka khawatir, dengan dibukanya Suramadu, bukan justru membuat dampat baik, tapi justu meningkatkan makasiat Jembatan Suramadu diharapkan membuka keterisolasian wilayah Madura, di samping mengalihkan fungsi-fungsi aktivitas sosial-ekonomi dari Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto ke Pulau Madura. Pertumbuhan industri di pulau garam itu juga diharapkan bisa distimulasi melalui keberadaan jembatan Suramadu ini. Kunjungan kerja Mega di Surabaya ini diwarnai aksi unjukrasa di Gedung Negara Grahadi Surabaya. Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Surabaya Agus Dwiyanto bahkan sempat ditangkap aparat Polresta Surabaya Selatan. (sk)

Rep: Cholis Akbar
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Peneliti: Konsumsi Rokok Bisa Sebabkan Kemiskinan, Ganggu Program Bansos Pemerintah

Peneliti: Konsumsi Rokok Bisa Sebabkan Kemiskinan, Ganggu Program Bansos Pemerintah

MUI Tegaskan, Ormas Islam HTI Tidak Sesat atau Menyimpang

MUI Tegaskan, Ormas Islam HTI Tidak Sesat atau Menyimpang

Pakar Kelautan ITS: Jika Susi Pudjiastuti Gagal, Presiden Bisa Segera Mengganti

Pakar Kelautan ITS: Jika Susi Pudjiastuti Gagal, Presiden Bisa Segera Mengganti

LGBT Dianggap HAM, Begini Respons LDNU

LGBT Dianggap HAM, Begini Respons LDNU

UBN: Kampanye Akbar di GBK Bukan Politik Identitas

UBN: Kampanye Akbar di GBK Bukan Politik Identitas

Baca Juga

Berita Lainnya