Warga Hidayatullah Turut Diperiksa Dalam Kasus Bom Bali

Dampak bom Bali, warga Hidayatullah yang berada di perkampungan muslim Kepaon, Denpasar turut diperiksa polisi

Terkait

Warga Hidayatullah dan masyarakat muslim Bali setidaknya ikut terkena imbas kasus bom Bali. Sebagaimana diberitakan Media Indonesia, Jum’at (1/11/2002), salah seorang pimpinan Pesantren Hidayatullah, Abdullah Ikhsan diperiksa polisi berkaitan dengan bom Bali. Sebagaimana yang dikutip Media Indonesia, “Kahumas Tim Investigasi Kasus Peledakan Bom Bali Brigjen Edward Aritonang ketika dikonfirmasi membenarkan soal diperiksanya warga Kepaon, dua kilometer arah timur dari Kuta. Daerah ini merupakan perkampungan muslim. “Memang kita sudah memeriksa beberapa warga Kepaon. Namun, saya tidak mengetahui secara jelas nama mereka satu per satu. Mungkin termasuk di dalamnya Abdullah Ikhsan,” ujar Aritonang. Abdullah Ikhsan adalah pemimpin Pesantren Hidayatullah. Pemeriksaan itu dilakukan karena salah seorang warga Kepoan, berprofesi pengemudi taksi, menjadi korban peledakan bom itu. Beberapa warga Kepaon lainnya juga diperiksa karena mereka berada di tempat kejadian saat peledakan bom terjadi.” Demikian Media Indonesia Berkaitan dengan hal tersebut Hidayatullah.com menghimpun keterangan seputar pemberitaan tersebut. Pada saat ledakan terjadi, sejumlah orang yang ada di sekitar tempat kejadian lari tunggang langgang. Diantaranya adalah orang-orang ada ada di masjid Al Ghuraba di jalan Pulau Kenangan Sari, Denpasar yang terletak sekitar lima kilometer dari Legian, Kuta. Akibat ledakasn tersebut, mereka tidak ingat lagi terhadap barang-barang yang dibawa, yang penting lari. Salah satunya adalah ditinggalkannya sepeda motor di masjid tersebut. Sepeda motor tersebut bernomor polisi Bali (DK). Karena tidak ada yang mengambil selama dua hari, penjaga masjid curiga terhadap motor tersebut tersebut. Maka dua penjaga masjid Al Ghuraba melaporkan keberadaan motor tersebut kepada polisi. Seminggu berselang setelah ledakan, takmir masjid Al Ghuraba dipanggil polisi untuk dimintai keterangan mengenai keberadaan sepeda motor tersebut. Dua pengurus takmir masjid yang dipanggil adalah Ali Haris, Ketua dan Abdullah Ikhsan, Wakil Ketua. Selain takmir masjid, Ikhsan dikenal sebagai pengurus pesantren Hidayatullah Denpasar dan muballigh. Keduanya diperiksa di hotel Wina, Kuta sekitar pukul 20.00 WITA. Abdullah Ikhsan diperiksa oleh dua orang polisi Indonesia. Ikhsan sendiri lupa nama polisinya. Yang jelas, pemeriksaan itu berlangsung selama sekitar satu setengah jam. Beberapa pertanyaan yang disampaikan kepadanya antara lain, Di mana dirinya ketika ledakan terjadi, siapa yang memberi tahu adanya ledakan tersebut, dan apa pekerjaannya. “Saya jawab di rumah sedang tidur, saya baru tahu ada ledakan dari seorang jamaah?, katanya pada Hidayatullah.com mengulangi jawaban kepada polisi. Selain mubaligh, sehari-hari Ikhsan juga guru dan pengasuh panti asuhan di Pesantren Hidayatullah di Denpasar yang memang menampung anak yatim piatu dan terlantar. Selain beberapa pertanyaan itu, Ikhsan juga ditanya hubungan umat muslim di Kepaon dengan warga Hindu di Bali. Termasuk hubunganya dengan salah satu nama seseorang aktivis Islam di pulau dewata tersebut. Semua pertanyaan polisi itu dijawab secara lengkap. ?Saya jawab hubungan saya baik-baik saja?, kata Ikhsan mengingat beberapa pertanyaan yang diajukan polisi ketika meminta keterangan kepadanya. Beberapa hari kemudian, wartawan Media Indonesia bernama Yuni Eko Sulistiono mencari rumah Abdullah Ikhsan dari Pesantren Hidayatullah. Oleh penduduk, wartawan dari media Jakarta ini kemudian ditunjukkan rumah pengasuh panti asuhan yang akrab dengan warga ini. Kepada pimpinan Pesantren Hidayatullah Bali ini pertanyaan yang diajujan antara lain tentang hubungan umat muslim Kepaon dengan warga Hindu di Bali. ?Saya jawab sama, baik-baik saja?, katanya. (har/cha)

Rep: Cholis Akbar

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !