Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Langsung dari Gaza

“Pejuang Kita Semakin kuat, dengan Izin Allah”

Bagikan:

Hidayatullah.com–Di masa gencatan, rakyat Gaza tetap waspada dan bersiap diri.  Fraksi-fraksi perlawanan seperti Hamas dan Jihad Islam menggunakan masa tenang dengan melakukan pembinaan akidah dan ilmu-ilmu lainnya.

Demikian dikatakan Kepala Hamas Gaza Utara, Mustafa al-Qanu’ dan Mufti Jihad Islami, Samih Hajjaj yang hidayatullah.com temui secara terpisah di Gaza 24-25 Desember.

“Itu yang terus kami asah. Akidah dan nilai-nilai jihad terus kami sosialisasikan,” kata Mustafa Qanu’.

Samih Hajjaj memandang gencatan senjata sebagai rehat sebentar.

“Pertempuran ini belum berakhir sepenuhnya,” kata Samih Hajjaj ulama Jihad Islami lulusan program doktor dari al-Azhar ini.

Samih menambahkan, pertempuran selama 8 hari pertengahan November lalu di Gaza sebagai perang terakhir sebelum pertempuran akhir zaman antara kaum muslimin dengan bangsa Yahudi. Inilah petikan wawancaranya.*

***

Apa sikap dan metode Jihad Islami untuk membebaskan Palestina dan al-Quds dari penjajahan Zionis Israel?

Cara kami menyikapi permasalahan Palestina dan usaha kami untuk membebaskan bumi Palestina adalah cara yang telah Allah perintahkan dalam al-Q’uran yaitu berjihad. Dan satu-satunya metode kami untuk mengembalikan keutuhan Palestina dan mengembalikan stabilitas pemerintahannya yaitu berperang.

Allah berfirman, dalam al-quran surat yang artinya “Telah diizinkan (berperang) orang orang yang di perangi karena mereka di zalimi, dan sesungguhnya Allah mampu menolong mereka.” (QS: al-Hajj ayat 39, 40). Ayat tersebut menjelaskan, Allah telah membuka pintu bagi umat Islam yang terzalimi dan terusir dari kampung halamannya untuk melakukan perlawanan atau berjihad di jalannya.

Apakah gerakan Jihad Islami memiliki divisi politik?

Jihad Islami pada dasarnya hanya terfokus pada perlawanan dan jihad. Adapun usaha usaha lainnya hanya pelengkap semata. Sebagaimana ungkapan yang selalu dikatakan pendiri Jihad Islami Dr. Fathi as-Syiqaqi, “untuk menghadapi Zionis Yahudi penjajah adalah dengan pertempuran, maka usaha selain itu hanyalah pelengkap”. 

Jadi gerakan Jihad Islami tidak terlalu memperhatikan jalur-jalur lainnya selain jihad. Sebagaimana tidak terlalu terfokus dalam usaha pembentukan yayasan yayasan atau terjun di politik. Karena, ketika kita berpolitik maka Zionis akan menyerang kita lebih dulu lewat jalur politiknya. Tapi, kami tidak menafikkan harus ada pihak-pihak yang juga memperjuangkan Palestina dengan jalur tersebut. Karena kita faham, bahwa tanah kita, laut kita, langit kita masih terjajah. Maka kita butuh perjuangan dari segala aspek semampu kita.

Menurut Anda, bagaimana posisi dan kekuatan Zionis setelah perang 8 hari November 2012 lalu?

Kalau kita melihat bagaimana mereka kalah dalam pertempuran, itu menunjukkan pihak pejuang kita yang semakin kuat, dengan izin Allah.  Untuk pertama kalinya dalam sejarah konflik Palestina-Zionis Israel, pihak Zionis yang gencatan senjata. Dan penduduk Israel benar-benar menanti detik-detik berakhirnya pertempuran 8 hari yang lalu.  

Untuk itu, saya tidak yakin Zionis pada hari-hari ke depan akan melakukan tindakan bodoh dan ceroboh seperti membunuh  Ahmad al-Ja’bari, sang komandan bagi seluruh pejuang Palestina. 

Saya sendiri tidak pernah berfikir masih diberi hidup saat para pejuang Palestina menghantam jantung Zionis Israel di Tel Aviv. Apa yang terjadi setelah pertempuran 8 hari yang lalu adalah kemenangan besar untuk kami rakyat Gaza. Ini menunjukkan keberkahan usaha yang dilakukan para mujahidin dan keberkahan roket-roket yang mereka luncurkan.

Apa saja kemajuan perlawanan dari mujahidin yang bisa menjadi kabar gembira bagi umat Islam?

Kalau kita melihat pertempuran tahun 2008/2009, saat itu kondisinya sangat sulit bagi para pejuang Palestina. Meski begitu rakyat Gaza dan para pejuangnya terus bertahan. Dan, setelah gencatan senjata tahun 2009 awal hingga 2012 sebelum terjadinya pertempuran 8 hari, pejuang Palestina telah mempersiapkan diri menghadapi Zionis. Hingga pada perang 8 hari lalu para pejuang dalam keadaan prima. Strategi mereka bertambah matang. 

Perang 8 hari lalu para pejuang benar-benar bertugas sepanjang hari tanpa kenal lelah. Sekedar informasi, selama peperangan tersebut para mujahidin tidak berperang di atas tanah, tapi dari bawah tanah. Karena, logikanya para mujahidin tidak mungkin mampu melakukan serangan di atas tanah sementara pesawat-pesawat pengintai milik Zionis tidak pernah berhenti mengintai dan meninggalkan langit Gaza sedetik pun. 

Memang benar Zionis berhasil menembak beberapa lokasi peluncuran roket dan gudang amunisi para pejuang. Namun itu sangat sedikit. Sementara masih sangat banyak amunisi yang tidak terdeteksi oleh mereka. Dan saya yakin amunisi yang masih sangat banyak ini, insya Allah, akan mereka perlihatkan pada saat yang tepat.

Ada kabar di Indonesia tentang kedekatan gerakan Jihad Islami dengan Syi’ah dan Negara Iran. Ada juga yang mengatakan Jihad Islami adalah fraksi Syiah. Bagaimana tanggapan Anda?

Kami tegaskan, akidah Jihad Islami adalah Sunni, Ahlusunnah wal Jama’ah. Namun sayang sekali ada beberapa pihak berusaha memperburuk citra kami dan menyebut kami Syi’ah. Bisa lihat sendiri di Gaza, di masjid mana terdapat para husainiyaat? Di masjid mana di Gaza yang menyeru kepada kesesatan?

Maka saya ingin menenangkan saudara-saudara kami di Indonesia, bahwa kami adalah Sunni. Kami juga pernah 2 kali berkunjung ke Indonesia, dan kami sangat senang melihat umat Islam Indonesia yang hampir seluruhnya Sunni.

Lalu, bagaimana dengan hubungan Jihad Islami dengan Iran?

Hubungan kami dengan Iran, seperti yang kita dengar bersama dalam media bahwa Abu Walid (Khalid Misy’al, Kepala Biro Politik Hamas)  dan Dr Ramadhan Abdullah Syalah (Ketua Umum Jihad Islami) menyampaikan rasa syukurnya kepada Iran. Faktanya, saat ini di depan mata kami ada Zionis yang sedang memerangi kami.  Maka tidak ada waktu untuk memilih milih bantuan. Dari manapun bantuan kami terima. Seperti dikatakan Abu Walid dan Dr. Ramadhan Syalah, silahkan seluruh pihak mendukung kami, berikan kami bantuan senjata. 

Seberapa signfikan bantuan Iran?

Kami katakan terus terang, kalau Iran membantu kami dengan roket-roket mereka. Tapi bantuan-bantuan Iran tidak akan membuat kami dikuasai mereka. 

Akidah Syi’ah yang dianut Iran mengkafirkan para sahabat dan istri Rasulullah, bagaimana Jihad Islami bisa berhubungan dengan mereka? 

Kami ingatkan, Iran punya dua sisi, sisi politik dan sisi akidah. Sikap politik yang mereka tunjukkan adalah memusuhi Amerika dan Zionis Israel. Adapun sisi akidahnya, maka jelas kami Ahluss Sunnah wal jama’ah dan mereka Syi’ah. 

Yang berkaitan dengan Syi’ah, saya berpandangan barangsiapa menghalalkan cacian kepada para sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan ibunda kita Aisyah, maka tidak ada tempat bagi mereka dalam Islam. Apa yang akan kita katakan tentang  Abu Bakar sementara Allah sudah meridai beliau. Apa lagi yang harus kita katakan tentang Umar, sementara Nabi bersabda, “Seandainya saja ada Nabi setelah ku, maka dia adalah Umar.” Apalagi yang bisa kita katakan tentang Aisyah, sedangkan Allah telah menurunkan 10 ayat dalam al-Qur’an untuk membebaskan beliau dari fitnah. Dari sini para ulama berkata, “Barangsiapa yang menuduh Aisyah maka ia telah kafir.” 

Apa yang kami ketahui tentang Syi’ah ada di antara mereka yang sifatnya moderat, ada yang religius, dan ada pula yang nyeleneh sebagai mana kita di Sunni ada yang seperti itu.

Lalu, bagaimana dengan sikap Iran yang mendukung rezim diktator Suriah, Bashar Assad membunuhi rakyat Suriah yang mayoritas Sunni? 

Kami sangat menyayangkan keputusan Iran dalam hal ini. Hal ini pantasnya kita tanyakan langsung ke Iran. Iran berada dalam posisi dilematis. Kebijakan Iran sebelumnya mendukung revolusi di negara-negara Arab  seperti di Tunisia, Mesir, dan Libya. Namun saat ini mereka tampak tidak fair. Maka kami juga menuntut Iran bersikap adil terhadap revolusi di Suriah, seperti mereka telah mendukung revolusi rakyat di negara-negara Arab lainnya.*/Muhammad Husain, Surya Fachrizal  

Rep: Surya Fachrizal Ginting
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

11 Pasien Baru Sembuh, Total 57 Orang di Palestina Pulih dari Covid-19

11 Pasien Baru Sembuh, Total 57 Orang di Palestina Pulih dari Covid-19

Marwah Filindo: Bayi Indonesia-Palestina Pertama Lahir di Gaza Siang Tadi

Marwah Filindo: Bayi Indonesia-Palestina Pertama Lahir di Gaza Siang Tadi

‘Israel’ Telah Bombardir Gaza Selama Sepekan

‘Israel’ Telah Bombardir Gaza Selama Sepekan

Gaza Cabut Pembatasan Covid-19, Masjid hingga Pasar Dibuka Kembali

Gaza Cabut Pembatasan Covid-19, Masjid hingga Pasar Dibuka Kembali

Tiga Putranya Syahid, Ummu Nidhal Malah Bagi-bagikan Manisan

Tiga Putranya Syahid, Ummu Nidhal Malah Bagi-bagikan Manisan

Baca Juga

Berita Lainnya