Ahad, 14 Februari 2021 / 2 Rajab 1442 H

Langsung dari Gaza

Mencari Ikan di Laut Palestina, Ditembaki, Dirampas, Ditangkap, Dibunuh…

Bagikan:

Garis merah putus-putus adalah batas pengepungan. Jangankan melewati, mendekati saja para nelayan Palestina akan ditembaki, dirampas perahunya, ditangkap bahkan dibunuh oleh angkatan bajak laut Israel. Peta: Google

JALUR GAZA, Jum’at (Sahabatalaqsha): Para nelayan termasuk lapisan rakyat yang paling berat menjalani akibat pengepungan yang sudah berlangsung lima tahun atas Gaza ini. Bukan saja penghasilannya untuk hidup sehari-hari semakin tipis, nyawa mereka pun selalu terancam oleh kejahatan angkatan bajak laut Israel.

Amjad Say-Syirafi (kiri), ketua persatuan nelayan Palestina. Foto: Sahabat Al-Aqsha

Dengan izin Allah, kemarin Tim Sahabat Al-Aqsha (SA2Gaza) melaut bersama dua orang nelayan ke lepas pantai yang sedang dikepung itu. Salah satu nelayan itu bernama Amjad Asy-Syirafi, Ketua Persatuan Nelayan Palestina yang beranggotakan 3.700-an orang nelayan.

Pria berusia 40 tahunan itu menjelaskan, “Tiga tahun terakhir ini, pengepungan bertambah parah.” Menurut Amjad, dalam kurun waktu tersebut, angkatan bajak laut Israel tak henti-hentinya mengganggu para nelayan yang mencari ikan untuk penghidupan istri dan anak-anaknya.

Inilah yang mereka lakukan atas para nelayan Palestina di laut lepas dalam tiga tahun terakhir:

menangkap dan memenjarakan 25 orang nelayan

menembak mati syahid 8 orang nelayan

menembak 30 orang nelayan hingga luka-luka

(saat wawancara dilakukan) memenjarakan 7 orang nelayan

merampas 25 kapal dan perahu nelayan dan tidak dikembalikan

merampas 250 unit motor penggerak perahu nelayan

“Mereka mengumumkan bahwa kami (nelayan) hanya boleh melaut sampai 3 mil laut (= 4,8 km),” kata Amjad, “namun pada kenyataannya, berbagai kejahatan itu menimpa nelayan-nelayan dalam jarak hanya 2,5 bahkan 1,5 mil dari pantai.”

Setiap hari, kerugian yang diderita para nelayan Palestina mencapai sekitar 10 ribu dolar Amerika (hampir 100 juta rupiah), akibat pengepungan ini.

Amjad ingat, hari ketika pertama kali mendung pengepungan menyelimuti langit di atas kepala para nelayan, “Tanggal 24 Juni 2006. Sejak hari itu para nelayan Palestina tidak bisa melaut lebih dari 3 mil. Waktu itu kami ditangkapi, ditembaki… Hari itu bertepatan dengan diculiknya Ghilad Shalit.”

Mungkinkah para nelayan ini dikawal oleh polisi laut Palestina?

Ayman Baroud, perwira polisi laut yang juga ikut di perahu kami menjawab, tidak. Menurut penjelasannya, instruksi langsung dari Perdana Menteri Ismail Haniyah menyatakan nelayan tidak bersenjata dan tidak dikawal.

Saat perahu yang kami tumpangi berlayar santai, diangguk-angguk ombak laut Mediterania, dari kejauhan nampak tiga buah perahu nelayan berlayar cepat ke arah kami. Di kejauhan di belakang mereka nampak dua kapal bajak laut Israel.

Kapal-kapal nelayan Palestina itu melaju. Amjad dan Ayman berteriak-teriak agar mereka berhenti dan merapat ke perahu kami. Jarak perahu kami dengan pantai Gaza masih kurang dari satu mil. Satu perahu mendekat dan merapat.

Di atas perahu itu ada empat orang pria, dipimpin seorang lelaki bertopi dan berkacamata.  Rambutnya serta berewoknya sudah memutih di sana-sini. Tiga orang lainnya berusia lebih muda, mungkin belasan atau dua puluhan tahun.

Kami saling berkenalan. Nama lelaki berkacamata itu Hasan Hadir Bakr, 54 tahun. Tiga bulan yang lalu ditangkap oleh bajak laut Israel saat mencari ikan pada jarak 2,5 mil laut dari pantai.

Dari subuh sampai menjelang zuhur, hanya dapat 4-5 kg ikan seharga 50 shekel. Solar untuk motor perahu 100 shekel. foto: Sahabat Al-Aqsha

Setelah kami minta, Hasan memperlihatkan hasil tangkapannya hari itu. Ia dan teman-temannya meninggalkan pantai sehabis solat Subuh, dan kembali menjelang zuhur. Ia mengeluarkan ember kecil berwarna hitam. “Ini paling-paling cuma empat kilogram,” katanya dengan nada pahit, “kalau dijual hanya laku 50 shekel, sedangkan untuk solar saja saya harus membayar 100 shekel (1 shekel = 2500 rupiah).” Salah satu pemuda yang bersamanya mengangkat jerigen solar berwarna kuning yang kosong.

Setiap hari Hasan harus mencari nafkah untuk 18 orang anggota keluarganya. Ia tak ingin kedengaran mengeluh, buru-buru menutup penjelasannya dengan kata-kata, “Rabbunaa Kariim… Tuhan kita Maha Pemurah…”

Sebuah perahu motor lagi mendekat. Isinya empat orang juga. Pemimpinnya masih kerabat Hasan, bernama Fahid Ziyad Bakr, 38 tahun. “Belum lama yang laly, motor perahu saya ditembaki sampai rusak, sehingga kami terpaksa pulang ke pantai dengan mendayung…” tutur Fahid.

Tiba-tiba Hasan menyela, “Kami berterima kasih, atas semua bantuan kemanusiaan berupa motor perahu, perahu, kelengkapan mencari ikan, bahkan bengkel perbaikan perahu…”

“Masalah kami bukan kekurangan perlengkapan, tapi penjajah…! Bantu kami melawan penjajah..!” foto: Sahabat Al-Aqsha

Tanpa menarik napas, Hasan melanjutkan dengan suara lebih lantang, “Tapi masalah utama kita, nelayan Palestina, bukan kekurangan alat-alat melainkan penjajahan. Kami minta semua negara Arab dan Islam di seluruh dunia membantu kami menghentikan penjajahan yang menutup pintu ma’isyah kami. Ini kezhaliman yang harus dihentikan! Kami nggak minta apa-apa, selain hentikan penjajahan ini!”

Seluruh lelaki yang ada di kedua perahu itu lalu berebut bicara, menyatakan setujunya mereka atas pendapat Hasan.

Para nelayan yang tegar itu menutup pembicaraan di lepas pantai Gaza itu dengan menitipkan salam. “Sampaikan salam kami kepada saudara-saudara Muslimin kami di Indonesia. Terima kasih. Jangan lupakan kami!”

Dalam perjalanan kembali ke dermaga pelabuhan Gaza kami lebih banyak membisu di atas perahu. Berusaha menyerap kalimat demi kalimat yang disampaikan para lelaki, suami, ayah, pemuda, dan remaja yang pemberani itu. Semoga Allah selalu menjaga mereka. Wa anta khayrul Haafizhiin ya Rabb…

Pandangan mata kami menyapu pagar pelabuhan sederhana yang dibuat dari berton-ton timbunan reruntuhan bangunan di Madinah Gaza yang hancur diserang jet-jet tempur Zionis.

Menjelang perahu kami merapat, Ayman, polisi laut yang bersama kami berkata, “Sebelum mati ditembak rakyatnya sendiri, Yitzhak Rabin (perdana menteri Israel) sempat menceritakan sebuah mimpi kepada ibunya, bahwa negara Israel akan tenggelam dibanjiri laut dari arah Gaza…”

Mimpi buruk bagi penjajah Zionis. foto: Sahabat Al-Aqsha

Menurut Ayman, mimpi buruk Yitzhak Rabin itu hanya karena ia kewalahan melawan satu orang penjuang Palestina di masa itu, namanya ‘Imad ‘Aqil.

‘Imad adalah pemuda Gaza legendaris yang memimpin perjuangan gerilya dengan cara menyamar jadi orang Yahudi. Mati syahid di usia 23 tahun.

“Nelayan kami berjumlah 3700-an orang, doakan agar mereka semua diberi Allah jiwa dan semangat seperti ‘Imad ‘Aqil seluruhnya,” kata Ayman.* (Sahabatalaqsha.com)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Banyak Berita Hoax, Jadilah Insan yang Menahan Diri

Banyak Berita Hoax, Jadilah Insan yang Menahan Diri

“Pejuang Kita Semakin kuat, dengan Izin Allah”

“Pejuang Kita Semakin kuat, dengan Izin Allah”

Gaza Cabut Pembatasan Covid-19, Masjid hingga Pasar Dibuka Kembali

Gaza Cabut Pembatasan Covid-19, Masjid hingga Pasar Dibuka Kembali

“Ma-a salamah Ya Sarukh!”

“Ma-a salamah Ya Sarukh!”

Bismillaah… Kami Memasuki Jalur Gaza Lagi

Bismillaah… Kami Memasuki Jalur Gaza Lagi

Baca Juga

Berita Lainnya