Kerugian Perang Suriah Mencapai 400 Miliar Dollar Amerika

Kerusakan total modal fisik dan sektor distribusinya diperkirakan lebih dari US $ 388 miliar

Kerugian Perang Suriah Mencapai 400 Miliar Dollar Amerika
AFP
Foto yang dirilis Kantor Berita Arab Suriah (SANA) hari Ahad menunjukkan tentang penghancuran Kota Al Nashabiyah di Ghouta Timur yang terkepung

Terkait

Hidayatullah.com-Konflik tanpa akhir selama tujuh tahun di Suriah telah menelan biaya hampir US $ 400 miliar, demikian angka yang dirilis 50 ahli Suriah  di acara United Nation’s Economic and Social Commission for Western Asia (ESCWA) di Lebanon pada Rabu, (08/08/2019).

“Kerusakan total modal fisik dan sektor distribusinya diperkirakan lebih dari US $ 388 miliar.

“Angka itu belum termasuk kerugian manusia yang dihasilkan dari kematian atau hilangnya kompetensi manusia dan tenaga kerja terampil karena perpindahan, yang dianggap sebagai hal yang paling penting dari ekonomi Suriah,” kata ESCWA, dikutip laman Al Araby.

Kendati demikian, ESCWA belum dapat merinci semua kerugian ekonomi yang diderita Suriah selama konflik. ESCWA mengatakan laporan lengkap tentang dampak perang Suriah akan dirilis pada September mendatang.

Baca: Sikap Tegas Ustadz Somad terhadap Tragedi Suriah 

Lebih dari setengah juta orang tewas selama konflik sipil Suriah berlangsung. Konflik pun menyebabkan lebih dari 10 juta penduduk Suriah mengungsi ke berbagai belahan dunia. Sementara 6,2 juta warga Suriah lainnya menjadi pengungsi di dalam negeri.

Sejumlah upaya perundingan perdamaian yang diinisiasi dan dimediasi PBB selalu buntu. Pada Desember 2017, perundingan damai Suriah putaran kedelapan yang digelar di Jenewa, Swiss, berakhir tanpa hasil apapun.

Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura menerangkan, kegagalan perundingan tersebut karena delegasi pemerintah Bashar al-Assad mengajukan prasyarat untuk melakukan pembicaraan langsung dengan oposisi.

Menurut kepala delegasi rezim Pemerintah Suriah, Bashar al-Jaafari, mereka tidak akan melakukan pembicaraan langsung dengan oposisi sebelum menarik diri dari deklarasi Riyadh 2. Deklarasi Riyadh 2 merupakan sebuah pernyataan oposisi yang menolak Presiden Suriah Bashar al-Assad terlibat dalam proses transisi politik di negara tersebut.

Baca: 5 Skenario yang Akan Dihadapi AS di Suriah

De Mistura menilai, prasyarat yang memaksa oposisi untuk menarik diri dari deklarasi Riyadh 2 bukanlah pendekatan logis dan memungkinkan oleh pihak pemerintah. Memperhatikan prasyarat yang diajukan, de Mistura menduga PemerintahSuriah memang tak sungguh-sungguh ingin menemukan solusi melalui negosiasi dengan oposisi.

Namun pada Januari lalu, kemajuan mulai tampak setelah perwakilan pemerintah dan oposisi Suriah menyepakati pembentukan komite konstitusional. Komite itu terdiri dari pemerintah, perwakilan oposisi dalam perundingan intra-Suriah di Jenewa (Swiss), pakar Suriah, masyarakat sipil, pemimpin suku, dan kaum perempuan.

Menurut de Mistura penyusunan konstitusi baru Suriah memang bukan pekerjaan mudah. Namun pekerjaan itu harus dituntaskan. Terkait hal ini, menurut de Mistura, perwakilan Suriah membutuhkan tempat yang aman dan netral untuk menyusun konstitusi.

“Semua rakyat Suriah saat ini membutuhkan gencatan senjata yang berkelanjutan, akses kemanusiaan penuh, dan pembebasan tahanan,” ucapnya.*

Rep: Panji Islam

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !