Inilah Kelompok Kurdi yang Bertempur Bersama Turki dalam Operasi “Olive Branch”

Brigade Hamza, keluar dari SDF tahun 2016. Ia melatih petempur Kurdi dan Arab kemudian bergabung FSA

Inilah Kelompok Kurdi yang Bertempur Bersama Turki dalam Operasi “Olive Branch”
TRTWorld
Petempur FSA

Terkait

Hidayatullah.com–Beberapa petempur Kurdi telah ada di dalam kelompok Tentara Pembebasan Suriah (FSA) di Suriah utara ketika Turki melancarkan operasi militernya terhadap Unit Perlindungan Rakyat (YPG) di Afrin, dan saat ini 400 petempur diharapkan bergabung dalam pertempuran.

Sepasukan tentara elit berjumlah 600, termasuk 400 dari etnis Kurdi, akan memasuki Kota Afrin Suriah untuk bertempur melawan YPG sebagai bala bantuan dalam ”Operasi Tangkai Zaitun”  (Olive Branch).

Mereka menyebutnya “Brigade Elang Kurdi”. Tetapi mereka bukanlah kelompok etnis Kurdi pertama yang bertempur bersama FSA yang mayoritas etnis Arab dan Turkmen, tulis TRTWorld.

Kelompok Kurdi tersebut telah bertempur melawan rezim Suriah di bawah payung FSA sejak 2011, ketika demonstrasi damai menolak rezim berubah menjadi konflik bersenjata setelah Bashar al-Assad menanggapinya dengan kekuatan militer.

Diantara mereka, terdapat tiga kelompok Kurdi penting: Brigade Selahaddin Eyyubi, Brigade Yusuf al Azame dan Brigade Mashaal Tammo, yang dinamai menurut seorang pembela HAM Kurdi yang terkenal.

Kelompok-kelompok itu, yang jumlah petempurnya telah melebihi 700, berada di bawah komando tiga divisi Arab-Turkmen: Sultan Murad, Front al Shamiya, dan Front al Safwa.

Baca: Adu Taktik Strategi di Suriah dan Iraq

Kelompok Kurdi di bawah FSA terpecah selama pertempuran, tetapi banyak dari petempur mereka bergabung ke kelompok lain di bawah payung FSA.

Mengapa mereka menolak bertempur untuk YPG?

Pada tahun 2012, Unit Perlindungan Rakyat (YPG) telah didirikan di wilayah-wilayah mayoritas Kurdi. Mereka mengklaim bahwa mereka merupakan kelompok oposisi seperti yang lainnya. Tetapi ambisi sesungguhnya YPG untuk mengukir sebuah wilayah etnis dan mendirikan sebuah negara Kurdi merdeka di Suriah utara sehingga membedakan kelompok itu dari kelompok oposisi Suriah lainnya.

Kemudian, tentara rezim mundur dari beberapa bagian Suriah utara dan sayap politik YPG, yaitu PYD, mendeklarasikan kekuasaannya atas wilayah-wilayah tersebut tanpa adanya konfrontasi serius. Kolaborasi dengan rezim Suriah membuat FSA menganggap kelompok itu musuh bagi oposisi utama Suriah.

“Kami menyerukan keadilan dan kesetaraan diantara semua rakyat Suriah dalam hak dan kewajiban. Kami menginginkan pengakuan bahasa dan budaya Kurdi, dan kami tidak menginginkan adanya diskriminasi etnis,” Mahmoud Abu Hamza, salah satu komandan Kurdi, yang bertempur di bawah FSA, mengatakan pada Syria Direct pada 2016.

“Kami adalah orang Suriah, tetapi kami juga etnis Kurdi dan berfaksi Kurdi. Tentu saja, kami menolak sistem pemerintahan yang diumumkan oleh PYD, tetapi kami setuju dengan sistem pemerintahan itu jika itu terjadi melalui kesepakatan nasional yang inklusif antara semua komponen sosial rakyat Suriah,” katanya.

Baca: Turki dan Amerika Serikat Sepakat Melatih Ribuan Tentara FSA

Pada akhir 2014, Amerika Serikat (AS) mulai mempersenjatai YPG sebagai sekutunya di lapangan dalam perang melawan ISIS – sebuah langkah yang membuat marah Turki, yang telah mendukung oposisi utama sejak awal perang Suriah. YPG merupakan afiliasi PKK di Suriah, yang masuk daftar organisasi teroris oleh Turki, Uni Eropa (EU), dan AS.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) YPG didirikan dengan dukungan AS pada tahun 2015. Itu terjadi setelah AS mendesak YPG mengubah citranya untuk menghindari penolakan Turki.

Selain YPG, beberapa kelompok mayoritas Kurdi dan Arab juga bergabung dengan SDF dalam upaya untuk merubah imej kelompok tersebut. Tetapi ketika mereka menyadari bahwa SDF sama dengan YPG, beberapa dari kelompok itu meninggalkan SDF.

Brigade Hamza, yang mempunyai jumlah petempur beretnis Kurdi cukup besar, keluar dari SDF pada tahun 2016. Kelompok itu melatih dan mempersenjatai petempur Kurdi dan Arab, dan kemudian bergabung dalam jajaran FSA sebelum operasi bersandi “Euphrates Shield” (Perisai Eufrat) pada Agustus 2016.

Mereka masih berbasis di wilayah operasi “Euphrates Shield” di Suriah utara, yang dibebaskan dari ISIS oleh FSA dengan dukungan Turki.

Pasukan yang didominasi etnis Kurdi, Brigade Elang Kurdi, akan bergabung dengan pasukan Turki dan 25.000 tentara FSA yang sedang bertempur melawan YPG di Afrin, akan terdiri dari para petempur Brigade Hamza.*/Nashirul Haq AR

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !