Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Kabar dari Suriah

Dokter Aleppo: Tak Ada Waktu Bagiku untuk Bersedih

Aljazeera
dr.Bakri Mu'adz, bekerja di RS Al Quds, Suriah
Bagikan:

Hidayatullah.com–Pembunuhan brutal yang dilancarkan oleh Rezim Bashar Al-Assad, dalam dua pekan terakhir terhadap Kota Aleppo meninggalkan banyak kisah pilu.

Kali ini kesaksian datang dari seorang dokter yang sudah memasuki tahun keempatnya melayani masyarakat Aleppo. Dalam sebuah video wawancara berdurasi dua menit dan 31 detik, dr. Bakri Muadz menuturkan kisahnya.

“Saya bertugas di Aleppo sejak Jaisyul Hur (Tentara Pembebasan) menguasai kota ini tahun 2012 silam,” katanya mengawali cerita kepada Aljazeera, Rabu (04/05/2016).

Bakri Muadz adalah adik kandung dari dr. Muhammad Wasim Mu’adz. Seorang dokter anak yang mati dibunuh oleh Pesawat tempur rezim Nusyairiyyah. Wasim Muadz tewas bersama puluhan rekan dan pasien RS Al-Quds setelah sejumlah rudal  menghancurkan rumah sakit tersebut beberapa hari yang lalu.

Baca: Mengenang Wasim Mu’adz, Dokter Periang Dari Timur Aleppo

Bakri Mu’adz sendiri yang menguburkam jasad saudaranya. Namun, hanya berselang satu jam setelah pemakaman berlangsung, dia harus melakukan sebuah operasi organ dalam demi menyelamatkan nyawa korban lainnya. Sehingga tak bisa larut dalam kesedihan.

“Masalah kami adalah, kami tidak punya waktu untuk bersedih. Bagaimana kami dapat larut dalam kesedihan sedangkan di depan kami ada nyawa yang harus diselamatkan?” katanya lagi.

RS Al Quds usai dibom Bashar aSaad

RS Al Quds beberapa saat usai dibom Rezim Bashar al Asaad [AFP]

Bersama saudara kandungnya itu, selama ini Bakri Muadz bekerja paruh waktu. Pagi hari di RS Hakim kemudian selepas Dzuhur di RS Al-Quds, keduanya terletak di bagian timur Kota Aleppo.

Menurut Bakri Muadz, selama bertugas di Rumah Sakit anak Al-Quds, dia menyaksikan sendiri, pesawat tempur Pemerintah Bashar Al-Assad menyerang rumah sakit tersebut mencoba menghancurkannya. Karena, menurutnya, “Rumah Sakit Al-Quds sangat ramai pasien. Sekitar lima puluh pasien berobat setiap harinya ke sana,” terangnya.

Bertahan Walaupun Dibidik

“Sebenarnya target penyerangan pemerintah adalah dokter. Karena jika mereka berhasil membunuh satu orang dokter saja, sama artinya berhasil membunuh seratus pasien,” katanya.

Dokter Suriah1

kegiatan dr. Bakri Mu’adz [Aljazeera]

Namun pun demikian, Bakri Muadz mengaku akan bertahan dan terus berjuang dengan keahlian medisnya.

“Insyaallah saya tetap di sini. Insyaallah saya akan menetap di Aleppo sampai pemerintah berhasil dikalahkan!” pungkasnya.*/MR Utama

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Terkuak, Kartunis Suriah Disiksa Rezim Bashar dengan Dihancurkan Jari-jarinya

Terkuak, Kartunis Suriah Disiksa Rezim Bashar dengan Dihancurkan Jari-jarinya

60 Teroris Tewas, termasuk Pemimpin Misi Khusus Pro Assad

60 Teroris Tewas, termasuk Pemimpin Misi Khusus Pro Assad

Atas Nama Indonesia, untuk Anak-anak yang Ayah-Ibunya Dibunuh Rezim Suriah

Atas Nama Indonesia, untuk Anak-anak yang Ayah-Ibunya Dibunuh Rezim Suriah

Jaisyul Fathi Tumpas Sepuluh Tentara Rezim, Tawan Milisi Berpasport Iran

Jaisyul Fathi Tumpas Sepuluh Tentara Rezim, Tawan Milisi Berpasport Iran

Pasukan Turki Temukan Peledak dalam Quran di Afrin

Pasukan Turki Temukan Peledak dalam Quran di Afrin

Baca Juga

Berita Lainnya