Senin, 24 Januari 2022 / 20 Jumadil Akhir 1443 H

Internasional

Terus Diprotes, Raja Belanda Tidak Lagi Gunakan Kereta Kencana Gouden Koets

Bagikan:

Hidayatullah.com–Raja Belanda Willem-Alexander mengatakan tidak akan lagi menggunakan kereta kencana Gouden Koets, di tengah perdebatan perihal keterkaitan kendaraan kerajaan itu dengan perbudakan era kolonial Belanda.

Salah satu sisi badan gerbong kereta kencana berwarna emas itu dilukis dengan gambar yang, menurut para kritikus, mengagungkan era kolonial Belanda.

“Gouden Koets hanya akan dikendarai lagi ketika bangsa Belanda sudah siap dan saat ini keadaannya tidak demikian,” kata Raja Willem-Alexander dalam pesan video seperti dilansir Associated Press Kamis (13/1/2022).

Lukisan di dinding gerbong – yang dikenal sebagai “Persembahan dari koloni-koloni” – menampakkan orang-orang kulit hitam dan Asia (orang berpakaian adat Jawa lengkap dengan blangkon dan keris) menyerahkan upeti kepada seorang wanita muda berkulit putih simbol Belanda.

Kereta itu saat ini dipajang di museum Amsterdam setelah menjalani restorasi yang memakan waktu lama. Kereta yang ditarik kuda itu sebelumnya dipergunakan anggota keluarga Raja Belanda melalui jalan-jalan di kota Den Haag menjelang awal pembukaan parlemen setiap September.

“Tidak ada gunanya mengutuk dan mendiskualifikasi apa yang telah terjadi melalui lensa zaman kita,” kata Raja Willem-Alexander.

“Sekedar melarang benda dan simbol sejarah tentu saja juga bukan solusi. Sebaliknya, diperlukan upaya bersama yang lebih dalam dan memakan waktu lebih lama. Sebuah usaha yang menyatukan kita dan bukan memecah belah kita,” imbuhnya.

Para aktivis anti-rasisme menyambut baik keputusan itu, tetapi menyeru lebih banyak tindakan dari keluarga Kerajaan Belanda. 

“Dia mengatakan masa lalu tidak boleh dilihat dari perspektif dan nilai-nilai masa kini,” kata Mitchell Esajas, salah satu pendiri The Black Archives di Amsterdam.

“Saya pikir itu adalah kekeliruan karena, juga dalam konteks sejarah, perbudakan dapat dilihat sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan sebuah sistem kekerasan,” imbuhnya.

Tahun lalu, Walikota Amsterdam Femke Halsema meminta maaf atas keterlibatan para mantan gubernur pendahulunya dalam perdagangan budak.

Belanda sebagaimana diketahui sejarahnya sebagai negara adidaya kolonial abad ke-17, di mana pedagang-pedagang Belanda menghasilkan banyak uang dari perbudakan.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Belum Terima Bonus Kawal KTT APEC Polisi PNG Serbu Parlemen

Belum Terima Bonus Kawal KTT APEC Polisi PNG Serbu Parlemen

Presiden Ekuador: Assange Menggunakan Kedubes di London untuk Kegiatan Mata-Mata

Presiden Ekuador: Assange Menggunakan Kedubes di London untuk Kegiatan Mata-Mata

Kurdi Tak akan Serahkan Al Hashemi ke Syiah Baghdad

Kurdi Tak akan Serahkan Al Hashemi ke Syiah Baghdad

Suriah Bergolak Layanan Haji Kekurangan Bus

Suriah Bergolak Layanan Haji Kekurangan Bus

Sepi Jemaat, Ratusan Gereja Friesland Terancam Tutup

Sepi Jemaat, Ratusan Gereja Friesland Terancam Tutup

Baca Juga

Berita Lainnya