Kamis, 9 Desember 2021 / 4 Jumadil Awwal 1443 H

Internasional

Bekas Mendagri Italia Didakwa Penculikan karena Melarang Berlabuh Kapal Penyelamat Migran

Politisi Partai Liga, Italia, Matteo Salvini.
Bagikan:

Hidayatullah.com—Politisi sayap kanan bekas menteri dalam negeri Italia Matteo Salvini hari Sabtu (23/10/2021) menjadi terdakwa penculikan, karena kebijakannya tahun 2019 yang melarang berlabuh di Sisilia sebuah kapal Spanyol penyelamat migran dan membiarkan mereka terkatung-katung selama beberapa hari di laut.

Gugatan ini merupakan perkara pertama yang masuk ke pengadilan dengan Salvini sebagai terdakwa atas tindakannya melarang para migran mendarat di wilayah Italia semasa dia menjabat menteri dalam negeri dari tahun 2018 sampai 2019.

Salvini hadir dalam persidangan perdana yang digelar di Palermo, Sisilia. Agenda sidang pertama itu termasuk pengajuan daftar nama saksi, yang di dalamnya ada nama Richard Gere, aktor Hollywood yang menyempatkan diri mengunjungi para migran di kapal Open Arms saat dia berlibur di Italia bersama keluarganya.

“Sungguh tidak dapat dibayangkan saya harus menjalani persidangan karena saya melakukan pekerjaan saya. Saya merasa prihatin karena, maksud saya, seberapa seriusnya persidangan kasus saya sampai-sampai Richard Gere akan datang dari Hollywood untuk memberikan kesaksian soal karir saya,” kata Salvini.

Salvini bersikeras mengatakan bahwa dia melakukan tugasnya sebagai menteri ketika memutuskan menolak masuk kapal penyelamat Open Arms beserta 147 orang yang diselamatkannya dari Laut Mediterania di lepas pantai Libya.

Semasa menjabat menteri Salvini menerapkan kebijakan keras terkait kedatangan migran yang dianggapnya menimbulkan beban besar bagi negara Italia. Dia melarang kapal-kapal mana saja yang menyelamatkan migran untuk mendarat di wilayah Italia.

Namun, pihak jaksa menuding Salvini justru mangkir dari tugasnya dan menuduhnya telah melakukan penculikan karena menolak memberikan izin kapal Open Arms masuk pada Agustus 2019.

Selama tiga pekan terkatung-katung di kapal tanpa tahu kapan akan mendarat beberapa migran yang putus asa melemparkan diri mereka ke laut. Melihat kondisi semakin buruk, kapten kapal memohon agar diizinkan mendarat di pelabuhan mana saja yang terdekat dengan alasan kemanusiaan dan kesehatan penumpang kapalnya. Sebanyak 83 migran akhirnya diperbolehkan mendarat di Lampedusa.

“Kami mengharapkan keadilan atas penderitaan yang seharusnya tidak terjadi yang dialami semua orang selama 20 hari itu,’’ kata pimpinan LSM asal Spanyol Open Arms, Oscar Camps.

Pengadilan di Catania, Sisilia, awal tahun ini memutuskan untuk tidak mengadili Salvini dalam kasus serupa, di mana dia dituduh menahan 116 migran di atas kapal penjaga pantai Italia di laut selama lima hari, yang juga terjadi pada tahun 2019, lapor AFP.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Empat Belas Marinir AS Tewas Akibat Bom di Bagdad

Empat Belas Marinir AS Tewas Akibat Bom di Bagdad

Lebih dari 100 Mayat Ditemukan Mengapung di Sungai Gangga

Lebih dari 100 Mayat Ditemukan Mengapung di Sungai Gangga

Lebih dari 32 Orang Tewas dalam Pemboman Kembar di Ibu Kota Iraq, Baghdad

Lebih dari 32 Orang Tewas dalam Pemboman Kembar di Ibu Kota Iraq, Baghdad

Rusia Harus Bertindak Apabila Bosnia Herzegovina Gabung NATO

Rusia Harus Bertindak Apabila Bosnia Herzegovina Gabung NATO

PBB Apresiasi Pemberantasan Kelompok ADF Afiliasi ISIS

PBB Apresiasi Pemberantasan Kelompok ADF Afiliasi ISIS

Baca Juga

Berita Lainnya