Kamis, 2 Desember 2021 / 26 Rabiul Akhir 1443 H

Internasional

Bekas Menteri Kehakiman Dkk Diduga Otak Pembunuhan Presiden Haiti Jovenel Moïse

Bagikan:

Hidayatullah.com—Mantan pejabat kementerian kehakiman Haiti Joseph Felix Badio kemungkinan adalah orang yang memerintahkan pembunuhan Presiden Haiti Jovenel Moise, kata seorang kepala Kepolisian Kolombia pada hari Jumat (16/7/2021) mengutip hasil penyelidikan awal.

Moise ditembak mati oleh sekelompok pembunuh bersenjatakan senapan serbu yang menyatroni kediaman pribadinya di perbukitan di atas Port-au-Prince pada 7 Juli.

Penyelidikan oleh otoritas Haiti dan Kolombia, bersama Interpol, atas pembunuhan Moise itu mengungkap bahwa Badio tampaknya memberikan perintah pembunuhan itu tiga hari sebelum serangan, kata Jenderal Jorge Vargas dalam pesan suara yang dikirim ke berbagai media oleh kepolisian seperti dilansir Reuters.

Sulit untuk meminta tanggapan Badio perihal tuduhan itu, di mana keberadaannya tidak jelas.

Menurut Vargas, penyelidikan menemukan bahwa Badio memerintahkan mantan tentara Kolombia Duberney Capador dan German Rivera – yang awalnya telah dikontak untuk memberikan jasa sekuriti –  layanan keamanan – untuk membunuh Moïse.

“Beberapa hari sebelumnya, tampaknya tiga, Joseph Felix Badio, mantan pejabat kementerian kehakiman (Haiti), yang bekerja di unit antikorupsi di badan intelijen umum, mengatakan kepada Capador dan Rivera bahwa mereka harus membunuh Presiden Haiti,” kata Vargas.

Dia tidak memberikan bukti atau memberikan rincian lebih lanjut tentang dari mana informasi itu berasal.

Capador tewas dan Rivera ditangkap oleh polisi Haiti setelah pembunuhan Moise, kata pihak berwenang.

Pada hari Minggu, pihak berwenang Haiti menahan Christian Emmanuel Sanon, 63 tahun, yang konon adalah seorang dokter yang berbasis di Florida, dan menuduhnya sebagai salah satu dalang di balik pembunuhan itu.

Mantan senator Haiti John Joel Joseph sedang dicari oleh polisi setelah Kepala Kepolisian Nasional Haiti Leon Charles mengidentifikasinya sebagai seorang pemain kunci dalam pembunuhan tersebut, sementara Dimitri Herard, kepala keamanan Moïse di istana kepresidenan, juga ditangkap.

“Ini merupakan plot besar, banyak orang ambil bagian di dalamnya,” kata pejabat sementara PM Haiti Claude Joseph dalam sebuah konferensi pers. “Saya bertekad untuk melanjutkan penyelidikan.”

Kelompok pembunuh bayaran itu terdiri dari 26 warga Kolombia dan dua warga Amerika Serikat keturunan Haiti, menurut pihak berwenang Haiti. Delapan belas orang warga Kolombia telah ditangkap, sementara lima dalam pelarian dan tiga terbunuh.

Kebanyakan orang Kolombia yang dituduh terlibat dalam pembunuhan itu masuk ke negara Haiti sebagai bodyguard, kata Presiden Kolombia Ivan Duque hari Kamis. Informasi Itu telah dikonfirmasi oleh kerabat dan kolega mereka yang berhasil ditahan.

Kolombia akan mengirim misi konsuler ke Haiti segera setelah disetujui oleh negara Karibia tersebut, kata Wakil Presiden Kolombia dan Menteri Luar Negeri Marta Lucia Ramirez kepada wartawan pada hari Jumat. Misi konsuler itu akan menemui orang-orang Kolombia yang ditahan, memastikan bahwa hak-hak mereka dihormati, dan mengurus repatriasi jasad mereka yang tewas.

Dia menegaskan kembali pernyataan pemerintah Kolombia bahwa sangat sedikit dari para pria yang terlibat itu – yang merupakan bekas anggota militer – tahu tentang rencana pembunuhan. Pemerintah Kolombia juga mengatakan bahwa siapapun dan dari manapun asal mereka yang terlibat harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Sidang Lanjut 10 Oktober, Perintah Penahanan Belum Dikeluarkan

Sidang Lanjut 10 Oktober, Perintah Penahanan Belum Dikeluarkan

Obama Akan ke London Upayakan Inggis Tidak Keluar Uni Eropa

Obama Akan ke London Upayakan Inggis Tidak Keluar Uni Eropa

China Revisi Perhitungan, Korban Jiwa Covid-19 di Wuhan Melonjak

China Revisi Perhitungan, Korban Jiwa Covid-19 di Wuhan Melonjak

Oposisi Bertempur Sengit di Aleppo, Minta Bantuan Senjata

Oposisi Bertempur Sengit di Aleppo, Minta Bantuan Senjata

Obama: Pelestina Tak Merdeka Jika Menolak Israel

Obama: Pelestina Tak Merdeka Jika Menolak Israel

Baca Juga

Berita Lainnya