Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Perusahaan ‘Israel’ Jual Drone dan Spyware ke Myanmar Meski Terdapat Larangan

Israel spyware Drone Myanmar
Kendaraan Lapis Baja buatan 'Israel' dalam Kudeta Myanmar (Credit @GettyImages)
Bagikan:

Hidayatullah.com–Drone pengintai dan spyware canggih yang diproduksi oleh perusahaan ‘Israel’ dan Barat telah dijual ke Myanmar, meskipun ada larangan ekspor ke negara itu, klaim laporan baru.

Spyware atau perangkat pengintai yang dibeli oleh pasukan Burma sekarang digunakan untuk menindak perbedaan pendapat menyusul kudeta militer awal bulan ini, The New York Times melaporkan pada hari Senin (01/03/2021).

Spyware dan teknologi militer ‘Israel’ seperti drone itu masuk ke Myanmar meskipun ada embargo senjata dan teknologi penggunaan ganda yang diperkenalkan di beberapa negara atas dugaan pembersihan etnis Muslim Rohingya.

‘Israel’ mengklaim termasuk di antara negara-negara yang melarang ekspor teknologi semacam itu ke Myanmar setelah diketahui persenjataan Zionis digunakan untuk melawan etnis minoritas Rohingya.

Tidak jelas, kemudian, bagaimana kendaraan lapis baja buatan ‘Israel’ yang tidak memasuki produksi massal sampai pelarangan, berakhir di jalan-jalan Naypyidaw pada 1 Februari ketika para jenderal militer merebut kekuasaan.

Pakar militer mengidentifikasi kendaraan lapis baja sebagai model yang diproduksi oleh perusahaan Gaia Automative ‘Israel’.

Kepala perusahaan, Shlomi Shraga, mengatakan kepada NYT bahwa dia belum melihat gambar kendaraan yang digunakan di Myanmar dan bersikeras bahwa semua ekspor Gaia Automative memiliki izin yang diperlukan dari kementerian pertahanan Zionis.

“Mari berharap rakyat Myanmar hidup damai dan di bawah rezim demokrasi,” kata Shraga.

Baca juga: Aktivis Hak-Hak Palestina Memblokir Pabrik Inggris Milik Perusahaan Senjata Terbesar Penjajah ‘Israel’

Teknologi yang diproduksi oleh produsen senjata ‘Israel’ Elbit Systems dan perusahaan intelijen digital ‘Israel’ Cellebrite juga telah dibeli oleh Myanmar, menurut tinjauan NYT atas alokasi anggaran Burma.

Elbit mengklaim “tidak memiliki kesepakatan dengan Myanmar sejak 2015 atau 2016” tetapi suku cadang untuk drone pengintai tingkat militer yang diproduksi oleh perusahaan tersebut dijual kepada pasukan Burma pada 2019. Penjualan suku cadang termasuk dalam embargo senjata.

Suku cadang tersebut dijual ke Myanmar Future Science, sebuah perusahaan yang mengklaim sebagai “pemasok alat bantu pendidikan dan pengajaran”.

U Kyi Thar, kepala eksekutif perusahaan, mengatakan Myanmar Future Science melakukan pekerjaan perbaikan pada drone kelas militer setelah membeli suku cadang langsung dari Elbit.

Dokumen-dokumen tersebut, yang diberikan kepada NYT oleh Justice For Myanmar, menunjukkan bagaimana Myanmar menghabiskan jutaan dolar untuk teknologi yang dapat melacak lokasi langsung orang, mendengarkan percakapan mereka dan menambang data di ponsel dan komputer.

Anggaran terbaru termasuk dana untuk perangkat lunak MacQuisition, yang dirancang untuk mengekstrak data dari komputer Apple. MacQuisition diproduksi oleh BlackBag Technologies, sebuah perusahaan Amerika yang diakuisisi oleh Cellebrite ‘Israel’ tahun lalu.

Pengacara hak asasi manusia Burma U Khin Maung Zaw mengatakan perangkat keras dan lunak Cellebrite telah digunakan oleh polisi dalam kasus pengadilan terhadap jurnalis dan aktivis.

Data yang dikumpulkan dengan teknologi Cellebrite digunakan untuk menghukum dua jurnalis Reuters pada 2018. Khin Maung Zaw, yang mewakili jurnalis, mengatakan teknologi itu juga digunakan dalam kasus pengadilan pada 2019 dan 2020.

“Departemen keamanan siber masih menggunakan teknologi itu,” kata pengacara itu. “Sepengetahuan saya, mereka menggunakan Cellebrite untuk memindai dan memulihkan data dari ponsel.”

Seorang juru bicara perusahaan mengatakan kepada NYT Cellebrite berhenti menjual teknologi ke Myanmar pada 2018 dan BlackBag menghentikan penjualan ke negara itu tahun lalu. Perusahaan memiliki kemampuan untuk menangguhkan lisensi dari jarak jauh, pada dasarnya menghapus perangkat lunak dari perangkat apa pun.

“Dalam kasus yang sangat jarang terjadi ketika teknologi kami digunakan dengan cara yang tidak memenuhi hukum internasional atau tidak sesuai dengan nilai-nilai Cellebrite, kami segera menandai lisensi ini untuk tidak diperpanjang dan tidak menyediakan pembaruan perangkat lunak,” ungkap juru bicara itu.

Perusahaan perantara seperti Myanmar Future Science dan MySpace International telah digunakan untuk memperoleh teknologi dari perusahaan internasional seperti Cellebrite.

Namun, embargo internasional masih membuat perusahaan teknologi bertanggung jawab atas pengguna akhir produk mereka meskipun mereka dijual ke entitas sekunder.

Myspace International dipimpin oleh Kyaw Kyaw Htun, seorang pengusaha Burma yang memiliki hubungan dengan petinggi militer.

Situs perusahaan mencantumkan perusahaan teknologi forensik seluler berbasis Cellebrite, BlackBag, dan Swedia, MSAB, sebagai salah satu “pemasok utamanya”.

Situs web perusahaan Burma sejak itu telah dihapus menyusul pertanyaan ekstensif tentang hubungannya dengan Cellebrite.

Ini bukan pertama kalinya perusahaan teknologi ‘Israel’ dituduh melanggar undang-undang ekspor dengan memasok spyware ke rezim otoriter.

Dalam beberapa tahun terakhir, NSO Group telah menghadapi berbagai tuntutan hukum atas pasokan perangkat lunak peretasan ponsel ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan negara-negara lain yang dicurigai menggunakan spyware untuk wartawan dan pembangkang.*

Rep: Fida A.
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Tajikistan Akan Bangun Masjid Terbesar di Dunia

Tajikistan Akan Bangun Masjid Terbesar di Dunia

Erdogan Ingin Kunjungi Gaza

Erdogan Ingin Kunjungi Gaza

Pengadilan Mesir Bebaskan Para Tokoh Jamaah Al Islamiyyah

Pengadilan Mesir Bebaskan Para Tokoh Jamaah Al Islamiyyah

AS Geram, Ribuan Dokumen Perang Afghanistan Bocor

AS Geram, Ribuan Dokumen Perang Afghanistan Bocor

Ikhwanul Muslimin Tolak Tuduhan Arab Saudi

Ikhwanul Muslimin Tolak Tuduhan Arab Saudi

Baca Juga

Berita Lainnya