Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Profesor Hukum di Inggris Dikecam karena Isi Pelajaran yang Islamofobik

profesor islamofobik
Credit image: Geoff Caddick/AFP.
Bagikan:

Hidayatullah.com — Profesor universitas Inggris mendapat banyak kecaman setelah ia menampilkan konten “islamofobik” di depan mahasiswanya.

Pekan lalu, dalam sebuah pernyataan, Masyarakat Islam Universitas Bristol (BRISOC) mengatakan pihaknya “khawatir dengan berbagai keluhan terhadap Profesor Steven Greer dari Fakultas Hukum yang menggunakan retorika dan pernyataan Islamofobik”.

Dilansir Al Jazeera pada Kamis (25/02/2021), para mahasiswa jurusan Hukum mengklaim Geer “seringkali mengungkapkan pandangan yang bisa dianggap Islamofobik, fanatik dan memecah belah di kelas”, kata pernyataan yang ditandatangani oleh beberapa kelompok mahasiswa lainnya.

Meskipun keluhan terhadap Geer ini telah diungkapkan ke media, dia telah dilarang berkomentar apapun oleh universitas. Ini dikarenakan universitas sedang melakukan penyelidikan dan dia terikat oleh kewajiban kerahasiaan.

Namun dia memberi tahu Al Jazeera bahwa dia menyangkal tuduhan itu.

Presiden BRISOC, Aamir Mohamed, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa keluhan pertama datang September lalu dan kelompok itu mengajukan keluhan resmi ke universitas pada November.

Seorang mahasiswa hukum di universitas mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia mengajukan keluhan independen tentang Greer tahun lalu.

BRISOC menuntut permintaan maaf resmi dari Greer dan penghapusan konten yang dianggap bermasalah, dalam modul hak asasi manusia.

BRISCO juga meminta permintaan maaf dari universitas karena “mendanai, mendukung dan mempromosikan” pekerjaan Greer dan untuk “tanggapan yang lambat” sejak pengaduan dibuat, kata pernyataan itu.

Pihak universitas mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka telah bekerja untuk mengatasi masalah tersebut.

 

Konten ‘Islamofobia’

Prinsip pengaduan terhadap Greer terkait dengan modul hak asasi manusia yang ia ajarkan, berjudul Hak Asasi Manusia dalam Hukum, Politik dan Masyarakat.

BRISOC menyoroti beberapa baris dalam slide kuliah yang mereka berikan kepada Al Jazeera dari modul.

Salah satu mahasiswa Greer menyebut slide itu sebagai gambaran dari “pandangan fanatik dan salah mengenai Islam”.

Dalam bagian yang membahas “Islam dan hak asasi manusia”, Greer mencantumkan kebebasan berekspresi sebagai “tantangan utama”, dan menyoroti “penghinaan terhadap Islam bisa dihukum mati”.

Slide tersebut memberikan contoh, serangan mematikan Charlie Hebdo.

Insiden itu menyaksikan orang-orang bersenjata membunuh setidaknya 12 orang ketika mereka menyerang majalah satir Prancis pada tahun 2015 karena karikatur yang menghujat Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Syeikh Al Azhar dan Para Ulama akan Tuntut Charlie Hebdo atas Penghinaan Terhadap Rasulullah

Seorang mahasiswa yang menghadiri kelas Greer mengatakan dia terkejut dengan beberapa konten, yang memberi kesan bahwa Islam “pada dasarnya buruk” dan “tidak sesuai dengan kebebasan”.

“Penyerangan Charlie Hebdo adalah serangan teroris. Para pemimpin Muslim tidak hanya mengutuk pembunuhan tersebut, tetapi fakta bahwa profesor benar-benar menggunakannya sebagai bukti pendirian Islam tentang kebebasan berekspresi benar-benar mengerikan,” kata mahasiswa hukum, yang tidak ingin disebutkan namanya, kepada Al Jazeera.

Menurut FOSIS, sebuah badan perkumpulan Islam di universitas-universitas Inggris, kasus Bristol tidaklah unik.

“Banyak kasus menjadi perhatian kami secara teratur di mana universitas telah gagal untuk mengenali dan menangani secara memadai kekhawatiran mahasiswa Muslim dan pengalaman mereka dengan Islamofobia,” Muna Ali, wakil presiden urusan kemahasiswaan di FOSIS, mengatakan kepada Al Jazeera.

Menurut National Union of Students, ada lebih dari 300.000 mahasiswa Muslim di Inggris.

Sebuah studi NUS pada tahun 2018 mengungkapkan bahwa satu dari tiga siswa Muslim di Inggris pernah mengalami pelecehan atau kejahatan di tempat belajar mereka, sementara satu dari empat mengatakan mereka tidak akan melaporkan insiden Islamofobia.

“Islamofobia sebagian besar tetap tidak diakui dan dengan perluasan, diterima dan dinormalisasi dalam pendidikan tinggi,” Sofia Akel, dari Pusat Ekuitas dan Inklusi di London Metropolitan University, mengatakan kepada Al Jazeera. “Kelalaian yang disengaja adalah keterlibatan.”

Rep: Nashirul Haq
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Bilal Philips Gugat Dai Malaysia 3 Milyar atas Tuduhan Pencemaran Nama Baik

Bilal Philips Gugat Dai Malaysia 3 Milyar atas Tuduhan Pencemaran Nama Baik

Zionis-Israel Legalkan UU “Penggusuran”

Zionis-Israel Legalkan UU “Penggusuran”

Sekjen PBB Kecam Pertempuran di Libya Barat

Sekjen PBB Kecam Pertempuran di Libya Barat

Dukung Israel, Mitt Romney Sindir Obama

Dukung Israel, Mitt Romney Sindir Obama

Usulan Otonomi Bangsamoro Disetujui Kongres Filipina

Usulan Otonomi Bangsamoro Disetujui Kongres Filipina

Baca Juga

Berita Lainnya