Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Internasional

Lebih dari 1.200 Ekstremis Kanan-Jauh Jerman Memegang Izin Kepemilikan Senpi

Bagikan:

Hidayatullah.com—Dinas intelijen dalam negeri Jerman BfV mengungkap bahwa saat memantau ekstremis kanan-jauh yang telah dikenal dan yang masih terduga pada Desember lalu, mereka menemukan ada 1.203 orang di antara mereka memegang izin kepemilikan senjata api (senpi).

Menurut data Desember 2019 yang juga dirilis Kementerian Dalam Negeri, sebanyak 528 pemegang lisensi senpi adalah mereka yang disebut Reichsbürger, anggota sebuah organisasi sayap kanan yang menolak aturan demokrasi Jerman.

Tidak hanya itu, sebanyak 17 kasus latihan menembak tunggal atau beruntun yang dihadiri oleh ekstremis-ekstremis sayap kanan antara awal 2019 dan akhir 2020 diketahui oleh BfV, tiga perempat dari jumlah itu berlangsung di tempat-tempat lain di Eropa.

Penggunaan lapangan menembak itu sendiri bukanlah perbuatan pidana, imbuh kementerian, mengutip Kepolisian Federal Jerman.

Menjawab serangkaian pertanyaan di parlemen yang diajukan oleh oposisi dari Partai Kiri, Kemendagri mengatakan BfV belum tuntas menghitung berapa jumlah lisensi senjata api yang dipegang ekstremis sayap kanan pada tahun 2019, lansir DW Selasa (2/2/2021).

Pada bulan Desember 2019dalam perdebatan RUU kepemilikan senjata api di majelis rendah parlemen Jerman, Bundestag, pakar urusan dalam negeri dari Partai Kiri Martina Renner memberikan perkiraan bahwa lebih dari 700 anggota “neo-Nazi” masih memiliki senjata api.

Dalam laporan khusus September tahun lalu, BfV memperkirakan ada 13.000 ektremis sayap kiri yang berpotensial terlibat aksi kekerasan tinggal menetap di Jerman.

Jerman memiliki dua bentuk izin kepemilikan senjata api, satu untuk para pemburu dan peminat olahraga menembak, satunya untuk orang-orang seperti pengawal pribadi yang memerlukan izin khusus untuk membawa senjata di tempat publik. Perubahan UU yang belum lama ini dilakukan dimaksudkan untuk memperketat kepemilikan senjata oleh kelompok pertama.

Renner, yang pernah ditunjuk Partai Kiri untuk duduk dalam komisi penyelidikan aksi terorisme, hari Selasa mengatakan bahwa data terbaru menunjukkan meningkatnya ancaman dari kalangan rasis dan neo-Nazi.

“Sebagaimana diduga, melibatkan dinas intelijen BfV terbukti bukanlah kebijakan yang efektif dalam penanganan sayap kanan bersenjata,” kata Renner, yang secara pribadi pernah menerima ancaman dari kelompok kanan-jauh.

Dalam pertanyaan di parlemen yang diajukan Desember lalu, Renner dan koleganya dari Partai Kiri juga meminta informasi tentang penggunaan senjata legal maupun ilegal pada tahun 2019 dan 2020.

Menjawab pertanyaan, Kemendagri mengatakan bahwa Kepolisian Federal Jerman pada tahun 2019 mencatat ada 176 tindak kekerasan dengan senjata api, dan pada tahun itu pula terjadi pembunuhan kepala pemerintahan distrik Kassel, Walter Lubcke, yang sangat menggemparkan Jerman. 

Kasus pembunuhan Lubcke itu berujung pada hukuman seumur hidup bagi seorang pria warga Kassel anggota neo-Nazi bernama Stephen Ernst yang berstatus menikah dan memiliki dua anak, serta hukuman penjara yang jauh lebih ringan untuk Markus H yang dibebaskan dari dakwaan pembunuhan tetapi divonis bersalah dalam kasus kepemilikan senjata api secara ilegal.

Walter Ernst dan Markus H keduanya dilatih menggunakan senjata api jenis handgun dan senpi laras panjang di dua klub menembak dekat Kassel, papar Kemendagri.

Pelaku penembakan bermotif rasisme tahun 2020 di Hanau, Tobias R, diketahui pada tahun 2019 tiga kali mengunjungi lapangan tembak di Slovakia, imbuh Kemendagri. Dua kali dia ditolak mendaftar, dan pada kali ketiga dia berlatih secara mandiri. Pada Februari 2020, pria Jerman berusia 43 tahun itu membunuh 9 orang di Hanau, sebelum akhirnya membunuh ibunya dan dirinya sendiri.

Pihak berwenang juga menjawab pertanyaan tentang penggunaan senjata di lingkungan akomodasi pencari suaka. Kemendagri mencatat ada 24 insiden tindak kejahatan bermotif politik yang dilakukan orang berideologi kanan-jauh pada tahun 2019, kebanyakan menggunakan senapan angin dan senjata berpendorong gas, serta pistol peringatan.

Pada tahun 2020 tercatat tujuh insiden tindak kejahatan dengan menggunakan senjata di tempat akomodasi pencari suaka.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Toko Lingerie Wanita di Sharjah Dilarang Pekerjakan Pria

Toko Lingerie Wanita di Sharjah Dilarang Pekerjakan Pria

Sudan Dilaporkan telah Melanjutkan Rencana Normalisasi dengan ‘Israel’ di Bawah Tekanan AS

Sudan Dilaporkan telah Melanjutkan Rencana Normalisasi dengan ‘Israel’ di Bawah Tekanan AS

Mesir Jalin Kerjasama Pariwisata dengan Iran

Mesir Jalin Kerjasama Pariwisata dengan Iran

235 Orang Meninggal dalam Serangan Bom di Masjid Ar Raudhah Mesir

235 Orang Meninggal dalam Serangan Bom di Masjid Ar Raudhah Mesir

Pasca Qadhafi, Amerika Jadi Mitra Libya

Pasca Qadhafi, Amerika Jadi Mitra Libya

Baca Juga

Berita Lainnya