Rabu, 7 Juli 2021 / 28 Zulqa'dah 1442 H

Internasional

Erdogan Sebut Presiden Prancis Perlu Pemeriksaan Mental atas Sikapnya terhadap Muslim

Anadolu Agency 
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
Bagikan:

Hidayatullah.comPresiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali mengecam Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Erdogan mengatakan bahwa Macron membutuhkan perawatan dan “pemeriksaan mental” atas sikapnya terhadap Muslim dan Islam, Al Jazeera melaporkan.

Awal bulan ini, Macron berjanji untuk melawan apa yang ia sebut “separatisme Islam”, yang menurutnya mengancam untuk mengambil kendali di beberapa komunitas Muslim di sekitar Prancis, menuai teguran tajam dari Erdogan.

Prancis sejak itu diguncang oleh pemenggalan seorang guru sejarah awal bulan ini. Penyerang ingin membalas penggunaan kartun Nabi Muhammad oleh guru di kelas tentang kebebasan berekspresi.

“Apa masalah orang bernama Macron ini dengan Muslim dan Islam? Macron membutuhkan perawatan pada tingkat mental,” kata Erdogan dalam pidatonya di kongres provinsi Partai AK-nya di kota Kayseri Turki tengah pada hari Sabtu (24/10/2020).

“Apa lagi yang bisa dikatakan kepada seorang kepala negara yang tidak memahami kebebasan berkeyakinan dan yang berperilaku seperti ini kepada jutaan orang yang tinggal di negaranya yang merupakan anggota dari agama yang berbeda?” Kata Erdogan. “Pertama-tama, lakukan pemeriksaan mental.”

Prancis mengatakan akan menarik utusannya ke Turki untuk konsultasi setelah komentar “tidak dapat diterima” oleh Erdogan yang mempertanyakan kesehatan mental Macron.

“Komentar Presiden Erdogan tidak bisa diterima. Kelebihan dan kekasaran bukanlah metode. Kami menuntut agar Erdogan mengubah arah kebijakannya karena berbahaya dalam segala hal,” kata seorang pejabat kepresidenan Prancis kepada kantor berita AFP.

Pejabat Elysee, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, juga mengatakan Prancis telah mencatat “tidak adanya pesan belasungkawa dan dukungan” dari presiden Turki setelah pemenggalan kepala guru Samuel Paty di luar Paris.

Partai AK yang didirikan Erdogan pertama kali berkuasa pada tahun 2002. Dia telah berusaha untuk mengubah Islam menjadi arus utama politik di Turki, negara yang mayoritas Muslim tetapi sekuler.

Presiden Turki mengatakan pada 6 Oktober setelah komentar awal Macron tentang “separatisme Islam”, bahwa pernyataan itu adalah “provokasi yang jelas” dan menunjukkan “ketidaksopanan” pemimpin Prancis.

Macron bulan ini juga menggambarkan Islam sebagai agama “dalam krisis” di seluruh dunia dan mengatakan pemerintah akan mengajukan rancangan undang-undang pada bulan Desember untuk memperkuat undang-undang tahun 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis.

Prancis dan sekutu NATO-nya berselisih mengenai berbagai masalah termasuk hak maritim di Mediterania timur, Libya, Suriah dan yang terbaru konflik yang meningkat antara Armenia dan Azerbaijan atas Nagorno-Karabakh.

Erdogan dan Macron membahas ketidaksepakatan mereka dalam panggilan telepon bulan lalu dan setuju untuk meningkatkan hubungan dan menjaga saluran komunikasi tetap terbuka.*

Rep: Fida' A,
Editor: Rofi' Munawwar

Bagikan:

Berita Terkait

Rakyat Mesir Protes Blokade Israel atas Gaza

Rakyat Mesir Protes Blokade Israel atas Gaza

Kru Jetman Dubai Asal Prancis Tewas Saat Berlatih

Kru Jetman Dubai Asal Prancis Tewas Saat Berlatih

Tersangka Sebut Ayah Aylan Kurdi Juga Penyelundup Manusia

Tersangka Sebut Ayah Aylan Kurdi Juga Penyelundup Manusia

Dianggap Pro-Rusia Presiden Ceko Dilempari Telur dan Tomat

Dianggap Pro-Rusia Presiden Ceko Dilempari Telur dan Tomat

Ribuan Muslim Malaysia Menentang Pemurtadan

Ribuan Muslim Malaysia Menentang Pemurtadan

Baca Juga

Berita Lainnya