Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Internasional

Pisah dari Sudan, Rakyat Sudan Selatan Tidak Pernah Merasakan Kedamaian

Wilayah Sudan, dan jalur pipa minyak Sudan Selatan ke Port Sudan di Laut Merah.
Bagikan:

Hidayatullah.com—Sudan Selatan memang sudah berpisah dari negara Sudan yang berpusat di Khartoum, tetapi menurut seorang uskup agung negara itu rakyat tidak pernah merasakan kedamaian.

Perjanjian damai yang dicapai awal tahun ini diharapkan mengakhiri perang saudara yang berkobar sejak Desember 2013, yang berawal dari perebutan kekuasaan di negara baru itu. Sudan Selatan resmi memisahkan diri dari Sudan pada 9 Juli 2011.

Bagi ribuan rakyat Sudan Selatan yang tinggal di negara-negara bagian Equatoria Barat, Tengah dan Timur, perjanjian damai tersebut tidak pernah terwujud. Selama beberapa bulan terakhir pertempuran berlanjut antara kelompok pemberontak yang dikenal sebagai National Salvation Front dan pasukan pemerintah.

Paul Benjamin Yugusuk, uskup agung Equatoria Tengah, mengatakan kepada BBC Focus on Africa Jumat (28/8/2020) bahwa di wilayahnya dia melihat “sangat banyak orang yang kehilangan tempat tinggal… orang-orang yang terbunuh dan orang-orang yang disiksa.”

Menurut Yugusuk situasinya semakin memburuk dan “kelihatannya masyarakat tidak pernah menikmati kedamaian sejak [kesepakatan] itu ditandatangani.”

Sudan Selatan sebenarnya merupakan negara yang kaya akan sumber minyak. Menyusul pemisahan diri dari Khartoum, negara Sudan bahkan hingga kini mengalami krisis berkepanjangan disebabkan sumber devisanya berupa minyak berkurang sangat banyak. Sebagian besar ladang minyak Sudan yang produktif berada di selatan yang kini masuk ke dalam wilayah Sudan Selatan. Kekuatan-kekuatan politik dan kelompok bersenjata Sudan Selatan berlomba untuk menguasai kursi pemerintahan dan ladang minyak tersebut, sehingga memicu perang sipil alias perang saudara. 

Ironisnya, salah satu alasan utama mengapa Sudan Selatan memilih memisahkan diri dari Sudan adalah karena rakyatnya menuding pemerintah Khartoum menguasai sumber daya alamnya itu, mereka dimarjinalkan dan tidak pernah merasakan keuntungannya.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Lagi, Lalu Lintas Lumpuh Akibat Percobaan Bunuh Diri di Jembatan Selat Bosphorus

Lagi, Lalu Lintas Lumpuh Akibat Percobaan Bunuh Diri di Jembatan Selat Bosphorus

Wabah Covid-19 di Brazil Mengancam Kesuksesan Paraguay Menangani Pandemi

Wabah Covid-19 di Brazil Mengancam Kesuksesan Paraguay Menangani Pandemi

Iran Tembakkan Rudal ke Samudera Hindia

Iran Tembakkan Rudal ke Samudera Hindia

Noam Chomsky: “Berdasarkan UU AS, Bush Harus Dihukum Mati”

Noam Chomsky: “Berdasarkan UU AS, Bush Harus Dihukum Mati”

Hungaria Ancam Gugat Uni Eropa Terkait Kewajiban Menampung Pengungsi

Hungaria Ancam Gugat Uni Eropa Terkait Kewajiban Menampung Pengungsi

Baca Juga

Berita Lainnya