Dompet Dakwah Media

BAMF: Jerman Lebih Baik Mencari Pekerja Terampil dari Eropa Selatan

BAMF: Jerman Lebih Baik Mencari Pekerja Terampil dari Eropa Selatan
Pengungsi Iraq di Jerman.

Terkait

Hidayatullah.com—Pimpinan Kantor Federal Urusan Migrasi dan Pengungsi Jerman (BAMF) Hans Eckhard Sommer mengatakan bahwa mengintegrasikan pengungsi ke dalam pasar tenaga kerja Jerman, dan menyeru agar Jerman fokus menarik para pekerja terampil dari negara-negara di selatan Eropa.

Dalam wawancara dengan koran Jerman Rheinische Post terbitan hari Sabtu (1/2/2020), Sommer mengatakan bahwa ada banyak pemuda pengangguran berpendidikan di Eropa Selatan yang dianggap “lebih mudah” berintegrasi.

Mulai 1 Maret 2020 pemerintah Jerman akan menerapkan undang-undang imigrasi tenaga kerja terampil untuk lebih memudahkan orang-orang asing berkemampuan tinggi bekerja di Jerman, lansir DW.

Berdasarkan undang-undang Uni Eropa, tidak ada rintangan hukum bagi warga negara-negara anggota UE untuk bekerja di negara lain yang tergabung dalam blok ekonomi terbesar dunia itu.

“Menurut saya kita harus berkonsentrasi lebih keras dalam merekrut tenaga-tenaga profesional dari Eropa,” kata Sommer.

Sommer mengatakan bahwa BAMF selama ini selalu menyadari hanya ada segelintir pekerja terampil potensial yang tiba di Jerman sebagai pengungsi, seraya menambahkan bahwa sekitar 17% partisipan dari kursus integrasi yang digelar BAMF merupakan orang-orang buta huruf.

Meskipun demikian, Sommer mengatakan bahwa pengungsi yang mengikuti kursus literasi bisa dianggap “sangat berkomitmen.” Sekitar 13% pasrtisipan yang belum pernah sama sekali belajar membaca dan menulis mampu memahami bahasa Jerman hingga tingkat intermediate, yang normalnya diajarkan selama enam tahun pendidikan dasar.

Pimpinan BAMF itu juga memperingatkan agar tidak merekrut terlalu banyak tenaga kerja terampil dari negara-negara berkembang, sebab hal itu akan mengakibatkan negara-negara yang perekonomiannya belum maju akan sulit berkembang dikarenakan kehilangan banyak orang pandai.

“Saya menilainya problematik apabila kita membawa banyak orang berpendidikan tinggi ke Jerman dari negara-negara yang belum berkembang,” kata Sommer, menyarankan Jerman lebih baik memberikan dukungan pendidikan dan penciptaan lapangan kerja.

“Apabila kita menghalangi atau tidak mendukung perkembangan negara-negara ini, maka kita sendiri berisiko menciptakan gelombang pengungsi selanjutnya,” imbuh Sommer, mengingatkan akan krisis pengungsi yang membanjiri Jerman beberapa tahun terakhir yang kemudian memicu banyak masalah sosial dan keamanan, setelah Kanselir Jerman Angela Merkel memberlakukan kebijakan pintu terbuka bagi para pengungsi dan migran pada 2015.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !