Dompet Dakwah Media

Arab Saudi Khawatir akan Menjadi Target Selama Krisis AS-Iran

Pompeo menulis: “Hubungan AS-#Saudi tetap sangant penting untuk melawan perilaku merusak rezim Iran & membawa keseimbangan di Timur Tengah.”

Arab Saudi Khawatir akan Menjadi Target Selama Krisis AS-Iran
Pangeran Khalid bin Salman bertemu Presiden AS Donald Trump pada tanggal 7 Januari 2020 [twitter]

Terkait

Hidayatullah.com-Wakil Menteri Pertahanan Saudi Khalid Bin Salman kemarin mengatakan bahwa dia telah berdiskusi dengan Presiden AS Donald Trump terkait koordinasi dan upaya bersama untuk menghadapi tantangan regional dan internasional lapor Middle East Monitor pada Kamis 9 Desember 2020.

Putra raja Saudi itu mentweet: “Saya kemarin bertemu, Presiden AS Donald Trump, membawa pesan dari Putra Mahkota Mohammed Bin Salman.”

Dia menjelaskan bahwa dia “membahas dengan [Trump] aspek kerja sama dan koordinasi antara kedua negara dalam berbagai aspek, termasuk upaya bersama untuk menghadapi tantangan regional dan internasional.”

Khalid bin Salman, yang tiba di Washington pada Senin, mengatakan dia bertemu dengan Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo dan Menteri Pertahanan, Mark Esper, secara terpisah untuk membahas langkah-langkah yang memungkinkan untuk mempertahankan stabilitas di regional dan kerja sama militer, beberapa hari setelah kematian Jenderal Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds Iran, dalam serangan AS di Baghdad pada Jumat.

Dalam ciutannya di Twitter, Pompeo menulis: “Hubungan AS-#Saudi tetap sangant penting untuk melawan perilaku merusak rezim Iran & membawa keseimbangan di Timur Tengah.”

Pada Senin, CNN mengutip sumber pemerintahan Saudi yang mengatakan bahwa selama pertemuan dengan Pompeo, Khalid bin Salman “meminta untuk menahan diri”.

Sumber itu menambahkan: “Kami tidak menginginkan kekacauan di wilayah. Kami pernah menjadi target sebelumnya (…) dan kami mungkin menjadi target lagi.”

Dia mencatat bahwa pemerintah Saudi tidak menyadari bahwa Soleimani sedang mengirimkan pesan untuk Saudi pada hari kematiannya seperti yang dinyatakan oleh Perdana Menteri Iraq Adil Abdul-Mahdi pada Ahad.

Ketegangan politik antara Iraq dan AS muncul setelah pembunuhan Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani bersama Wakil Komandan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), Jamal Jaafar Ibrahimi yang dijuluki milisi Syiah Abu Mahdi Al-Muhandis. Peristiwa ini didahului oleh serangan terhadap kedutaan AS sebagai tanggapan atas serangan AS terhadap posisi PMF, yang sebagian besar membunuh tentara dan polisi Iraq.

Pihak AS mengklaim serangan mereka merupakan balasan terhadap serangan roket ke markas militer Iraq di Kirkuk yang menewaskan satu tentara bayaran Amerika. Meskipun tidak ada bukti yang menyangkutpautkan dengan PMF.

Perdana Menteri sementara Iraq Adil Abdul-Mahdi mengatakan bahwa negara tidak akan menjadi arena “balas dendam” antara AS dan Iran, yang pemimpinnya menjanjikan “balasan keras” terhadap AS.*

Rep: Nashirul Haq

Editor: Insan Kamil

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !