5 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Krisis Politik di Sudan

Sejak 3 Juni, 118 kematian telah dilaporkan tetapi pemerintah junta hanya mengakui 61 kematian termasuk tiga yang melibatkan personil keamanan sejak pekan lalu.

5 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Krisis Politik di Sudan

Terkait

Hidayatullah.com–Media sosial di seluruh dunia sedang memantau ke Sudan ketika negara itu dilanda krisis politik menyusul jatuhnya pemerintah Omar al-Bashir (Umar al Basyir) pada 11 April oleh kudeta militer setelah memerintah selama tiga dekade.

Omar diperkirakan akan dibawa ke pengadilan minggu depan dengan tuduhan penyalahgunaan kekuasaan, penyuapan, dan kepemilikan mata uang asing.

Selain itu, Omar juga didakwa dengan tuduhan pencucian uang, pembunuhan, dan terorisme.
Berikut adalah lima hal yang perlu Anda ketahui tentang krisis di Sudan:

1. Presiden digulingkan

Presiden Omar al-Bashir yang memerintah selama 30 tahun digulingkan oleh militer pada 11 April 2019.

2. Militer mengambil alih pemerintahan

Sudan berada di bawah Dewan Transisi Militer (TMC) yang dipimpin oleh Abdel Fattah al-Burhan dan wakilnya Mohamad Hamdan Dagalo atau lebih dikenal sebagai Hemedti. Hemedti bermaksud untuk menggantikan Omar al-Bashir sebagai presiden.

2. Aksi protes

Jenderal Abdel Fattah awalnya setuju dengan Deklarasi Kemerdekaan dan Kekuatan Perubahan (DFCF) menuju transisi pemerintah dalam waktu tiga tahun.

Namun dia kemudian mendesak pemilihan (pemilu) diadakan dalam waktu sembilan bulan yang tidak memberikan partai oposisi kesempatan untuk menempatkan kandidat.

Rakyat bertindak di jalanan dengan menunjukkan urgensi pemerintah pro-demokrasi.

3. Agenda Dewan Transisi Angkatan Darat (TMC)

TMC mengklaim bahwa negara tersebut harus berada di bawah pemerintahan pemerintah junta untuk alasan keamanan.

Namun, Hemedti bertindak keras terhadap peserta unjuk rasa dan mengarahkan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) untuk menyerang Khartoum.

Tindakan pemerintah junta diduga didukung oleh negara-negara sekutu AS seperti Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, dan Mesir.

4. Kematian dan kekerasan

Sejak 3 Juni, 118 kematian telah dilaporkan tetapi pemerintah junta hanya mengakui 61 kematian termasuk tiga yang melibatkan personil keamanan sejak pekan lalu.

Sementara itu, sekelompok dokter menemukan 40 mayat yang diduga menjadi korban serangan RSF di Sungai Nil.

5. #KempenBiru

Gelombang biru tersebar di berbagai platform media sosial melalui tagar #BlueforSudan mengikuti pembatasan internet di negara ini.

Blue dipilih untuk mengenang orang mati, Mohamed Mattar, yang ditembak mati pada 3 Juni.

Menurut keluarganya, warna biru adalah warna favorit insinyur berusia 26 tahun itu. *

Rep: Ahmad

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !