Mahathir: Anwar Ibrahim Pasti akan Menjadi Perdana Menteri

Mahathir: Anwar Ibrahim Pasti akan Menjadi Perdana Menteri

Terkait

Hidayatullah.com–Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menegaskan kembali bahwa dia sudah berjanji akan mundur dari jabatannya setelah dua tahun dan menyerahkannya kepada Ketua PKR Anwar Ibrahim.

“Itu merupakan kepastian. Tak ada lagi pembicaraan tentang siapa [yang akan menjabat PM] dan apa yang akan dilakukan,” kata Mahathir seperti dikabarkan kantor berita Bernama hari Rabu (8/5/2019).

Mahathir mengatakan siapa saja yang menggambil alih jabatan PM darinya tidak diharuskan mengikuti instruksinya, dan tidak juga mengikuti apa yang telah dilakukannya.

“Dia bebas melakukan apa saja yang menurutnya terbaik sebagai perdana menteri. Saya tidak akan berkata apa-apa setelah itu. Tugas saya adalah mempersiapkan negara ini sebisa mungkin,” kata Mahathir dalam wawancara khusus berkaitan dengan satu tahun pemerintahan koalisi Pakatan Harapan.

Mahathir dulu berseteru sengit dengan Anwar Ibrahim, anak didik politiknya. Di akhir tahun 1990-an, sebagai perdana menteri kabarnya dia tidak terima dengan kritikan dan masukan dari Anwar, sebagai wakil PM, agar Malaysia melakukan reformasi besar-besaran. Masa itu, gema reformasi di Indonesia yang ditandai dengan lengsernya Presiden Suharto membahana hingga ke negeri jiran tersebut.

Setelah Anwar mengakhiri jabatannya sebagai wakil PM pada 1998, dia kerap menyuarakan kritikan pedas terhadap pemerintahan koalisi Barisan Nasional pimpinan Mahathir Mohamad. Kicauan Anwar semakin keras dan terus bergema lewat partai politik baru sebagai oposisi yang dibentuknya bersama istrinya, Wan Azizah Wan Ismail, dan putri sulungnya Nurul Izzah. Tak pelak, Anwar harus keluar-masuk bui dengan beragam tuduhan termasuk sodomi.

Waktu bergulir, kedua tokoh politik itu geram dengan pemerintahan PM Najib Razak, terlebih namanya berada di pusaran kasus mega korupsi 1MDB. Akhirnya keduanya sepakat berkongsi dalam koalisi Pakatan Harapan, melupakan permusuhan mereka, dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Najib Razak secara konstitusional lewat pemilu. “Kami sudah saling meletakkan kapak,” kata Anwar usai koalisi Pakatan Harapan diumumkan.

Salah satu isi perjanjian yang dibuat oleh koalisi itu adalah apabila Pakatan Harapan memenangkan pemilu Mei 2018, Mahathir sebagai pimpinan koalisi dan yang menjadi perdana menteri akan menyerahkan kekuasaannya kepada Anwar Ibrahim dalam waktu dua tahun.

Beberapa waktu lalu, Mahathir sempat mengutarakan keraguaannya bahwa 2 tahun itu tidak cukup, sebab masih banyak yang harus dilakukannya sebagai PM.

Namun, setelah ada suara-suara “protes” dari mitra koalisinya yang memperingatkannya soal perjanjian itu, Mahathir menegaskan dia akan memenuhi janjinya. Dia bahkan menegaskan bahwa dia percaya Anwar sekarang sanggup menjadi perdana menteri yang baik.

Semasa jabatan PM Malaysia dipegang Abdullah Badawi dan Najib Razak, Mahathir –yang pensiun dari jabatan itu pada tahun 2003– tidak jarang berkomentar tentang bagaimana seharusnya keduanya menjalankan pemerintahan. Bukan rahasia lagi di Malaysia ada kabar bahwa keduanya “disetir” Mahathir, termasuk soal pemenjaraan Anwar Ibrahim.

Di Malaysia, sebagian orang menyebut Mahathir yang juga populer dengan sebutan Dr. M itu sebagai “God Father” dan tidak sedikit yang melabelinya diktator.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !