Mengapa Berjoget Ria Saat Paskah Terlarang di Jerman?

Mengapa Berjoget Ria Saat Paskah Terlarang di Jerman?
Burung merpati di sekitar Katedral Cologne, Jerman.

Terkait

Hidayatullah.comBerlin selain merupakan ibukota Jerman juga dikenal sebagai ibukota pesta joget atau dansa-dansi Eropa. Namun, selama perayaan Jumat Agung aktivitas menari atau berjoget ria dinyatakan terlarang selama satu hari penuh.

Mungkin peraturan itu terdengar mengejutkan, tetapi sebenarnya, sebagian besar negara bagian di Jerman melarang orang berjoget ria selama Jumat Agung demi menghormati hari libur keagamaan umat Kristen itu.

Dilansir Euronews Jumat (19/4/2019), peraturan yang berlaku di 12 dari 16 negara bagian yang ada di Jerman menyatakan bahwa pada hari Jumat Agung –awal dari perayaan akhir pekan Paskah– terlarang bagi orang untuk berdansa atau berjoget alias menari-nari selama seharian penuh. Empat negara bagian lain hanya memberlakukan larangan parsial.

Peraturan yang lebih ketat diberlakukan di negara bagian Baden-Württemberg dan Bavaria di selatan. Di kedua negara bagian itu, larangan berlaku sejak Kamis Putih dan berakhir pada awal Sabtu Paskah.

Di Baden-Württemberg musik latar diperbolehkan dimainkan di tempat-tempat umum, tetapi orang dilarang menari. Bagi pelanggar dikenai denda sampai 1.500 euro.

Sementara itu di Bavaria, di mana peraturannya lebih ketat lagi, musik apapun dilarang dimainkan di bar-bar dan pelanggar dikenai denda sampai 10.000 euro.

Di negara bagian NordRhine-Westfalen, di mana terdapat kota Cologne dan Dusseldorf, musik dan acara hiburan lain dilarang digelar di restoran dan bar.

Berbeda dengan tiga negara bagian tersebut, di Berlin peraturannya agak longgar. Larangan menari-nari berlaku sejak pukul 4 pagi hingga 9 malam hari Jumat. Artinya, warga yang ingin berjingkrak-jingkrak di klub malam masih memiliki banyak waktu selama perayaan Paskah.

Larangan lain yang biasanya diberlakukan selama Paskah yaitu acara-acara publik, minum-minum di bar dan pertunjukan musik.

Sejak kapan larangan semacam itu diberlakukan?

Sejak puluhan tahun lalu larangan seperti itu diberlakukan di Jerman. Tujuannya agar umat Kristen dapat memperingati Jumat Agung, yaitu peristiwa penyaliban Yesus, dengan khidmat.

Jumat Agung sebenarnya adalah hari berduka cita, meratapi kematian Yesus di tiang salib. Oleh karena itu, aktivitas yang hingar-bingar dinilai kurang layak digelar semasa Paskah, terutama saat Jumat Agung.

Meskipun data yang dikumpulkan Statista menunjukkan lebih dari separuh orang Jerman mengaku mempercayai adanya Tuhan, tetapi hasil studi tahun 2018 menunjukkan bahwa semakin sedikit orang Kristen Jerman yang rutin mendatangi gereja untuk mengikuti kebaktian.

Investigasi yang dilakukan oleh Institute of Economics (IW) di kota Cologne yang dikutip oleh kelompok media Funke menyebutkan bahwa di tahun 1990 sekitar 30% orang Jerman pergi ke gereja. Namun, pada tahun 2015, jumlah orang Jerman yang pergi ke gereja hanya 22%.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !