Lahan di 9 Negara Bagian Lumbung Pangan Amerika Serikat Rusak akibat Banjir

Air bah juga merusak hasil panen bernilai miliaran dolar yang disimpan di gudang, serta menghancurkan jalan dan rel kereta.

Lahan di 9 Negara Bagian Lumbung Pangan Amerika Serikat Rusak akibat Banjir
AFP
Lahan pertanian warga di Craig terendam banjir akibat luapan Sungai Missouri.

Terkait

Hidayatullah.com—Sedikitnya 1 juta ekar (405 hektare) lahan pertanian rusak akibat banjir setelah badai menerpa 9 wilayah negara bagian yang merupakan lumbung pangan Amerika Serikat, demikian menurut data satelit yang dianalisis oleh Gro Intteligent untuk Reuters.

Lahan pertanian mulai dari dua Dakota hingga Missouri dan sekitarnya terendam air lebih dari sepekan, sehingga kemungkinan akan menghambat proses penanaman dan merusak tanah, lapor Reuters Sabtu (30/3/2019). Banjir, yang datang hanya beberapa pekan sebelum musim tanam dimulai di kawasan Midwest, sepertinya akan mengurangi produksi jagung, gandum dan kedelai tahun ini.

“Ada ribuan ekar yang tidak akan dapat ditanami,” kata Ryan Sonderup, 36, warga Fullerton, Nebraska, yang sudah bertani selama 18 tahun dalam wawancara belum lama ini. “Jika ada matahari terus menerus dari sekarang sampai Mei dan Juni, mungkin [penanaman] itu bisa dilakukan, tetapi saya kurang yakin tanah akan pulih dengan curah hujan seperti ini.”

Banjir di musim semi tersebut kemungkinan bahkan berdampak pada lahan pertanian yang lebih luas lagi. Lembaga pemerintah National Oceanic and Atmospheric Administration telah memperingatkan “musim banjir tak terduga” ketika memperkirakan pada musim semi ini akan turun hujan cukup banyak. Sungai-sungai kemungkinan akan meluap hingga air merambah daratan yang jauh, sebab salju di bagian utara banyak yang meleleh.

Bom siklon yang terjadi di pertengahan bulan Maret tahun ini merupakan pukulan terbaru yang dialami para petani di negeri Paman Sam yang terus mengalami penurunan pendapatan dan ekspor disebabkan perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

Lahan pertanian dipenuhi oleh lumpur dan pasir sehingga rusak dan sebagian mungkin tidak dapat ditanami tahun ini. Air bah juga merusak hasil panen bernilai miliaran dolar yang disimpan di gudang, serta menghancurkan jalan dan rel kereta.

Justin Mensik, petani jagung dan kedelai generasi kelima di Morse Bluff, Nebraska, mengatakan pembangunan kembali jalan merupakan prioritas pertama. Kemudian petani harus mendatangkan truk-truk pupuk dan menguji coba tanah sebelum dilakukan penanaman kembali, kata Mensik.

“Banjir meninggalkan banyak lanau, pasir dan lumpur di lahan pertanian, dan kami sekarang juga tidak yakin apakah akan mendapatkan hasil panen yang baik tahun ini dengan semua lumpur dan sampah baru yang berserakan di sini,” kata Mensik kepada Reuters.

Bagi petani, kekhawatiran terbesar saat ini adalah penanaman jagung,” kata Aaron Saeugling, seorang pakar agrikultur di Iowa Stae University yang berusaha menjangkau petani. “Tidak ada cukup waktu untuk mengenyahkan semua kotoran yang ada.”

Agar dapat ditanggung sepenuhnya oleh asuransi, petani di Iowa harus menanam jagung sebelum 31 Mei dan 15 Juni, sebab hasil panen akan berkurang dratis jika penanaman dilakukan pada waktu- waktu setelahnya. Tenggat waktunya berbeda-beda di  setiap negara bagian. Asuransi membantu memastikan petani mendapatkan harga jual minimum ketika mereka menjual hasil panennya.

Hampir 1,1 juta ekar lahan pertanian dan lebih dari 84.000 ekar lahan penggembalaan di kawasan Midwest terendam banjir selama sedikitnya tujuh hari dari tanggal 8 sampai 21 Maret, menurut analisis awal terhadap data dari pemerintah dan satelit oleh Gro Intelligent yang berbasis di New York atas permintaan Reuters. Seberapa luas banjir berdampak pada lahan pertanian sebelumnya belum pernah ada yang mempublikasikan.

Lahan yang terendam banjir itu mencakup kurang dari satu persen lahan di AS yang digunakan untuk menanam jagung, kedelai, gandum, padi, kapas, sorgum dan barley. Pada tahun 2018, total 240 juta ekar dari tanaman itu ditanaman di Amerika Serikat, menurut data USDA.

Iowa merupakan negara bagian AS penghasil utama jagung dan nomor dua penghasil kedelai, yang memiliki air paling banyak, dengan luas lahan 474.271 ekar, disusul kemudian oleh Missouri dengan 203.188 ekar, menurut analisis Gro Intelligent. Analisis tersebut sejalan dengan perkiraan yang diberikan kepada Reuters pekan lalu oleh pejabat-pejabat pemerintah di Iowa dan Missouri.

Gro Intelligent menggunakan data satelit Near Real-Time Global Flood Mapping dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) untuk mengkalkulasi perkiraan luas dan intensitas banjir yang terjadi.

Gro Intelligent kemudian mengidentifikasi mana lahan pertanian atau penggembalaan, berdasarkan data dari National Agricultural Statistics Service (NASS) di Departemen Pertanian AS (USDA).

Gro Intelligent memberikan catatan bahwa analisis yang dilakukannya tidak mencakup citra satelit banjir di Nebraska, di mana pejabat setempat menolak memberikan kepada Reuters data perkiraan berapa ekar lahan pertanian yang terendam banjir di negara bagian itu, demikian pula dengan negara bagian North Dakota. Gubernur Nebraska mengatakan bahwa banjir merusak pertanian negara bagiannya senilai $1 miliar.

Salju yang berada di permukaan bumi atau awan yang menghalangi citra satelit membuat identifikasi daerah terdampak banjir agak sulit, kata Sara Menker, pimpinan eksekutif dari Gro Intelligent, sebuah perusahaan artificial intelligence pertanian.

Di Missouri, banjir menggenangi sekitar 200.000 ekar lahan di 5 wilayah county di bagian barat daya yang bersebelahan dengan Sungai Missouri sampai Rabu pagi (27/3/2019), kata Charlie Rahm, jubir Natural Resources Conservation Service di USDA  di Columbia.

Sementara itu di negara bagian Wisconsin lebih dari 1.000 hewan ternak yang diambil susu dan dagingnya menghilang selama badai di musim dingin, 480 bangunan pertanian ambruk atau rusak, menurut email dari Sandy Chalmers, direktur eksekutif Farm Service Agency di USDA wilayah Wisconsin.

Di dua negara bagian Dakota (North dan South) dan Minnesota, salju yang akan mencair di bulan-bulan mendatang berisiko mengancam waktu tanam gandum di musim semi. Gro Intelligent mendapati hampir 160 juta ekar lahan digenangi air bah di Minnesota.

“Itu belum apa-apa dan kita masih akan menghadapi [banjir] itu setidaknya sampai pertengahan April,” kata Dave Nicolai, seorang pakar agrikultur dari Universitas Minnesota.*

Rep: Ama Farah

Editor:

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !