Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Utusan Amerika Minta Akses ke Xinjiang, Bilang China Kobarkan Perang Melawan Agama

Bagikan:

Hidayatullah.com–Utusan pemerintah Amerika Serikat untuk urusan kebebasan beragama, Sam Brownback, hari Jumat (8/3/2019), menyeru pemerintah Beijing agar menghentikan persekusi agama di China. Hal itu disampaikannya ketika meminta akses untuk mengunjungi wilayah Xinjiang.

Delansir Reuters, dalam pidatonya yang bernada keras saat mengunjungi Hong Kong, Brownback mengatakan Beijing sedang mengobarkan “perang terhadap agama” dan pemerintah China perlu menghormati hak fundamental dan sakral rakyat untuk beribadat.

“Itu adalah perang yang tidak akan mereka menangkan,” kata Brownback kepada hadirin di Hong Kong Foreign Correspondent’s Club.

“Partai Komunis China harus mendengarkan jeritan rakyatnya sendiri yang menuntut kebebasan beragama dan bertindak untuk mengoreksi kesalahan-kesalahannya,” kata Brownback.

Menanggapi masalah kamp indoktrinasi komunisme untuk warga Muslim di Xinjiang, utusan pemerintah Amerika Serikat itu menyinggung soal pelanggaran-pelanggaran hak asasi, termasuk penyiksaan, indoktrinasi politik dan kerja paksa. Kamp tersebut kabarnya menampung lebih dari satu juta orang dari etnis Uighur dan Muslim dari etnis minoritas lainnya.

“Pemerintahan Trump sangat prihatin dan menganggap penindasan ini sebagai upaya sengaja oleh Beijing untuk mendefinisi ulang dan mengontrol identitas, budaya dan kepercayaan (agama) anggota kelompok-kelompok minoritas Muslim ini,” kata Brownback.

Dia menolak mengatakan apakah Amerika Serikat saat ini sedang mempertimbangkan kebijakan atau sanksi baru terhadap China berkaitan dengan tindakan keras China di Xinjiang, termasuk sanksi terhadap pelanggaran HAM yang dilakukan ketua Partai Komunis setempat Chen Quanguo.

“Kami tidak membicarakan masalah-masalah internal tentang apa yang sedang didiskusikan perihal tindakan apa yang akan diambil di tempat manapun di dunia ini, hal serupa berlaku untuk Xinjiang,” ujar Brownback.

Namun, dia mengulangi lagi permintaannya agar diberikan akses kunjungan terbuka ke kamp-kamp semacam itu.

“Saya ingin mendapatkan kesempatan pergi ke sana, tetapi bukan untuk sekedar diberi pertunjukan. Saya ingin mengunjungi sendiri kamp-kamp yang sebenarnya dan berbicara dengan orang-orang di sana dan mewawancarai mereka secara bebas,” kata Brownback.

Beralih ke isu Katolik di China, Brownback mengatakan bahwa kesepakatan bersejarah yang pernah dicapai antara China dan Vatikan tahun 2018, perihal diperbolehkannya paus menunjuk uskup di wilayah China daratan, sampai saat ini belum ada ada realisasinya. Tidak hanya itu, kekerasan pemerintah China terhadap komunitas Katolik masih berlanjut dan belum akan ada tanda-tanda perubahan dalam waktu dekat, kata mantan anggota Senat AS itu.*

Rep: Ama Farah
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Ikhwan Peroleh 70 % Suara dari Luar Negeri

Ikhwan Peroleh 70 % Suara dari Luar Negeri

Hakim California: Produk Kopi Harus Diberi Peringatan Kanker

Hakim California: Produk Kopi Harus Diberi Peringatan Kanker

Fanatik Sepak Bola ‘Israel’ Memberontak atas Kemitraan Klub Beitar dengan Uni Emirat Arab

Fanatik Sepak Bola ‘Israel’ Memberontak atas Kemitraan Klub Beitar dengan Uni Emirat Arab

Covid-19: Suriah Setujui Penggunaan Vaksin Sputnik V

Covid-19: Suriah Setujui Penggunaan Vaksin Sputnik V

Pasangan Asal Filipina Menikah Ulang Secara Islam

Pasangan Asal Filipina Menikah Ulang Secara Islam

Baca Juga

Berita Lainnya