Ingin Hilangkan Kaitan Kolonialisme, Dutrete Ingin Ubah Filipina jadi Maharlika

Maharlika dinilai lebih cocok untuk identitas Filipina yang berada di kawasan Malay atau Melayu

Ingin Hilangkan Kaitan Kolonialisme, Dutrete Ingin Ubah Filipina jadi Maharlika
Rodrigo Duterte

Terkait

Hidayatullah.com–Presiden Filipina Rodrigo Duterte hari Senin, (11/2), kembali mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Setelah sebelumnya mengaku Islam, kini ia mencetuskan gagasan mengubah nama Filipina menjadi Maharlika. Menurutnya, nama Maharlika dinilai lebih cocok untuk identitas Filipina yang berada di kawasan Malay atau Melayu.

Ihwal pergantian nama negara Filipina menjadi ‘Maharlika’ karena ini bertujuan untuk menghilangkan keterkaitan kolonialisme pada nama negara Filipina.

“Kata Filipina ditemukan oleh penjelajah asal Portugal bernama Ferdinand Magellan yang menggunakan mata uang Spanyol bergambar Raja Philip. Tidak apa-apa, mari kita ubah menjadi Maharlika,” kata Duterte dalam sebuah pidatonya saat menyerahkan sejumlah sertifikat tanah di Maguindanao, Filipina.

Dikutip SunStar Manila, Kamis (14/2/2019), Duterte menyerukan kembali seruan yang pernah dilontarkan mendiang diktator Ferdinand Marcos untuk mengubah nama Filipina menjadi ‘Maharlika’. Dalam bahasa lokal, ‘Maharlika’ disebut berarti ‘bangsawan’.

Baca:  Duterte Minta Kongres Sahkan Perpanjangan Darurat Militer di Mindanao

Sebagaimana diketahui, Filipina dijajah oleh Spanyol selama lebih dari 300 tahun. Nama negara Filipina berasal dari nama Raja Spanyol Philip II yang berkuasa antara tahun 1556 hingga 1598 silam.

Ketika Filipina diperintah oleh diktator Ferdinand Marcos (1965 – 1986), pemerintahan Marcos memang pernah mengusulkan penggantian nama Filipina menjadi Maharlika. Usulan tersebut bahkan sudah masuk RUU Parlemen 1978 yang draft-nya disusun oleh mantan senator Eddie Ilarde kala itu. Dalam draf usulan, dijelaskan bahwa Maharlika adalah “warisan kuno” orang Filipina, jauh sebelum kedatangan penjajah Barat. “Maha” adalah bahasa Sanskerta untuk bangsawan atau yang “agung” sementara “likha” berarti menciptakan. Dengan demikian, Maharlika berarti “diciptakan dengan mulia”. Namun, penggantian nama tidak pernah terealisasi karena setelahnya Marcos kehilangan kepercayaan publik akibat kepemimpinan diktator yang korup.

Menurut tim penyidik Amerika Serikat, mantan diktator Filipina, Ferdinand Marcos, juga pernah menggunakan kata Maharlika saat perang dunia II untuk memalsukan catatan militer negaranya. Marcos bahkan mengklaim telah memerintahkan sekelompok gerilyawan yang dikenal Unit Maharlika, tetapi New York Times dalam pemberitaannya menyebut pada 1945 dan 1948 sejumlah perwira Angkatan Darat Filipina menolak permintaan Marcos untuk pengakuan resmi unit tersebut dan menyebut klaim Marcos terdistorsi, dibesar-besarkan, curang, kontradiktif, dan absurd. Tim penyidik di militer Filipina akhirnya menyimpulkan Unit Maharlika adalah fiktif.

Namun rencana mengganti nama Filipina menjadi Maharlika tampaknya masih perlu kesabaran dan pengujian.

Baca: Duterte Setujui ‘UU Otonomi Bangsamoro’, Mewadahi Minoritas Islam

Menurut juru bicara Duterte, Salvador Panelo, rencana penggantian nama itu belum mencapai tahap formal. Menurut Panelo, ucapan Duterte itu sekedar mengekspresikan ide yang pernah muncul dan menyukai nama Maharlika. Panelo menjelaskan, karena penggantian nama negara bila direalisasikan turut mengubah penulisan pada konstitusi, maka penggantian membutuhkan persetujuan publik dengan cara menggelar referendum.

Mengganti nama negara memang bukanlah hal baru. Dari total 195 negara di dunia saat ini, banyak di antaranya yang mengganti nama, terjadi sesaat saat berakhirnya masa kolonialisme, maupun ketika setelah kemerdekaan terjadi. Beberapa lainnya mengganti karena alasan kebudayaan dan untuk lebih dikenal.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte dikenal dengan lontaran-lontaran pernyataan yang mengejutkan. Sebelum ini ia mengaku sebagai pemeluk Islam saat pidato untuk pengesahan Undang-Undang Organik Bangsamoro (BOL) dan menyerang anggota klerus Katolik.

Berbicara di depan banyak orang yang didominasi Muslim dalam pertemuan perdamaian untuk ratifikasi BOL di Kota Cotabato pada 18 Januari 2019, Duterte menegaskan kembali bahwa dia bukan Katolik.

“Ada bagian dari diri saya yang sebenarnya adalah Islam. Itu sebabnya jika saya dan para pendeta gila itu bertengkar, saya bukan Katolik. Saya Islam. Itu benar,” kata Duterte dalam pidatonya, yang dikutip Manila Times, Kamis (24/1/2019).*

Rep: Ahmad

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !