PM Jepang Janji Tanggulangi Kekerasan Terhadap Anak

PM Jepang Janji Tanggulangi Kekerasan Terhadap Anak
Ilustrasi.

Terkait

Hidayatullah.com—Pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe berjanji akan menanggulangi masalah kekerasan terhadap anak di Jepang, setelah seorang anak perempuan berumur 10 tahun tewas mengenaskan di rumah ayahnya. Kasus kekerasan terhadap anak di negeri matahari terbit itu sudah pada taraf menghkhawatirkan.

Mia Kurihara ditemukan tidak bernyawa di kamar mandi rumahnya di Chiba, dekat ibukota Tokyo, bulan Januari, hanya satu tahun setelah mengadu kepada gurunya bahwa ayahnya –Yuichiro Kurihara– kerap memukuli dan merundungnya.

Jasad Mia ditemukan dalam kondisi penuh luka memar, goresan, dan tampak sebelum kematiannya disiram dan dibenamkan ke dalam air dingin berkali-kali.

Kematian Mia mendorong para pakar menyeru kepada pemerintah agar melakukan perubahan besar-besaran dalam cara petugas menginvestigasi kasus kekerasan terhadap anak, termasuk kerja sama yang lebih baik antara polisi, guru dan petugas sosial.

“Kita harus mengakui bahwa kekerasan terhadap anak adalah masalah serius yang tidak dapat diatasi oleh hanya satu organisasi saja,” kata Keiji Goto, seorang pengacara, kepada lembaga penyiaran publik Jepang NHK seperti dilansir The Guardian Kamis (7/2/2019).

Menanggapi kasus kematian Mia, PM Shinzo Abe berjanji akan memberantas keekrasan terhadap anak. “Kita gagal merespon seruan minta tolong yang secara lantang disampaikannya,” kata PM Abe kepada para anggota parlemen pekan ini. “Sebagai pemerintah kita harus menanggapinya secara serius.”

Mia menuliskan perihal kekejaman ayahnya dalam sebuah daftar pertanyaan di sekolah akhir 2017. “Ayah saya sangat kejam terhadap saya,” tulisnya, setelah diyakinkan bahwa apa yang ditulisnya tersebut akan diperlakukan sebagai kerahasiaan. “Dia membangunkan saya tengah malam dan menendang serta memukuli saya. Guru, apakah ada yang bisa anda lakukan dalam masalah ini?”

Akan tetapi, karena ditekan oleh sikap agresif si ayah, anggota dewan pendidikan setempat menyerahkan apa yang ditulis Mia kepada ayahnya. Keputusan itu menurut para pakar justru bisa jadi memicu ayah Mia bertindak semakin brutal.

Mia sempat ditempatkan di tempat perlindungan, tetapi sebulan kemudian diserahkan kembali ke orangtuanya, setelah petugas mendapat jaminan bahwa ibunya akan berperan lebih banyak dalam merawat gadis kecil itu.

Sayangnya, menurut laporan media Jepang, petugas berwenang tidak terus memantau kondisi anak malang itu, sampai akhirnya dia ditemukan meninggal di kamar mandi.

Di Jepang, petugas kesejahteraan sosial dan polisi biasanya enggan untuk menyelidiki kasus-kasus kekerasan terhadap anak dan kekerasan dalam rumah tangga. Petugas sosial kerap mengeluh bahwa mereka kekurangan tenaga, tidak memiliki cukup wewenang untuk mengintervensi dan melindungi anak-anak ketika berhadapan dengan orangtua yang kejam terhadap anak-anaknya.

Tahun 2018 polisi melaporkan ada 8.104 dugaan kasus kekerasan terhadap anak, menurut data pemerintah yang dirilis hari Kamis (7/2/2019). Angka itu naik hampir 25% dari tahun sebelumnya.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !