Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Delegasi Indonesia Desak Status Kewarganegaraan Rohingya di IPU

ISTIMEWA
Wakil Ketua Badan Kerjasama antar parlemen (BKSP) Rofi' Munawar
Bagikan:

Hidayatullah.com– Anggota Delegasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Rofi’ Munawar secara tegas mendesak negara-negara yang menjadi pihak dalam Konvensi Pengungsi 1951 agar segera menuntaskan persoalan pengungsi, terutama terkait isu Rohingya.

“Indonesia bukan merupakan negara pihak dalam Konvensi 1951. Namun kita telah melaksanakan prinsip-prinsip yang terdapat dalam konvensi tersebut. Indonesia atas dasar kemanusiaan membuka akses bagi para pengungsi Rohingya, sementara Australia yang jelas-jelas merupakan negara pihak, malah mengesampingkan tanggung jawabnya dan menolak kedatangan pengungsi. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena Indonesia mulai kewalahan dan terkena dampak dari arus pengungsi Rohingya,” jelas  saat  Sidang Parlemen Sedunia (Inter-Parliamentary Union/IPU) ke-139  di Jenewa.

Wakil Ketua Badan Kerjasama antar parlemen (BKSP) ini menambahkan, sebagai negara penampung Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan pengungsi Rohingya, termasuk dalam hal kesehatan, pendidikan, dan aspek-aspek sosial-ekonomi lainnya.

“Penanganan pungungsi ini memerlukan biaya yang tidak sedikit, dan terus terang Indonesia mulai kewalahan karena kita juga memiliki prioritas dalam penggunaan anggaran negara. Krisis pengungsi ini merupakan hal yang tidak terduga sebelumnya,” kata Rofi’ dalam rilisnya yang diterima hidayatullah.com.

Baca:  DPR Sesalkan KTT ASEAN Tidak Bahas Rohingya

Dalam pertemuan Komisi Demokrasi dan HAM yang berlangsung pada 15 Oktober, Rofi menyerukan agar Pemerintah Myanmar memberikan status kewarganegaraan bagi etnis Rohingya.

“Satus kewarganegaraan ini merupakan hak mendasar bagi setiap individu. Tanpa status kewarganegaran yang jelas, etnis Rohingya akan terus menghadapi kekerasan, tekanan dan diskriminasi sistemik dari pemerintah Myanmar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rofi mengkritisi ASEAN yang dinilai tidak mampu mendesak Myanmar untuk menuntaskan persoalan Rohingya.

Baca: Mayoritas Parlemen Negara Muslim Bulat Tolak Kebijakan Trump

“Sangat disayangkan ketika ASEAN, atas dasar prinsip non-intervensi, seolah-olah menutup mata terhadap kekerasan dan pelanggaran HAM yang terjadi di wilayahnya,” kritik Rofi.

“Melalui forum multilateral seperti IPU, DPR RI berupaya untuk menyuarakan hal tersebut. Apa yang kita sampaikan di IPU dapat mendorong negara-negara lain untuk menekan pemerintah Myanmar agar menataati hukum humaniter internasional,” tutupnya.

Sebagai informasi, Konvensi Terkait Status Pengungsi, yang juga dikenal sebagai Konvensi Pengungsi 1951, adalah sebuah traktat multilateral Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendefinisikan status pengungsi, dan menetapkan hak-hak individual untuk memperoleh suaka dan tanggung jawab negara yang memberikan suaka.

Konvensi tersebut juga menetapkan orang-orang yang tidak memenuhi kriteria pengungsi, seperti penjahat perang. Selain itu, konvensi tersebut menyediakan hak perjalanan bebas visa untuk pemenang dokumen perjalanan yang dikeluarkan berdasarkan konvensi tersebut.*

Rep: Ahmad
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

AS Bangun Megah Pangkalannya di Bagram

AS Bangun Megah Pangkalannya di Bagram

Erdogan Dilantik Sebagai Presiden Turki Periode Kedua Hari Ini

Erdogan Dilantik Sebagai Presiden Turki Periode Kedua Hari Ini

Saudi Tak Akan Biarkan Pemberontak Syiah Houthi Ambil Alih Yaman

Saudi Tak Akan Biarkan Pemberontak Syiah Houthi Ambil Alih Yaman

Kartu Identifikasi Khusus untuk Muslim, Cetuskan Kemarahan di Marawi

Kartu Identifikasi Khusus untuk Muslim, Cetuskan Kemarahan di Marawi

Prancis Selidiki Menghilangnya Pelajar Berbakat Asal Senegal

Prancis Selidiki Menghilangnya Pelajar Berbakat Asal Senegal

Baca Juga

Berita Lainnya