Pemerintah Malaysia Larang Warga Asing Beli Forest City

Mahathir Mohammad menudu Najib Razak menjual kedaulatan pada asing dengan proyek ‘Hutan Kota’

Pemerintah Malaysia Larang Warga Asing Beli Forest City
MediaCorp

Terkait

Hidayatullah.com–Pengumuman Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr Mahathir Mohamad, bahwa orang asing dilarang membeli properti di Forest City di Johor untuk menciptakan kebingungan bukan di kalangan pengembang dan pembeli saja, bahkan pemerintah negara bagian Johor.

Mereka menginginkan lebih banyak rincian dan penjelasan tentang kebijakan pemerintah yang baru.

Pembangunan berhadapan daerah air senilai US $ 100 miliar yang menargetkan investor-investor asal China, kini dalam kondisi tidak menentu setelah Mahathir Mohamad hari Senin mengatakan bahwa orang asing dilarang membeli mana-mana properti tersebut.

Forest City atau “Proyek Hutan Kota” adalah pembangunan perumahan campuran yang diluncurkan pada tahun 2013, dengan menghadap Singapura dan terletak di daerah TPA di pantai Johor, wilayah paling selatan dari Semenanjung Malaysia.

“Yang pasti, kota yang akan dibangun itu tidak dapat dijual kepada orang asing. Kami tidak akan memberikan visa untuk orang datang dan tinggal di sini,” kata Mahathir kepada wartawan di Kuala Lumpur dikutip Berita Harian.

Dalam rancangan proyek tersebut, sekitar 700.000 orang akan tinggal di kompleks perumahan  yang akan memiliki taman, pusat perbelanjaan dan hotel serta menciptakan 220.000 pekerjaan dan berkontribusi sekitar RM200 miliar (US $ 50 miliar) untuk Produk Domestik Bruto Malaysia pada 2035.

Baca: 90 Persen Pembeli Properti ‘Forest City’ dari China

Mahathir mengatakan bahwa pemerintahnya keberatan dengan proyek karena dibangun untuk orang asing, bukan orang Malaysia sendiri.

“Kebanyakan orang Malaysia tidak mampu membeli apartemen,” katanya, mengacu pada laporan bahwa apartemen dua kamar di proyek itu dijual dengan harga awal US $ 170.000.

Namun, tidak jelas bagaimana Mahathir akan mencegah orang asing membeli properti dalam proyek itu, yang merupakan proyek patungan antara Country Garden Group yang terdaftar di bursa Hong Kong dan perusahaan lokal Esplanade Danga 88, perusahaan yang sebagian dimiliki oleh Sultan Johor, Sultan Ibrahim Ismail.

Perkembangan terbaru itu tampaknya mempengaruhi pengembang, kata agen real estate, dengan munculnya kontroversi susulan laporan bahwa sekitar dua pertiga pemilik unit hunian di Forest City sejauh ini adalah terdiri dari rakyat Cina. Investor lainnya berasal dari Indonesia, Dubai dan Thailand.

Baca: Mahathir Tegaskan Malaysia Tidak Mau Berutang pada China

Dalam tanggapannya, pengembang proyek Country Garden Pacificview (CGPV) hari Senin membantah bahwa mereka mengeluarkan status penduduk permanen kepada pembeli asing. Perusahaan bersikeras bahwa ia telah mematuhi semua hukum dan peraturan yang ditetapkan.

“Orang asing atau perusahaan asing dapat memperoleh tanah di Malaysia asalkan mereka tunduk pada persetujuan sebelumnya oleh Otoritas Negara,” kata CGPV dalam sebuah pernyataan.

Menurut perusahaan, komentar Mahathir “mungkin telah dikutip di luar konteks,” dan pejabat perusahaan sedang mencari klarifikasi dari Kantor Perdana Menteri.

Pernyataan Mahathir dinilai telah berdampak besar pada proyek, yang bekerja untuk memulihkan permintaan setelah Beijing memberlakukan aturan ketat pada arus keluar modal dan mata uang asing tahun lalu. Properti ini awalnya dipasarkan di China tetapi Country Garden mengalihkan fokusnya dengan menjual kepada investor asing lainnya.

Ketika memimpin koalisi oposisi untuk memenangkan kemenangan dalam pemilihan umum 9 Mei, Mahathir menargetkan Forest City dan proyek-proyek besar lainnya yang didukung oleh pembiayaan dari China. Dia berulang kali menuduh mantan mantan pemimpin, Najib Razak, menjual kedaulatan Malaysia ke China dengan mengizinkan orang asing untuk tinggal di negara itu melalui pembelian properti di Forest City. Najib membantah dakwaan ini.

Baca: Malaysia Tangguhkan 3 Proyek Besar China

Sebelum pemilihan umum, permintaan untuk apartemen Forest City dikurangi dengan penjualan turun 20 persen pada tahun 2017, menurut laporan Reuters.

Mahathir berada di China dari 17 Agustus untuk kunjungan resmi selama lima hari di mana ia bertemu dengan Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang untuk menegosiasikan kembali komitmen Malaysia terhadap investasi Beijing di negara itu selama di bawah pimpinan Najib, dengan menyatakan proyek itu biaya terlalu tinggi.

Mahathir mengatakan bahwa lahan Hutan Kota harus tetap menjadi wilayah Malaysia meskipun kepemilikan properti oleh orang asing, kata Barjoyai Bardai, analis keuangan di Pusat Internasional untuk Pendidikan Keuangan Islam.

“Dalam hal ini, pemerintah tampaknya mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi di negara-negara Afrika tertentu, serta di Sri Lanka, di mana konsekuensi dari salah urus dan pembelian strategis, seluruh kota menjadi milik asing,” kata Barjoyai kepada Real News. .

“Ini bisa menjadi masalah nanti karena ini adalah masalah kedaulatan nasional,” katanya.

Awang Azman Awang Pawi, analis politik dari Universitas Malaya, berkata bahwa Mahathir harus berhati-hati dalam membuat pernyataan yang bisa dilihat sebagai bertentangan dengan pernyataan resmi sebelumnya.

Analis melihat bahwa mengubah pernyataan dapat mempengaruhi kepercayaan investor asing.*

Rep: Ahmad

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !