Selasa, 16 Februari 2021 / 4 Rajab 1442 H

Internasional

Alasan Keamanan, Jerman Jegal Perusahaan China Beli Saham Perusahaan Listrik 50hertz

Bagikan:

Hidayatullah.com–Dengan mengutip alasan keamanan nasional, Jerman menjegal upaya perusahaan asal China membeli saham 50hertz, penyedia listrik yang diandalkan rakyat negara itu.

Dilansir DW, sebuah bank milik pemerintah diinstruksikan membeli 20 saham 50hertz, guna mencegah pembelian saham perusahaan itu oleh State Grid Corporation of China (SGCC).

Kementerian Perekonomian dan Keuangan Jerman mengumumkan pembelian saham itu hari Jumat (27/7/2018), dengan mengatakan bahwa keputusan tersebut didorong oleh alasan keamanan negara. Berlin “berkepentingan kuat untuk melindungi infrastruktur energi yang teramat penting,” kata pejabat kementerian dalam sebuah pernyataan.

Perusahaan distribusi listrik 50hertz menyuplai listrik untuk sekitar 18 juta orang di bagian utara Jerman.

Operator listrik Belgia, Elia, saat ini memiliki 100 persen saham 50hertz yang berbasis di Jerman, setelah membeli saham yang dikuasai IFM asal Australia.

IFM sampai awal tahun ini menguasai 40 persen saham 50hertz, ketika memberikan sinyal akan menjual 20 persen andilnya. SGCC yang disokong pemerintah Beijing dikabarkan berusaha membeli saham tersebut. Akan tetapi, pemerintah Jerman berhasil merayu Elia agar menggunakan hak “right of first refusal”, yang memberikannya prioritas dalam kesepakatan bisnis semacam itu. Perusahaan Belgia tersebut pada akhirnya setuju untuk menambah kepemilikan sahamnya dari 60 menjadi 80 persen.

IFM kemudian bergerak menjual sisa sahamnya 20 persen, yang langsung disambar oleh Elia. Hanya saja Elia tak lama kemudian langsung menjual saham itu ke bank milik pemerintah KfW.

Para pejabat Jerman mengatakan pembelian itu hanya bersifat sementara dan segera akan dilepas lagi, sehingga berisiko dibeli China apabila pemerintah Berlin tidak turun tangan untuk menguasainya.

50hertz memuji langkah pemerintah Jerman, dengan mengatakan bahwa hal tersebut menunjukkan pentingnya jaringan distribusi dalam infrastruktur vital negara itu.

Beberapa tahun terakhir, politisi dan pengusaha di negara-negara Eropa mengkritik keras China yang sangat bernapsu memasuki dan menguasai pasar serta infrastruktur Uni Eropa, sementara pada saat yang sama pemerintah Beijing berupaya keras mendepak perusahaan negara asing menguasai bisnis di negeri tirai bambu.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Israel Larang Mahathir Masuk Al-Quds

Israel Larang Mahathir Masuk Al-Quds

Najib Razak Apresiasi Kinerja, Nurul Izzah Berterima Kasih Raja Muhammad V Bebaskan Ayahnya

Najib Razak Apresiasi Kinerja, Nurul Izzah Berterima Kasih Raja Muhammad V Bebaskan Ayahnya

Preside Turki Berkunjung ke Amerika

Preside Turki Berkunjung ke Amerika

Kebakaran di California Utara Paksa Ribuan Orang Tinggalkan Rumah

Kebakaran di California Utara Paksa Ribuan Orang Tinggalkan Rumah

Pakistan Tangkap Informan CIA

Pakistan Tangkap Informan CIA

Baca Juga

Berita Lainnya