Selasa, 7 Desember 2021 / 2 Jumadil Awwal 1443 H

Internasional

Italia Tutup Pelabuhan Cegah Kapal Penyelamat Migran Berlabuh

Kapal Aquarius milik SOS Mediterranee penyelamat migran di Laut Mediterania..
Bagikan:

Hidayatullah.com—Menteri Dalam Negeri Italia yang baru menolak memberikan izin berlabuh kepada sebuah kapal penyelamat yang menolong 600 migran di lepas pantai Libya.

Matteo Salvini, yang juga merupakan ketua Partai Liga berhaluan kanan jauh, mengatakan Malta seharusnya yang memberikan kesempatan kapal Aquarius itu berlabuh, tetapi permintaannya ditolak.

Italia masih menjadi pintu masuk utama ke Eropa bagi migran Afrika yang menyeberang lewat laut.

Dilansir BBC, hari Ahad (10/6/2018) Salvini mengatakan bahwa Italia “berkata tidak kepada human trafficking, dan berkata tidak kepada binis imigrasi ilegal.”

“Malta tidak menampung siapa pun. Prancis mendorong orang balik ke perbatasan, Spanyol menjaga perbatasannya dengan senjata,” kata Salvini di laman Facebook, ingin menunjukkan ke publik bahwa negara-negara lain juga menolak kedatangan para migran, bukan hanya negaranya saja.

Kelompok penyelamat migran SOS Méditerranée, yang menjalankan kapal Aquarius, mengatakan bahwa sebanyak 629 migran berhasil diselamatkan dalam 6 operasi penyelamatan berbeda di lepas pantai Libya hari Ahad kemarin.

Jubir kelompok itu, Mathilde Auvillain, mengatakan kapal mereka menerima perintah agar mengarah ke utara dan sekarang “menunggu instruksi yang pasti.”

“Tujuan kami adalah melabuhkan dengan selamat 629 orang yang sekarang berada di atas kapal Aquarius –sebagian dari mereka yang kami selamatkan kemarin malam dalam kondisi sulit,” kata Auvillain seperti dikutip Reuters.

Komentar Salvini hari Ahad itu dikemukakan setelah perselisihan dengan Malta hari Jumat. Dia menuding pemerintah Malta tidak melakukan bagian dari tanggung jawabnya ketika kapal penyelamat Seefuchs terombang-ambing di laut ganas dengan 126 migran di atasnya.

Menurut lembaga swadaya masyarakat Sea Watch, Malta menolak memberikan bantuan kepada kapal tersebut, yang akhirnya diberi izin berlabuh di Pozzallo di Sicilia hari Sabtu.

“Tidak mungkin bagi Malta berkata ‘tidak’ terhadap setiap permintaan bantuan. Tuhan menempatkan Malta lebih dekat ke Afrika daripada Sisilia,” kata Salvini.

Pemerintah Malta membantah Sea Watch dan mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan semua tanggung jawabnya yang berkaitan dengan imigrasi.

Pekan lalu, Salvini mengatakan bahwa pemerintah Italia harus menambah deportasi para migran.

Mendagri Italia yang baru itu juga mengatakan pemerintah akan menambah jumlah pusat-pusat deportasi, serta membuat perjanjian dengan negara asal migran.

Pemerintah Italia juga menginginkan skema relokasi pencari suaka se-Uni Eropa, tetapi usulan itu telah ditolak sebagian negara anggota.

Tidak hanya itu, Salvini juga menyatakan sedang mempertimbangkan untuk menggugat hukum organisasi-organisasi yang menyelamatkan para migran di laut. Sebelumnya, dia sudah menuduh mereka kongkalikong dengan para penyelundup manusia.

Sebuah kesepakatan kontroverisal antara pemerintah Italia sebelumnya dengan otoritas di Libya menyebabkan penurunan tajam kedatangan migran secara keseluruhan sejak musim panas.

Meskipun demikian, pejabat-pejabat Italia mengatakan pihaknya telah meregister 13.500 migran tahun ini.*

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Tahun 2016 di Turki >4.500 Perusahaan Didirikan oleh Orang Asing Mayoritas Asal Suriah dan Iran

Tahun 2016 di Turki >4.500 Perusahaan Didirikan oleh Orang Asing Mayoritas Asal Suriah dan Iran

Muslimah Pertama yang Diburu FBI

Muslimah Pertama yang Diburu FBI

RS Penjara Mubarak Tidak Terdaftar

RS Penjara Mubarak Tidak Terdaftar

‘Israel’ Setujui 1.700 Pemukiman Haram Menyusul Pemilihan Umum yang Semakin Dekat

‘Israel’ Setujui 1.700 Pemukiman Haram Menyusul Pemilihan Umum yang Semakin Dekat

Uber mengubah Kehidupan Wanita di Arab Saudi [2]

Uber mengubah Kehidupan Wanita di Arab Saudi [2]

Baca Juga

Berita Lainnya