Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Kekerasan terus Terjadi, 36 Terbunuh dalam Bentrok dan Serangan Terbaru di Kashmir

Anadolu Agency
Para pengunjuk rasa bentrok dengan pasukan keamanan India di tengah gas air mata selama protes setelah tentara India menewaskan dua militan dan empat warga sipil di desa Pahnoo di distrik Shopian, di Kashmir, India pada 5 Maret 2018.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Meskipun operasi keamanan telah ditunda tiga bulan selama bulan Ramadan, setidaknya 36 orang, 16 kelompok pembebasan, 10 penduduk sipil dan 10 personel angkatan bersenjata terbunuh dan 15 serangan granat terjadi di sepanjang Kashmir.

Dalam serangan granat itu 40 orang, termasuk 17 personel angkatan bersenjata India terluka, demikian kutip economictimes.indiatimes.com.

Selama periode ini, para kelompok pembebasan berhasil melarikan diri dengan tujuh senapan dari empat titik berbeda.

Penyusupan itu, kata sumber kepolisian India, terjadi dengan cepat dan semua kelompok pembebasan yang terbunuh dalam 20 hari terakhir ditembak mati di distrik-distrik perbatasan. Sumber kepolisian mengklaim bahwa lebih banyak militan yang berhasil menyeberangi perbatasan. Pada 16 Mei, Kemendagri telah mengumumkan Operasi  Tempur Non Inisiasi (NICO) di Jammu dan Kashmir selama Ramadhan.

Kemudian diikuti oleh pernyataan Mendagri Rajnath Singh yang mengatakan India bersedia berurusan dengan Hurriyat dan Pakistan.

Baca: Mahasiswa Simbol Baru Penentangan Warga Kashmir terhadap India

Singh akan mengunjungi Jammu dan Kashmir pada minggu ini untuk meninjau keamanan Amarnath Yatra.

“Serangan ini menimbulkan tanda tanya terkait kemungkinan perpanjangan NICO. Namun, jika itu dilakukan, itu akan menjadi sebuah keputusan politik dalam pandangan Amarnath Yatra. Penegak hukum tidak akan senang dengan serangan ini dan apa yang sedang terjadi di wilayah militer,” seorang pejabat senior kepolisian mengatakan.

Kelompok pembebasan dituduh menggunakan IED atau bom rakitan sejak 2017 dan dalam tiga minggu terakhir, dua IED telah ditanam di Shopian dan Sopore.

Di Shopian, tiga personel militer terluka, sementara di Sopore, IED dapat dijinakkan. Ketua Menteri Jammu dan Kashmir Mehbooba Mufti berulangkali menyerukan Hurriyat untuk mengambil keuntungan dari penawaran genjatan senjata dan dialog dan menanggapinya secara positif.

Baca: India Tutup 22 Media Sosial di Kashmir

Sebagaimana diketahui, Kashmir, yang mayoritas ditempati Muslim, dikuasai India dan Pakistan dalam beberapa bagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh. Sepotong kecil wilayah Kashmir juga dipegang oleh Tiongkok.

Kedua negara telah tiga kali berperang – pada tahun 1948, 1965 dan 1971 – sejak mereka dipartisi pada tahun 1947, dua di antaranya memperebutkan Kashmir.

Begitupun di gletser Siachen, Kashmir utara, pasukan India dan Pakistan telah berperang beberapa kali sejak tahun 1984. Gencatan senjata mulai berlaku pada tahun 2003 lalu.

Beberapa kelompok Kashmir di Jammu dan Kashmir telah berperang melawan kekuasaan India untuk kemerdekaan atau untuk bersatu dengan negara tetangga Pakistan.

Dari peperangan tersebut, beberapa organisasi hak asasi manusia, mengatakan ribuan orang dilaporkan tewas dalam konflik sejak tahun 1989 silam.*/Nashirul Haq AR

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

56 Juta Warga Berpartisipasi dalam Pemilu Turki Hari Ini

56 Juta Warga Berpartisipasi dalam Pemilu Turki Hari Ini

Yordania Hadapi Krisis Akibat Blokade atas Qatar

Yordania Hadapi Krisis Akibat Blokade atas Qatar

Sebanyak 50 Juta Masker yang Dipesan Inggris untuk Nakes Tidak akan Dipakai karena Alasan Keselamatan

Sebanyak 50 Juta Masker yang Dipesan Inggris untuk Nakes Tidak akan Dipakai karena Alasan Keselamatan

Intelijen Amerika Merekam 100% Pembicaraan Telepon di Suatu Negara

Intelijen Amerika Merekam 100% Pembicaraan Telepon di Suatu Negara

Serangan Rusia terhadap Pejuang Idlib Suriah Merupakan ‘Pesan’ untuk Turki

Serangan Rusia terhadap Pejuang Idlib Suriah Merupakan ‘Pesan’ untuk Turki

Baca Juga

Berita Lainnya