Pemuda Malaysia Pilih Kakek Mahathir: Yang Penting Ganti Pemimpin

Pemuda Malaysia Pilih Kakek Mahathir: Yang Penting Ganti Pemimpin

Terkait

Hidayatullah.com—Mahathir Mohamad kembali menjadi perdana menteri Malaysia di usia 92 tahun, setelah 15 tahun “pensiun” dari panggung politik dan pernah memimpin negeri jiran itu selama lebih dari 20 tahun. Kemenangan koalisinya dalam pemilu 2018 ini diyakini karena dukungan suara anak-anak muda.

Dr. Mahathir Mohamad diambil sumpahnya sebagai perdana menteri yang baru hari Kamis (10/5/2018) oleh raja Malaysia Sultan Muhammad V. Perdana menteri tertua di dunia itu mengucapkan sumpah jabatan didampingi istrinya, Siti Hasmah Mohammed Ali.

“Ya, ya, saya masih hidup,” katanya di hadapan banyak orang dalam konferensi pers menyusul kemenangannya dalam pemilu yang yang digelar hari Rabu kemarin.

Meskipun nampak masih bugar di usia 92 tahun, kondisi kesehatan pemimpin Malaysia itu sebenarnya tidak terlalu bagus. Dia pernah mengalami dua kali serangan jantung.

Lantas kenapa banyak anak muda, yang diyakini sebagai kunci kemenangan koalisi Mahathir dalam pemilu bersejarah yang menyingkirkan Barisan Nasional dari kekuasaan setelah 60 tahun berkuasa, memilih kakek tua ini?

Anak muda mencakup 40 persen dari pemilih terdaftar di Malaysia. BBC mewawancarai beberapa anak muda yang ditemui di jalan, untuk mengetahui mengapa mereka memilih Mahathir sebagai pemimpin.

“Dia semacam figur orangtua di Malaysia. Jadi kami melihatnya seperti sosok kakek,” kata seorang gadis berambut panjang dan berbaju kuning.

“Saya kira usia tidak terlalu bermasalah. Saya lebih khawatir dengan rekam jejaknya. Ketika dulu dia (Mahathir) menjabat perdana menteri,” kata seorang lelaki muda bertopi. “Dia dulu otoriter … merontokkan sistem hukum, menangkap banyak disiden,” imbuhnya.

Jika Mahathir dulu begitu kontrovesial dalam memimpin, mengapa sekarang dia dipilih kembali?

“Keadaan semakin lama semakin memburuk. Dan ini benar-benar saatnya untuk berubah. Bagi kami kebanyakan generasi muda, kami ingin suara kami didengar,” kata seorang gadis berambut pendek yang tampaknya keturunan etnis Tionghoa.

“Ini saatnya melakukan hal yang berbeda. Kita tidak tahu dia akan [memimpin dengan] baik atau buruk. Namun, yang paling penting adalah sekarang akan ada perubahan,” tegas gadis berambut panjang dan berbaju kuning, sementara dua temannya berbaju hitam (seorang perempuan dan seorang laki-laki) mengangguk-angguk menyetujui perkataannya.

“Dia tahu dia sudah tua dan melewati banyak hal (berpengalaman), saya merasa ada agenda pribadi sangat kecil yang harus dibuktikannya,” kata pemuda berbaju hitam teman gadis berbaju kuning.

“Menurut saya dalam artian semangat timnya, skuatnya, dia sangat sangat muda dan penuh semangat,” kata pemuda berkacamata teman pemuda bertopi.

“Menurut saya perubahan tidak akan langsung nampak, tetapi memerlukan waktu. Ini merupakan langkah awal menuju ke sana,” kata wanita muda berkaos hitam teman pemudi berbaju kuning.

“Saya mengharapkan Malaysia baru yang modern. Malaysia yang seperti menjalani pernikahan yang benar-benar bersatu. Malaysia yang seperti apa yang seharusnya dan yang menjadi keinginan rakyat,” pungkas gadis keturunan Tionghoa.

Dalam wawancara itu terselip beberapa komentar “nakal” soal Mahathir.

“Dia seperti god father di Malaysia,” ujar si gadis berbaju kuning seraya diiringi tawa bersama teman-temannya.

“Dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau,” kata seorang pemuda yang fisiknya seperti keturunan Hindustan, seraya tersenyum.

Misi besar Mahathir maju dalam pemilu 2018 ini adalah untuk merontokkan pemerintahan anak didik politiknya, Najib Razak, yang terkontaminasi skandal korupsi miliaran dolar. Dan itu berhasil dilakukannya lewat koalisi bersama partai politik yang dibentuk oleh bekas anak didiknya, Anwar Ibrahim, yang dipenjarakannya dengan tuduhan sodomi setelah menyerukan reformasi di Malaysia.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !