Pemberontak Syiah Houthi Yaman Tembakkan Rudal Balistik ke Riyadh

Houthi terus mempertahankan hampir seluruh wilayah utaranya, dengan lebih dadi 18 juta penduduk sipil hidup di wilayah yang diduduki pemberontak

Pemberontak Syiah Houthi Yaman Tembakkan Rudal Balistik ke Riyadh
Reuters
Sebuah rudal balistik yang ditembakkan oleh pemberontak Houthi menciptakan kerusakan luas pada sebuah rumah di Riyadh

Terkait

Hidayatullah.com—Kelompok pemberontak Syiah al Houthi telah mengatakan pada Aljazeera bahwa mereka telah menembakkan rudal balistik jarak jauh menarget Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, sebagai balasan terhadap tiga tahun serangan udara di Yaman, negara paling miskin di Arab.

Muhammad al-Bukhaiti, juru bicara Houthi, mengatakan pemberontak menembakkan rudal Burkan 2H – rudal tipe Scud dengan jangkauan 800 km – menuju Riyadh pada Ahad, sebagai “respon terhadap pengeboman kota-kota Yaman, dan pengepungan rakyat Yaman”.

Bukhaiti mendesak Saudi untuk kembali pada meja perundingan, namun bersumpah kelompoknya tidak akan berhenti menembakan rudal hingga kerajaan menghentikan semua serangan udaranya.

Al Masirah, jaringan TV yang dijalankan oleh Syiah Houthi juga mengklaim bertanggungjawab atas serangan itu, dengan melaporkan bahwa pemberontak juga menembakkan rudal lain menarget bandara-bandara di Abha, Jizan dan Najran yang terletak di bagian selatan Arab Saudi.

Jaringan TV pemerintah Saudi melaporkan bahwa pertahanan anti-rudal telah mencegat salah satu rudal itu di bagian timur laut ibu kota, dengan beberapa video yang disebarkan di media sosial memperlihatkan pencegatan itu.

Baca: 60 Militan Syiah Houthi Tewas dalam Serangan Koalisi Pimpinan Houthi

Saudi Press Agency (SPA) melaporkan bahwa seorang pemukim Mesir terbunuh dalam serangan rudal itu – kematian pertama di Riyadh sejak operasi militer Arab Saudi dilancarkan tiga tahun lalu di Yaman.

SPA – mengutip juru bicara media Pertahanan Sipil di Riyadh, Mohammed Al-Hammadi – yang mengatakan bahwa pertahanan udara Saudi menembak jatuh tujuh rudal balistik yang ditembakkan Houthi. Sebelumnya pada Ahad, Abdul Malik al-Houthi, pemimpin pemberontak Syiah Houthi, bersumpah akan “menggunakan persenjataan jarak jauh” dan “merekrut lebih banyak petempur” dalam konflik dengan tetangga utaranya itu.

“Dalam tahun keempat perang, kami akan menggunakan sistem rudal yang lebih mutakhir dan lebih bermacam-macam yang akan mengalahkan semua sistem pertahanan udara orang Amerika dan non-Amerika dalam menarget Arab Saudi,” al-Houthi mengatakan dalam pidato panjangnya di televisi.

“Kami akan menggunakan Badr [rudal balistik jarak dekat] dan rudal Burkan, drone jarak jauh yang memiliki kemampuan militer  luar biasa. Kami akan mengaktifkan institusi militer dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya dan membuka lebih banyak kesempatan untuk merekrut anak-anak dan laki-laki rakyat kami untuk bertempur.”

Konflik pecah di sepanjang perbatasan

Serangan pada Ahad itu memperlihatkan bagaimana perang di Yaman semakin meluas melewati perbatasan sejak koalisi pimpinan Saudi memulai intervensi militernya pada 26 Maret, 2015.

Arab Saudi yang merasa khawatir karena kelompok Syiah dukungan Iran itu telah menguasai beberapa wilayah Yaman, dengan bantuan koalisi negara Arab mulai turun tangan untuk mengembalikan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, setelah Houthi menduduki ibukota, Sanaa, dan mengancam akan menaklukkan benteng terakhir pemerintah di Aden.

Sejak itu, Saudi telah melancarkan lebij dari 16.000 serangan udara, menyebabkan korban sipil massal dengan menarget pernikahan, rumah sakit dan upacara pemakaman.

Baca: Pemberontak al Houthi Ancam Blokir Jalur Laut Merah

Houthi terus mempertahankan hampir seluruh wilayah utaranya, dengan lebih dadi 18 juta penduduk sipil hidup di wilayah yang diduduki pemberontak.

Nabeel Khoury, seorang anggota senior non-penduduk di Rafik Hariri Center, menfatakan bahwa serangan rudal pada Ahad itu merupakan sebuah peringatan bahwa Houthi seharusnya tidak diremehkan.

“Houhi menarget Riyadh untuk menunjukkan bahwa mereka secara militer masih mampu, dan mereka tidak boleh diremehkan.

“Namun ini bukanlah pertanda baik mengingat [Putra Mahkota Saudi] Mohammed Bin Salman berada di Washington DC menemui Presiden AS Donald Trump. Keduanya mungkin telah membahas dorongan diplomatik untuk mengakhir perang, tetapi nampaknya kasus itu sebaliknya.

“Saudi terus melihat Iran ketika mereka berurusan dengan Yaman. Yang ini salah. Jika Saudi benar-benar ingin mengakhiri perang ini mereka akan melihat Yaman dengan cara yang akan mengakhiri konflik ini,” ujarnya.*/Nashirul Haq AR

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !