Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Internasional

Saudi dan Turki Halangi Langkah AS Masukkan Pakistan dalam ‘Daftar Diawasi’

Bagikan:

Hidayatullah.com–Arab Saudi, Turki dan China pada minggu ini membentuk trio dengan menghalangi sebuah langkah yang dipimpin AS untuk menempatkan Pakistan ke dalam daftar pengawasan pengirim dana teror internasional, ungkap laporan Wall Street Journal dikutip Middleeastmonitor.

Arab Saudi merupakan partner kerja sama AS, Turki merupakan sekutu yang memiliki perbedaan dalam konflik Suriah, dan China menentang mosi tersebut karena rivalitas Pakistan dengan India. Ketiga negara itu memiliki hubungan yang kuat dengan Pakistan, kerja sama secara militer, diplomatik, dan ekonomi.

Penolakan bersama terhadap mosi AS itu terjadi setelah Pakistan meminta dukungan, menghasilkan penundaan putusan selama tiga bulan.

Baca: 10.000 Tentara Saudi Dilatih di Pakistan

Amerika Serikat saat ini sedang berupaya membalikkan keputusan terkait daftar pengawasan dengan mengumpulkan dukungan dalam pertemuan Financial Action Task Force (FATF), sebuah organisasi internasional swasta yang memantau upaya negara-negara dalam memerangi pencucian uang dan pendanaan teror, di Paris kemarin.

Orang-orang yang terlibat dalam proses tersebut telah mengklaim bahwa voting baru untuk mengambil tindakan melawan Pakistan, dan bahkan tindakan untuk meningkatkan tekanan pada Arab Saudi, dapat terjadi hari ini.

Dalam upayanya memasukkan Pakistan ke dalam daftar pengawasan, Amerika Serikat didukung oleh sekutu-sekutu besarnya termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, yang semua merupakan bagian dari 35 negara dan dua organisasi regional yang membetuk keanggotaan FATF. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlanjut hingga besok.

Baca: Subuh yang “Telat” di Islamabad

Jika upaya lobi AS sukses dan Pakistan dimasukkan ke daftar negara “beresiko tinggi” yang tidak melakukan banyak dalam memerangi teror, hal itu bisa berdampak buruk pada ekonomi negara-negara Asia Selatan yang sedang berjuang sehingga menghalangi bank-bank dan perusahaan internasional yang berpotensi berinvestasi di sana.

Sejak Presiden Donald Trump menjabat pada tahun lalu, AS telah memimpin kampanye brutal melawan Pakistan dengan mengklaim bahwa negara itu tidak cukup keras dalam melawan terorisme di wilayahnya dan menuduhnya mendanai apa yang disebut AS ‘kelompok-kelompok teror’ di Afghanistan dan Kashmir. Dilupakannya sejumlah operasi militer Pakistan dalam perang melawan terorisme di perbatasan  telah menyebabkan AS menahan $2 miliar bantuan keamanan.

Pakistan telah menyangkal semua tuduhan mendanai terorisme dengan Kepala Staf Militer Jenderal Qamar Javed Bajwa yang mengumumkan bahwa tidak ada kamp pelatihan teroris di wilayah Pakistan.*/Nashirul Haq AR

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ayam Kentucky Tinggalkan Suriah

Ayam Kentucky Tinggalkan Suriah

Nepal Pidanakan Tradisi Hindu Mengisolasi Wanita Menstruasi

Nepal Pidanakan Tradisi Hindu Mengisolasi Wanita Menstruasi

Setelah Kritik Peran Turki di Libya, Presiden Prancis-Rusia Lakukan Pertemuan Virtual

Setelah Kritik Peran Turki di Libya, Presiden Prancis-Rusia Lakukan Pertemuan Virtual

Pengantin Baru India Dianjurkan Tidak Berponsel

Pengantin Baru India Dianjurkan Tidak Berponsel

Al Ikhwan Sertakan Kristen Koptik dalam Partai

Al Ikhwan Sertakan Kristen Koptik dalam Partai

Baca Juga

Berita Lainnya