Penyandang Cacat dan Pendaki Solo Dilarang Memanjat Puncak Everest

Pendaki berpengalaman asal Swiss, Ueli Steck, melayang nyawanya pada bulan April 2017 karena terpeleset saat Nuptse, puncak di sebelah Everest.

Penyandang Cacat dan Pendaki Solo Dilarang Memanjat Puncak Everest

Terkait

Hidayatullah—Nepal memberlakukan kebijakan keselamatan baru dengan melarang para pendaki solo dan orang-orang yang memiliki keterbatasan mendaki puncak Gunung Everest. Lebih dari 290 orang telah tewas ketika berusaha mencapai puncaknya.

Mulai hari Senin 1 Januari 2018, para pendaki asing di Nepal, termasuk mereka yang mendaki Everest, harus ditemani oleh seorang pemandu, dan orang-orang yang buta atau dua anggota tubuhnya cacat tidak diperbolehkan mendaki sama sekali.

Tidak jelas apakah pemerintah akan memperbolehkan pendaki asing yang bersertifikat akan diperbolehkan mendaki sendirian atau bertindak sebagai pemandu, lapor koran The Kathmandu Post seperti dilansir Deutsche Welle Sabtu (30/12/2017).

Menteri Pariwisata Nepal Maheshwor Neupane mengatakan peraturan tersebut direvisi agar pendakian Everest lebih aman dan menekan jumlah kematian. Lebih dari 290 orang kehilangan nyawanya saat berusaha mendaki Everest, puncak gunung tertinggi di dunia.

Pendaki berpengalaman asal Swiss, Ueli Steck, melayang nyawanya pada bulan April 2017 ketika terpeleset dan jatuh dari punggung bukit saat pendakian solo untuk mencapai Nuptse, puncak di sebelah Everest.

Kepada Kathmandu Post, Neupane juga mengatakan bahwa pemerintah akan secara ketat memeriksa rekam medis para pendaki guna memastikan bahwa mereka secara fisik layak untuk melakukan pendakian ke puncak gunung.

Larangan itu sepertinya akan membuat geram para pendaki solo kelas elit, yang menikmati pendakian gunung sendirian –bahkan tanpa membawa cadangan oksigen, serta yang menuding ekspedisi komersial merusak kesenangan mendaki dan menyebabkan kemacetan di jalur pendakian.

Sebagian pejabat Nepal juga khawatir larangan pendakian bagi penyandang cacat akan dituding oleh pihak-pihak lain sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia.

Pendaki asal Selandia Baru Mark Inglis, yang kehilangan dua kakinya akibat gigitan suhu dingin, menjadi penyandang cacat ganda pertama yang mencapai puncak Everest setinggi 8.848 meter di tahun 2006.

Tunanetra warga Amerika Serikat Erik Weinhenmayer mendaki Everest pada bulan Mei 2001 dan kemudian menjadi tunanetra satu-satunya yang berhasil mencapai 7 puncak gunung tertinggi dunia.

Hampir 450 pendaki, 190 orang asing dan 259 orang Nepal, berhasil mencapai puncak Everest dari sisi selatan di Nepal tahun lalu.*

Rep: Ama Farah

Editor: Dija

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !