Kamis, 9 Desember 2021 / 5 Jumadil Awwal 1443 H

Internasional

Sekitar 6.700 Muslim Rohingya tewas dalam waktu sebulan, kata MSF

Hidayatullah.com/GBC
Bagikan:

Hidayatullah.com–Sedikitnya 6.700 umat Muslim Rohingya tewas dalam waktu satu bulan setelah maraknya kekerasan di Myanmar pada Agustus lalu, seperti diungkapkan badan sosial Medecins Sans Frontieres, MSF.

Jumlah korban yang didasarkan pada survei terhadap pengungsi di Bangladesh itu jauh lebih tinggi dari angka resmi 400 jiwa yang dikeluarkan oleh pemerintah Myanmar.

MSF mengatakan korban yang mencapai ribuan itu merupakan ‘indikasi terjelas sejauh ini tentang meluasnya kekerasan’ oleh pihak berwenang Myanmar namun militer Myanmar membantah dan menuding kekerasan dilakukan oleh ‘teroris’.

Sejak serangan atas sejumlah pos polisi oleh kelompok militan Rohingya, Agustus lalu, sekitar 647.000 orang Rohingya -berdasarkan perkiraan MSF- mengungsi ke Bangladesh untuk menghindari aksi kekerasan oleh aparat keamanan Myanmar maupun kelompok nasionalis Budha.

Baca: Pengungsi Rohingya Akan Dipulangkan, PBB Justru Cemas

Menurut MSF, temuannya memperlihatkan sedikitnya 9.000 umat Muslim Rohingya tewas di Myanmar dalam periode 25 Agustus hingga 24 September.

“Dengan perkiraan yang paling konservatif, sedikitnya 6.700 dari korban yang tewas itu diakibatkan kekerasan, termasuk 730 anak-anak berusia di bawah lima tahun,” seperti dalam pernyataan MSF dikutip BBC.

Militer Myanmar menggelar operasi keamanan setelah kelompok gerilyawan Rohingya, ARSA, menyerang lebih dari 30 pos polisi namun membantah mereka membunuh warga sipil, membakar kampung-kampung Rohingya, maupun memperkosa perempauan Rohingya dan dan mencuri harta bendanya.

“Yang kami temukan itu mengejutkan, baik dari sisi jumlah orang yang dilaporkan anggota keluarganya meninggal akibat kekerasan dan juga dari laporan tentang mengerikannya cara korban tewas atau yang luka parah itu,” kata Direktur Medis MSF, Sidney Wong.

Militer Myanmar menggelar operasi keamanan setelah kelompok gerilyawan  Rohingya, ARSA, menyerang pos polisi yang dibalas aksi berlebihan dalam operasi pembersihan etnis.

“Yang kami temukan itu mengejutkan, baik dari sisi jumlah orang yang dilaporkan anggota keluarganya meninggal akibat kekerasan dan juga dari laporan tentang mengerikannya cara korban tewas atau yang luka parah itu,” kata Direktur Medis MSF, Sidney Wong.

Wong menambahkan jumlah yang tewas itu ‘kemungkinan perkiraan yang rendah karena survei tidak melibatkan semua pengungsi yang berada di Bangladesh’.

Baca: Amnesti: Pembersihan Etnis Rohingya adalah ‘Apartheid’

Selain itu survei juga tidak dilakukan atas keluarga Rohingya yang tidak berhasil mengungsi ke luar dari Myanmar.

Umat Muslim Rohingya, yang sebagian besar tinggal di negara bagian Rakhine, tidak pernah diakui sebagai warga negara Myanmar karena dianggap sebagai pendatang gelap dari Bangladesh.

Pemerintah Myanmar juga tidak pernah menyebut mereka sebagai Rohingya namun Muslim Benggali.

Dalam kunjungan Paus Fransiskus akhir November lalu ke Myanmar, dia juga disarankan oleh Uskup Agung Yangon, Kardinal Charles Maung Bo, agar tidak menggunakan kata Rohingya sepanjang lawatannya di negara itu.

Baru setelah berada di Bangladesh -tujuannya setelah Myanmar- Paus menggunakan istilah Rohingya bagi para pengungsi dari negara bagian Rakhine tersebut.*

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Bui 5 Tahun Untuk Pria Vietnam Penyebar Coronavirus

Bui 5 Tahun Untuk Pria Vietnam Penyebar Coronavirus

560 Mahasiswa Indonesia Dilibatkan Menjadi Pelayan Haji Tahun Ini

560 Mahasiswa Indonesia Dilibatkan Menjadi Pelayan Haji Tahun Ini

M16: Saddam Mungkin Selamat

M16: Saddam Mungkin Selamat

Komentar Ulama-ulama Dunia Mengenai Kembalinya Hagia Sophia Sebagai Masjid

Komentar Ulama-ulama Dunia Mengenai Kembalinya Hagia Sophia Sebagai Masjid

39 Negara Mendesak Akses Pengamat Hak Asasi terhadap Wilayah Xinjiang

39 Negara Mendesak Akses Pengamat Hak Asasi terhadap Wilayah Xinjiang

Baca Juga

Berita Lainnya